
Bu Ririn tidak menyangka kalau putrinya akan masuk rumah sakit seperti ini, ia merasa sangat bersalah kepada anaknya, karena telah meninggalkan Dinda bekerja diposisi Dinda yang masih sakit.
Bu Ririn pulang lebih dulu, karena Pak Damar belum bisa ikut pulang sekarang, jadi nanti Pak Damar akan segera menyusul Bu Ririn ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit Bu Ririn tak kuasa menahan tangis melihat gadis kecilnya kini terbaring tak berdaya, hati ia hancur melihat anak sekecil itu dipasangi beberapa selang infus di badannya, Bu Ririn memeluk tubuh kecil Dinda dan meminta maaf kepadanya, kalau akhir-akhir ini ia jarang memperhatikan Dinda.
" Sudah Buk, sabar ya, Non Dinda sudah mendapatkan perawatan disini, pasti Non Dinda nanti segera sembuh. " Ujar Erna dengan halus.
Bu Ririn tidak menggubris omongan Erna, ia terus memeluk tubuh putrinya itu.
Anton dan Erna juga turut bersedih melihat keadaan Dinda seperti ini.
" Mas Anton, bagaimana ini? saya tidak tega melihat Bu Ririn menangis seperti itu. " Ujar Erna berbisik bisik kepada Anton.
" Aku juga tidak tahu Erna, biarkan saja dulu beliau menangis, nanti kalau hatinya sudah lega pasti ia akan tenang. " Jawab Anton.
Erna menjadi teringat ketika ibunya berada dirumah sakit, namun Erna tidak bisa melakukan apa apa, dan ia menjadi kepikiran dengan keadaan orang tuanya di rumah sekarang.
Hari ke tiga dirumah sakit keadaan Dinda semakin memburuk, ketika Dinda bangun, ia menanyakan mengapa kakaknya belum menjenguknya disini, Bu Ririn pun menjawab bahwa kakaknya sedang sibuk di kota dan belum bisa kesini, Dinda mengatakan bahwa ia sangat rindu dengan kakak laki lakinya itu, Dinda meminta kepada mamahnya untuk menelfon kan Daniel, namun tiga kali panggilan belum terjawab juga oleh Daniel, Bu Ririn mencoba menghubungi sekali lagi, dan akhirnya telfonnya di angkat oleh Daniel, Dinda langsung meminta ponsel mamahnya untuk segera berbicara dengan kakaknya.
" Kakak, kenapa kakak belum menjenguk Dinda disini? apa kakak sudah tidak sayang lagi dengan Dinda? " Ujar Dinda yang berlinang air mata.
" Tidak begitu Dinda, kakak masih banyak kerjaan disini, maafin kakak ya belum bisa jenguk Dinda disana. "
" Ternyata kakak lebih sayang dengan kerjaan kakak daripada sama Dinda. " Ujarnya yang merajuk.
" Iya, nanti kalau kakak ada waktu nanti kakak kesana ya jengukin Dinda, Dinda mau dibawain apa? "
" Dinda tidak mau minta apa apa, Dinda cuma minta kakak kesini temenin Dinda, Dinda kangen sekali dengan kakak, kalau kakak tidak kesini Dinda tidak mau makan, biarkan saja Dinda tambah sakit! "
" Jangan bilang begitu dong, ya sudah ya sudah besok kakak ambil cuti biar bisa jengukin Dinda ya, tapi Dinda harus makan ya, nanti kalau tidak makan Kak Daniel tidak akan kesana. "
" Baiklah. " Jawab Dinda dengan riang gembira.
Daniel pun memutuskan untuk ambil cuti dihari esok, Daniel segera mengabari Jessica istrinya kalau Dinda sedang berada dirumah sakit, Daniel meminta istrinya agar mengambil cuti, namun Jessica menolaknya dengan alasan banyak job dihari esok, tapi Daniel tetap memaksa Jessica untuk mengambil cuti, tapi Jessica tetap menolaknya dan tetap ingin bekerja.
__ADS_1
Daniel sebenarnya ingin beberapa hari dirumah orang tuanya, namun lagi lagi Jessica menolaknya dengan alasan pekerjaan, akhirnya terjadilah perdebatan diantara mereka.
" Kenapa sih kamu itu tidak mau dirumah mamah sementara, sampe Dinda sembuh saja kok susah banget. " Ujar Daniel yang kesal.
" Loh kok kamu begitu sih mas?, kamu kan tahu sendiri kalau kerjaan aku itu banyak sekali, harusnya kamu mengerti dong. " Jawab Jessica.
" Dinda itu adik aku satu satunya loh, keluarga aku juga keluarga kamu juga, masak iya kamu lebih mentingin kerjaan kamu dari pada keluarga sendiri. "
" Iya mas aku tau, tapi namanya kalau masih sibuk gimana sih. "
" Ya sudah kalau kamu tidak mau ikut tidak apa apa terserah kamu saja. " Ujar Daniel yang tidak mau berdebat lagi.
" Apa begini saja, Mas duluan pulang kerumah mamah untuk jengukin Dinda, nanti aku menyusul kesana? " Ujar Jessica yang mencoba membujuk suaminya supaya tidak marah kepadanya.
" Terserah kamu saja, aku capek mau tidur. " Jawab Daniel yang sudah kehilangan moodnya.
Hari sudah berganti pagi, Daniel segera mengemasi pakaian yang akan dibawanya, Ketika Daniel selesai mandi Jessica belum bangun juga dari tidurnya, bagi Daniel hal ini sudah biasa, Daniel memang selalu bangun lebih awal dari pada Jessica, Daniel segera membangunkan Jessica untuk mengajaknya sarapan dan berpamitan, tapi Jessica susah sekali dibangunkan dan malah kembali tertidur.
" Jess ayo bangun, sarapan dulu nanti keburu siang, aku kan juga mau berangkat ke rumah mamah hari ini. " Ujar Daniel sambil membangunkan Jessica.
" Arghh, Mas sarapan duluan saja, aku masih mengantuk, kalau mau berangkat, ya berangkat sajalah. " Ujarnya dengan mata tertutup.
Selesai sarapan Daniel ingin berpamitan dengan Jessica, Namun dilihat Jessica masih tertidur, ia mengurungkan niatnya dan bergegas pergi, Daniel hanya berpamitan melalui chating Whatsapp saja.
Daniel berangkat dengan perasaan kesal, dia merasa Jessica benar benar tidak perduli dengannya.
Beberapa jam kemudian Daniel sampai dirumah sakit tempat Dinda dirawat, Daniel langsung menuju ruangan Dinda, ketika Daniel masuk Erna yang saat itu sedang menemani Dinda terkejut ada seorang pria tampan yang masuk ke ruangan Dinda, Erna seperti tidak asing dengan wajah pria tersebut, Erna mencoba mengingat wajah pria tersebut, ya ternyata itu adalah pria tampan di foto keluarga Pak Damar.
" Loh, kamu siapa? " Tanya Daniel.
" Saya Erna Pak, maaf Bapak siapa ya? " Tanya Erna yang pura pura tidak tahu.
" Saya kakaknya Dinda, La kamu kok bisa ada disini? "
" Saya yang menemani Dinda disini Pak, Saya karyawan baru di rumah Pak Damar. "
__ADS_1
" Oh." Jawab Daniel dengan singkat.
Erna begitu mengagumi ketampanan dan juga kegagahan paras Daniel, ia beberapa kali salah tingkah ketika Daniel melihat ke hadapannya.
" Dag dig dug dag dig dug. " Suara detakan jantung Erna begitu keras, entah apa yang ia rasakan sehingga jantungnya berdebar debar sedemikian.
" Untung hanya aku saja yang bisa dengar detak jantungku, Bagaimana kalau pak daniel dengar mau di taruh mana muka ku. " Gerutunya di dalam hati.
Daniel melihat ke arah Erna lagi, Erna yang gugup ditatap oleh Daniel langsung menundukkan kepalanya.
" Mbak, Mamah saya kemana ya? kok belum kesini dari tadi? " Tanya Daniel yang menunggu Bu Ririn tak kunjung datang.
" Oh tadi Bu Ririn pamit pulang Pak, katanya mau mandi sama mau ambilin baju ganti untuk Dinda. " jawab Erna yang gugup.
" Oh ya sudah." lagi lagi Daniel menjawab dengan cuek dan singkat.
" Dasar laki laki dingin. " Gumam Erna didalam hati.
Tak lama kemudian Bu Ririn datang, ia masuk dan terkejut anak laki-laki nya sudah datang, Bu Ririn langsung memeluk tubuh Daniel yang gagah.
" Ya ampun, anak mamah ternyata udah sampai. " Ujar Bu Ririn yang begitu erat memeluk tubuh anak laki-laki nya itu.
" Iya mah, Daniel udah sampai dari tadi kok. "
" Loh kok tidak telfon mamah kalo udah sampai? "
" Kan buat surprise buat mamah hehe. " Gurau Daniel.
" Ah kamu ini bisa saja, ngomong ngomong istri kamu mana kok tidak kelihatan? " Ujar Bu Ririn yang menanyakan Jessica.
" Jessica enggak ikut mah, Nanti katanya mau nyusul kesini, dia masih ada kerjaan di kota. "
" Ah istri kamu memang selalu begitu, kalau diajak kumpul sama keluarga besar susah, mamah heran sama istri kamu, mana mamah minta cucu belum dikasih lagi sampai sekarang. " Gerutu Bu Ririn.
" Ya jangan begitu lah mah, namanya juga belum rejeki kok, nanti kalau sudah waktunya pasti Daniel kasih cucu kok ke mamah. "
__ADS_1
" Tapi kalian menikah itu sudah lama Daniel. "
Erna hanya terdiam mendengarkan percakapan mereka berdua dan hanya menyimaknya saja.