
Setibanya dirumah Erna segera melanjutkan pekerjaannya, ketika Erna membersihkan kamar Pak Damar ia tak sengaja melihat foto keluarga mereka, di foto itu ada Pak Damar, Bu Ririn, Dinda dan satu laki laki dewasa, wajahnya yang masih sangat asing bagi Erna, ia terus memperhatikan foto tersebut.
" Wah, tampan sekali, siapa laki laki ini? ah apasih aku ini mungkin itu kakaknya Dinda." Gumam Erna yang memandangi laki laki gagah dan tampan itu.
Selesai membersihkan rumah pun Erna hendak kedepan rumah untuk menyirami tanaman, ia melihat Bi Sumi yang baru pulang dari pasar, Erna pun segera membantu membawakan sayuran yang Bi Sumi beli dari pasar.
Erna dan Bi Sumi membersihkan dapur bersama, Erna yang penasaran akan foto yang dikamar Pak Damar tadi langsung menanyakannya kepada Bi Sumi.
" Bi, tadi pas saya bersih bersih di kamar Pak Damar saya melihat foto keluarga mereka tapi ada satu laki laki yang belum pernah saya lihat, itu siapa ya Bi. " Ujar Erna yang penasaran.
" Oh itu, itu namanya Mas Daniel dia itu kakaknya Non Dinda. " Jawab Bi Sumi.
" Oh, tapi kok dia tidak disini Bi? " Tanya Erna yang semakin penasaran.
" Mas Daniel itu sudah menikah dan dia bekerja di kota bersama istrinya namanya Mbak Jessica, tapi mereka juga sering kok kesini baru baru ini aja jarang pulang kesini, mungkin lagi banyak kerjaan disana. "
Erna hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
" Tapi sayang. " Sambung Bi Sumi.
" Loh sayang kenapa Bi? " Tanya Erna yang dibuat semakin penasaran dengan kata kata Bi sumi.
" Mereka sudah empat tahun menikah namun belum dikaruniai seorang anak, ya mungkin karena istrinya Mas Daniel seorang model jadi belum pengen punya anak mungkin atau bagaimana saya tidak tau. " Jawab Bi sumi.
" Kasian sekali ya Bi Mas Daniel. " Ujar Erna.
" Kamu kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? " Tanya Bi Sumi yang keheranan.
" Oh tidak apa apa Bi, cuma penasaran saja karena belum pernah lihat hehe. " Jawabnya sambil tersenyum malu.
" Pasti karena tampan ya haha. " Ujar Bi sumi sambil mengejek.
Erna pun hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya sambil tersipu malu.
Selesai membantu Bi Sumi Erna pun segera mandi dan siap siap untuk menjemput Dinda disekolah.
Erna berangkat bersama dengan Anton si supir muda itu.
__ADS_1
Sesampainya di sekolah ternyata Dinda sudah menunggu di gerbang Sekolahan, Erna pun Segera turun untuk menghampiri Dinda dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Dinda yang melihat Anton dan Erna hanya diam diam saja, Dinda mulai menggoda keduanya.
" Kok pada diem diem saja nih kenapa nih? lagi musuhan ya hahaha. " Ujar Dinda yang mengejek dengan tawa kecil.
" Loh enggak loh Non. " Jawab Erna.
" Dinda ini nakal ya. " Sambung Anton.
Sebelum sampai dirumah, Dinda meminta Erna untuk diantarkan keswalayan, Dinda hendak membeli snack favoritnya.
Erna mengantarkan Dinda memasuki swalayan, selesai dari swalayan mereka pulang, sesampainya dirumah Anton segera membukakan pintu mobil untuk Erna dan Dinda, tak sengaja Erna terkena pintu mobil hingga membuatnya jatuh dan beruntung Anton segera menangkap Erna hingga Erna tidak jatuh ke lantai.
Dinda yang melihatnya langsung tertawa sambil mengejek Anton dan Erna.
" Cie cie, ada yang pelukan nih hahaha. " Ujar Dinda yang mengejek.
Mendengar ucapan Dinda Anton pun langsung melepaskan tangannya dari tubuh Erna, dan Erna pun terjatuh.
" Aduh aduuhh, maaf Erna aku kaget tadi, maaf ya, sini aku bantuin. " Ucap Anton sambil membantu Erna berdiri.
Dinda yang melihat kelakuan mereka pun semakin tertawa terbahak-bahak.
" Non Dinda jangan begitu dong, kan Mbak Erna jadi malu. "
" Iya deh iya, Dinda minta maaf ya Mas Anton, Mbak Erna, Habisnya kalian lucu sih hehe. " Ujar Dinda yang merasa bersalah.
Erna segera mengajak Dinda masuk ke dalam untuk ganti baju dan makan siang.
Selesai makan siang, suara klakson mobil berbunyi, sepertinya itu Bu Ririn yang baru pulang dari kantor, Dinda segera lari menuju pintu untuk menyambut ibunya yang baru pulang, Erna pun juga ikut menyusul Dinda dan membantu membukakan pintu untuk Bu Ririn.
" Waaahhh, Akhirnya mamah pulang juga. " Ujar Dinda sambil memeluk ibunya dan menarik tangan ibunya untuk diajak bermain.
" Aduh sebentar ya Nak, Mamah capek banget, kamu main dulu ya sama Mbak Erna. " Ujar Bu Ririn yang terlihat sangat lelah.
Raut muka Dinda pun seketika berubah menjadi sedih, ia ngambek dan langsung lari ke kamarnya karena ibunya yang tidak mau main dengannya, Bu Ririn menyuruh Erna untuk menemani Dinda bermain dan Bu Ririn segera berjalan menuju kamar untuk istirahat.
__ADS_1
Erna segera menyusul Dinda ke kamar dan mencoba membujuknya agar tidak marah kepada ibunya.
" Non Dinda, Non Dinda kan anak baik, anak pinter, jangan nangis ya, jangan marah ya sama mamah, Kan mamah capek baru pulang kerja cari uang buat Non Dinda, Non Dinda mainnya sama Mbak Erna dulu ya, nanti kalo mamah udah enggak capek nanti mamah main sama Non Dinda. " Ujar Erna sambil memeluk tubuh Dinda yang mungil itu.
" Mamah udah nggak sayang sama Dinda lagi Mbak, hik hik hik. " Jawabnya sambil menangis sesegukan.
" Emm, begini saja deh, bagaimana kalo Mbak Erna membacakan dongeng untuk Non Dinda, mau tidak? "
" Boleh. " Jawab Dinda sambil mengusap air mata di pipinya.
Erna segera mengambil buku dongeng diatas meja belajar Dinda, dan membacakannya untuk Dinda, Dinda yang awalnya masih ngambek kini ia mulai mengantuk, Erna pun menyuruh Dinda untuk tiduran dikasur, Erna melanjutkan cerita dongengnya sambil mengusap-usap kepala Dinda, belum habis cerita dongengnya Dinda sudah tertidur, Erna pun ikut mengantuk ia lalu tertidur disamping Dinda.
Selesai istirahat dan mandi Bu Ririn pun mengecek Dinda di kamarnya karena sehabis nangis tadi Dinda tidak terdengar suaranya, dan Bu Ririn pun tersenyum melihat Dinda tidur begitu pules ditemani Erna.
" Tumben Dinda bisa langsung sedekat ini sama orang lain, biasanya dia nggak mau tidur kalo nggak sama aku. " Gumam Bu Ririn.
Bu Ririn merasa sangat lelah sekali hari ini karena pekerjaannya dikantor sangat banyak sekali dan kebetukan sedang tidak enak badan, Bu Ririn pun memanggil Bi Sumi untuk memijiti kakinya.
" Bi, Bi sumi? "
" Iya Nya. " Suara Bi Sumi dari arah dapur segera lari menuju ruang TV menghampiri Bu Ririn yang memanggilnya.
" Iya Nya, ada apa? " Tanya Bi Sumi.
" Bi, tolong dong pijitin kaki saya, capek banget rasanya. " Ucap Bu Ririn.
" Baik Nya. " Jawab Bi Sumi dan segera memijit kaki majikannya itu.
" Bi, Kok tumben ya Dinda bisa langsung akrab sama Erna. " Ujar Bu Ririn yang keheranan.
" Iya Nya, Bibi juga kurang tau, mungkin karena Erna baik Nya, dia juga telaten mengurus Dinda hari ini. " Jawab Bi Sumi.
" Tapi tumben banget ya Bi, saya saja sampe heran. "
" Mungkin juga karena Erna sering menemani Non Dinda bermain mungkin Nya, Erna juga menuruti apa semua kata Non Dinda jadi mungkin dia nyaman dan senang ada teman bermain. " Sambung Bi Sumi.
Bu Ririn tersenyum karena senang anaknya terurus dirumah setelah sekian lama Bu Ririn tak pernah meninggalkan Dinda bekerja, Namun hari ini Bu Ririn Harus kembali bekerja karena ada kerjaan yang sangat membutuhkan Bu Ririn.
__ADS_1