
Setiap Bu Ririn bertanya tentang apa yang di sembunyikan oleh Erna, Erna selalu nampak tertekan, seperti ada yang menyuruhnya untuk tidak berbicara tentang hal ini.
" Erna, kamu benar benar tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan dari saya? " Tanya Bu Ririn.
" Tidak Bu, saya tidak menyembunyikan apa apa kok. " Jawab Erna.
" Tapi Mah, Dinda sering lihat Mbak Erna menangis loh dikamarnya. " Sambung Dinda.
" Benarkah itu Erna? " Tanya Bu Ririn kembali.
" Tidak kok Buk, mungkin Non Dinda salah lihat. " Jawab Erna yang masih mencoba mencari alasan.
Sudah berbagai cara Bu Ririn lakukan agar Erna mau bercerita, mulai dari Bu Ririn yang mencoba memancing Erna dengan membelanjakan apa yang Erna mau, sampai makan sampai bertanya apa yang ia mau, namun nyatanya Erna benar benar tidak mau bercerita sama sekali, Bu Ririn pun berniat akan mencari tahu lebih dalam.
Tak lama kemudian mereka pun pulang ke rumah, Anton yang melihat Erna diajak belanja Bu Ririn pun juga terkejut melihatnya, apalagi Erna juga di belanjakan banyak sekali oleh Bu Ririn.
" Tumben sekali Erna diajak pergi Bu Ririn. " Gumam Anton dalam hatinya.
Tanpa basa basi Anton pun langsung membantu membawakan belanjaan mereka.
" Anton itu yang di bagasi bantuin bawain ke kamar Erna ya. " Perintah Bu Ririn kepada Anton.
" Ee tidak usah Buk, saya bisa membawanya sendiri kok. " Sambung Erna.
" Udah nggak apa apa biar aku bantuin. " Ujar Anton.
" Iya, biar di bawain Anton aja, kan kamu capek tadi katanya muter muter di mall. " Sambung Bu Ririn.
" Baik Buk, terimakasih sekali Buk untuk semua barang barang ini. " Ujar Erna kepada Bu Ririn.
" Iya sama sama. " Jawab Bu Ririn.
__ADS_1
Anton pun semakin keheranan ketika melihat semua barang Erna yang di belanjakan Bu Ririn sangat banyak sekali.
" Erna, tumben kamu diajak belanja, di belanjain sebanyak ini pula? " Tanya Anton.
Jam 01.00 dini hari Bu Ririn hendak ke dapur untuk mengambil minum, dan saat ia melewati kamar Erna, Bu Ririn seperti mendengar isak seseorang, dan Bu Ririn pun curiga kalau yang menangis itu adalah Erna.
Bu Ririn pun langsung mendekati pintu kamse Erna untuk memastikan, dan benar saja, Erna sedang menangis saat itu.
Pintu Erna saat itu tidak di kunci, dan Bu Ririn membuka pintu itu sedikit dan mengintip dari celah pintu.
Terlihat Erna yang saat itu sedang memandang sebuah foto.
" Foto siapa itu? apakah itu keluarga Erna? apakah Erna menangis karena merindukan keluarganya? " Gumam Bu Ririn dalam hatinya.
Ketika Bu Ririn hendak meninggalkan kamar Erna.
" Pak, Buk, seandainya Erna mempunyai uang yang banyak untuk membayarkan hutang kita kepada Pak Damar, mungkin tidak akan begini jadinya. " Gerutu Erna di dalam kamar.
Bu Ririn yang mendengar kata kata Erna tersebut langsung menghentikan langkah kakinya, ia kembali mendekati pintu kamar Erna untuk mengetahui lebih lanjut.
Mendengar suara Erna seperti itu, Bu Ririn merasa iba dan tidak tega melihat Erna, akhirnya Bu Ririn mengetuk kamar Erna dan berniat untuk menenangkan Erna, sekaligus menanyakan maksud dari kata kata Erna tadi.
" Tok tok tok tokk. " Suara ketukan Pintu.
" Erna, ini Bu Ririn. " Suara Bu Ririn dari balik pintu.
Mendengar suara Bu Ririn, Erna terkejut dan langsung mengusap air matanya, dan segera membukakan pintu untuk Bu Ririn.
" Oh ibuk, ada apa ya buk? " Tanya Erna yang keheranan.
" Kamu baik baik saja Erna? " Tanya Bu Ririn sambil mengusap lembut kepala Erna.
__ADS_1
" Iya Buk, saya baik baik saja. " Jawab Erna yang takut kalau Bu Ririn mendengar tangisannya.
" Tidak usah berbohong Erna, saya tahu kamu sedang menangis, tadi saya tidak sengaja mendengar suara kamu, dan juga saya tidak sengaja mendengar kamu mengatakan bahwa orang tua kamu mempunyai hutang dengan Suami saya, maksudnya apa ya? "
" Emm, mungkin Ibuk salah dengar, saya tidak mengatakan seperti itu kok Buk. " Jawab Erna yang mencoba menutupi.
" Kamu tidak usah berbohong Erna, saya memang tidak salah dengar kok, saya benar benar mendengar jelas apa yang kamu katakan. " Ujar Bu Ririn mendesak Erna agar ia mau bercerita.
" Emmm, tapi Buk, saya takut sama Bapak. " Ujar Erna dengan raut wajah takut.
" Sudah tidak apa apa. " Jawab Bu Ririn.
" Tidak Buk, saya tidak berani. "
" Kamu mau katakan, atau kamu saya pecat dari sini? " Tegas Bu Ririn.
" Eee, jangan Buk, baiklah saya akan mengatakan kepada Ibuk, tapi Ibuk janji ya jangan bilang ini sama Pak Damar. " Pinta Erna.
" Baiklah Erna, saya akan menjaga rahasia ini sebisa saya. "
" Jadi sebenarnya saya kerja disini bukan karena saya yang mau Buk, tapi saya karena orang tua saya mempunyai hutang kepada Pak Damar dengan nominal yang cukup besar beserta bunganya,,, " Belum sampai Erna melanjutkan ceritanya, Bu Ririn terkejut dan langsung memotong cerita Erna.
" Hutang? hutang apa ini maksudnya? kenapa berbunga?? " Tanya Bu Ririn dengan keheranan.
" Eee, maaf Buk jangan keras keras, saya takut kalau Pak Damar mendengar semua ini. "
" Oh iya maaf saya reflek, itu hutang apa Erna? dan dimana orang tua kamu bertemu dengan Pak Damar dan bisa berhutang kepada Pak Damar? dan kenapa bisa? " Tanya Bu Ririn yang semakin penasaran.
" Karena Pak Damar itu adalah pemilih lahan terbesar Di Desa kami, dan memiliki karyawan paling banyak Di Desa kami, selain itu Pak Damar juga menawarkan orang orang Di Desa kami untuk meminjam uang dengan Beliau Buk, dan dengan syarat ada bunga sekian persen dari pinjaman tersebut Buk, dan orang tua saya juga kebetulan meminjam uang kepada Pak Damar, karena saat itu Ibu saya sedang sakit keras jadi membutuhkan biaya besar untuk berobat Buk, namun sayangnya kami tidak bisa mengembalikan uang Pak Damar yang kami pinjam dengan tempo yang sudah di sepakati, jadi Pak Damar meminta saya untuk bekerja dirumah ini tidak dibayar sampai perkiraan hutang kami lunas Buk. " Ujar Erna menjelaskan dengan terpatah patah.
Seketika Bu Ririn langsung lemas setelah mendengar penjelasan Erna.
__ADS_1
" Buk, Ibuk tidak apa apa? " Tanya Erna yang mulai khawatir.
" Saya benar benar tidak tahu dengan hal itu Erna, mengapa suami saya bisa setega itu kepada orang orang, dan setahu saya suami saya memang membeli lahan pertanian cukup besar, tapi saya benar benar tidak tahu menahu tentang seperti yang kamu ini Erna, apakah masih banyak lagi orang orang yang di perlakukan seperti kamu? dan tolong beritahu kepada saya Erna, apa saja yang suami saya lakukan disana. " Ujar Bu Ririn sambil mengusap air matanya.