Gairah Sang Pembantu Muda

Gairah Sang Pembantu Muda
Bu Ririn mencari tahu Ke Desa


__ADS_3

" Maaf Buk, saya tidak berani untuk bercerita lagi. " Jawab Erna.


" Tidak apa apa Erna, kalau kamu tidak bercerita kepada saya, saya tidak akan tahu Erna, apalagi ini semua juga penting bagi keluarga saya. "


" Tttapii Buuuk,, "


" Tidak apa apa Erna, ceritakan saja semua kepada saya! " Pinta Bu Ririn dengan agak memaksa.


" Baiklah Buk saya akan bercerita, Pak Damar juga sering menagih kepada warga Desa kami dengan kejam Buk bersama dengan para anak buahnya, selain itu anak buah Pak Damar juga tidak segan memukuli warga kalau mereka tidak bisa membayar hutangnya, harta benda mereka juga sering diambil paksa sebagai ganti kepada Pak Damar. "


" Kenapa saya bisa tidak tahu dengan hal itu. " Ujar Bu Ririn dengan raut wajah kecewa."


Erna pun hanya tertunduk diam dan merasa bersalah karena sudah menceritakan tentang hal ini kepada Bu Ririn.


Perasaan Erna campur aduk, antara penyesalan dan juga rasa takut yang amat dalam, karena takut Pak Damar akan mengetahui hal ini.


" Erna apakah kamu mau membantu saya? " Tanya Bu Ririn.


" Membantu dalam hal apa Buk? " Tanya Erna dengan kebingungan.


" Saya minta tolong kepada kamu untuk mengantarkan saya lahan tersebut dan juga ke rumah para warga disana, saya ingin melihat semua ini dengan mata kepala saya sendiri, karena jujur dalam hati saya benar-benar tidak percaya kalau suami saya bisa setega itu. " Pinta Bu Ririn dengan lirih.


" Eee, Maaf Ibuk, bukannya saya tidak mau, tapi saya benar benar tidak berani Buk, saya takut kalau Pak Damar tahu kalau saya cerita kepada Ibuk, Pak Damar akan melakukan sesuatu kepada orang tua saya, saya benar-benar tidak mau hal itu terjadi Buk. " Jawab Erna yang semakin merasa takut.


" Baiklah Erna kalau kamu tidak mau mengantarkan saya tidak apa apa, saya akan mencari tahu sendiri. " Jawab Bu Ririn.


" Maafkan saya Buk, dan tolong ya Buk, jangan sampai Pak Damar tahu kalau saya yang bercerita kepada Ibuk. " Pinta Erna yang sudah ketakutan.


" Iya, terimakasih sudah memberitahu kepada saya tentang hal ini Erna, mungkin kalau kamu tidak bercerita saya tidak akan pernah tahu dengan kelakuan suami saya diluar sana. "


Keesokan harinya, benar saja, Bu Ririn nekat mencari tahu dengan membuntuti mobil Pak Damar sendirian.


Anton yang melihat Bu Ririn nampak tergesa-gesa pun ikut kebingungan.


" Mau kemana Bu Ririn jam segini? tumben kok kaya terburu buru gitu setelah Pak Damar pergi? " Gumam Anton.


Erna yang hendak pergi kepasar pun jadi memperhatikan Anton yang sedang berdiri di teras rumah dan seperti sedang memperhatikan sesuatu.


" Mas, Mas Anton. " Panggil Erna sambil menepuk badan Anton yang sedang melamun.


" Ehhh, kamu bikin aku kaget saja. " Jawab Anton yang terkejut.

__ADS_1


" Lihat apa sih sampe serius kaya gitu? " Tanya Erna.


" Itu loh tadi aku lihat Bu Ririn kok kaya buru buru banget gitu, dan anehnya lagi Bu Ririn itu perginya kaya nunggu Pak Damar pergi dulu, kaya mau ngikutin mobilnya Pak Damar. "


" Emangnya Ibu tidak bilang apa apa Mas? "


" Boro boro bilang, orang aku mau tanya saja orangnya keburu sudah pergi. "


" Hemm, ya sudahlah Mas, barangkali Ibuk ada urusan penting yang harus di selesaikan sekarang. "


" Iya deh. " Jawab Anton.


" Ngomong omong kamu mau ke pasar ya? " Sambung Anton.


" Iya Mas, soalnya Bi Sumi tadi kepalanya agak pusing katanya, jadi aku yang ke pasar hari ini. " Jawab Erna.


" Oh, yaudah aku anter yuk. " Ajak Anton.


" Tidak usah Mas, tidak apa apa saya bisa pergi sendiri kok. "


" Beneran? " Tanya Anton untuk meyakinkan.


" Iya beneran, Mas Anton di rumah saja sekalian jagain Bi Sumi, takutnya nanti kalau Bi Sumi kenapa kenapa Mas. "


" He'em. " Jawab Erna sambil menganggukkan kepalanya.


Erna pun segera pergi ke pasar, dijalan Erna juga kepikiran kemana Bu Ririn pergi, apakah benar ia mengikuti Pak Damar untuk mencari tahu?


Erna merasa jadi tidak tenang, ia merasa takut kalau semua yang ia ceritakan kepada Bu Ririn akan diketahui oleh Pak Damar.


.....


Bu Ririn semakin penasaran kemana Pak Damar akan pergi, kenapa sampai membawa bodyguard segala? dan perginya pun terlihat tergesa-gesa.


" Papah ini sebenarnya mau kemana sih? seperti buru buru sekali, mana enggak bilang lagi mau kemana, apakah benar apa yang dikatakan Erna semalam? " Gumam Bu Ririn dengan melajukan mobilnya dengan kencang.


Setelah memasuki sebuah perkampungan, mobil Pak Damar berhenti, dan Pak Damar turun bersama dengan para bodyguardnya, berjalan menuju sebuah ladang pertanian.


Bu Ririn pun berjalan membuntuti nya agak jauh karena takut kalau ketahuan oleh suaminya.


Bu Ririn pun bersembunyi dibalik mobil suaminya, sambil menguping apa yang dibicarakan oleh Pak Damar disitu.

__ADS_1


Kemudian terlihat satu pria yang menyambut kedatangan Pak Damar.


" Siapa lelaki itu? dia terlihat akrab sekali dengan suamiku, apa mungkin dia yang di percayai untuk memegang lahan disini? " Gumam Bu Ririn.


Setelah beberapa waktu Pak Damar ngobrol dengan Pak Sandi, datanglah seorang lelaki paruh baya.


" Permisi Pak Damar, saya ingin meminjam uang sebesar 50juta untuk mengobatkan anak saya Pak, apakah bisa? " Tanya lelaki paruh baya tersebut.


" Bisa, tapi apakah kamu siap dengan bunga dan tempo yang saya berikan? " Jawab Pak Damar.


" Baik Pak, berapapun bunganya akan saya bayar Pak, yang penting saya bisa mendapatkan uang itu Pak. " Ujar lelaki paruh baya dengan lirih.


" Heri, ambilkan uangnya di mobil. " Ujar Pak Damar menyuruh anak buahnya untuk mengambil uang.


" Baik Bos. " Jawab Heri anak buah Pak Damar.


Bu Ririn yang mendengar Heri akan ke mobil, Bu Ririn segera menjauh dari mobil suaminya, karena takut kalau ketahuan oleh Heri.


" Krekkkk. " Saat bersembunyi Bu Ririn tidak sengaja menginjak ranting yang kering disitu.


" Aduhhhh. " Gerutu Bu Ririn didalam hati, sambil memegang dadanya yang berdetak begitu kencang karena ketakutan.


" Suara apa itu? " Ujar Heri yang merasa curiga.


Heri pun mencari suara tersebut disekitarnya.


Bu Ririn semakin ketakutan karena Heri semakin mendekati persembunyiannya.


" Herrr.. " Suara Pak Damar memanggil Heri.


" Iya Bos, sebentar. " Akhirnya Heri pun meninggalkan lokasi tersebut.


Bu Ririn pun merasa lega karena persembunyiannya tidak jadi di ketahui oleh Heri.


" Ini Bos uangnya. " Ujar Heri sambil memberikan uang yang diambilnya.


" Kamu harus ingat, kamu harus mengembalikan uang ini sesuai perjanjian kita, kalau tidak, kamu tahu sendiri konsekuensinya. " Ujar Pak Damar memberi wejangan kepada Pak Seno.


" Baik Pak saya ingat. " Jawab Pak Seno.


" Ya sudah ini uangnya. " Ujar Pak Damar sambil memberikan uang itu kepada Pak Seno.

__ADS_1


" Baik Pak terimakasih, kalau gitu saya permisi dulu Pak. " Pamit Pak Seno.


__ADS_2