
Erna terus mengajak ngobrol Dinda, dan membacakan cerita dongeng, dan tak lama kemudian Dinda terlihat pelan pelan membuka matanya, Erna pun senang bukan main melihat Dinda yang akan segera sadar.
" Mbak." Suara Dinda yang masih terdengar lemah.
Erna yang mendengar suara Erna langsung memeluk Dinda.
" Non, Non Dinda sudah sadar? sebentar ya Mbak Erna panggilkan dokter dulu ya. " Jawab Erna dengan senang.
Erna memanggil dokter dan mengatakan bahwa Dinda sudah sadar, Dokter yang mendengar kabar itu pun kaget, dan tidak menyangka kalau Dinda akan sadar secepat ini, jauh dari perkiraan dokter.
Dokter pun kembali memeriksa Dinda dan tersenyum bahagia melihat gadis kecil ini sudah sadar.
" Dok, bagaimana keadaannya? " Tanya Erna.
" Ini betul betul keajaiban tuhan, dan Dinda bisa sadar secepat ini, ini sangat jauh dari perkiraan saya, ternyata Dinda bisa sadar dalam waktu secepat ini. " Ujar Dokter yang terkejut melihat Dinda.
" Iya Dok, saya juga bersyukur sekali akhirnya Non Dinda sudah sadar. " Sambung Erna.
" Nanti untuk selanjutnya akan saya cek lebih lanjut ya untuk melihat perkembangan Dinds. "
" Baik Dok. "
" Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu ya, nanto kalau ada apa apa silahkan panggil saya atau ke suster ya. " Pamit Dokter.
" Baik Dok, terimakasih. "
Erna mendekati tubuh Dinda yang masih lemah itu, dan bertanya apa yang ia inginkan.
" Non, Non mau apa? " Tanya Erna dengan halus.
" Mamah mana? " Tanya Erna dengan lirih.
" Mamah masih di rumah Non, nanti saya telfonkan ya. "
Dinda hanya menjawab Erna dengan anggukkan kepala.
Erna pun segera mengabari Bu Ririn dan Pak Damar kalau Dinda sudah sadar.
" Tuuuutt, tuuuttt, tuuutt. " Suara panggilan telefon Erna kepada Bu Ririn.
Tak lama kemudian Bu Ririn langsung menjawab telfon dari Erna.
" Halo buk. " Ujar Erna.
" Iya Na, ada apa? " Tanya Bu Ririn.
" Buk, Non Dinda sudah sadar. "
" Apa? benarkah itu? anakku sudah sadar? " Jawab Bu Ririn yang sangat senang dengan kabar ini dari Erna.
" Iya Buk, Non Dinda sudah sadar, dan Non Dinda menanyakan Ibu. " Ujar Erna.
" Oke oke sebentar lagi saya akan kesana, sampaikan kepada Dinda ya Na. " Pinta Bu Ririn.
" Baik Bu. "
Bu Ririn yang mendengar kabar itu pun sangat senang sekali, dan segera memberitahu suaminya.
Anton yang melihat Bu Ririn tersenyum bahagia pun ikut penasaran dengan apa yang membuat Bu Ririn bisa tersenyum seperti itu.
__ADS_1
" Ada apa Buk? " Tanya Anton.
" Ini Nton, tadi Erna telfon saya, katanya Dinda sudah sadar. " Jawab Bu Ririn.
" Wahhh, bersyukur sekali Buk, Dinda akhirnya sudah sadar. " Jawab Anton yang ikut senang.
" Iya Nton ibu juga sangat senang sekali mendengar kabar ini, oh iya kamu liat Bapak tidak? "
" Bapak tadi ada di teras Buk. "
" Oh ya sudah makasih ya. "
Bu Ririn pun langsung menghampiri Pak Damar ke teras rumah dan mengatakan kabar bahagia ini.
" Pah, Papah. " Teriak Bu Ririn.
" Apasih Mah, jam segini teriak teriak. " Jawab Pak Damar.
" Pah, anak kita udah sadar Pah, Dinda udah sadar. "
" Yang bener Mah? Dinda udah sadar? " Tanya Pak Damar yang terkejut senang.
" Iya Pah, bener, tadi Erna telfon mamah dan bilang kalau Dinda udah sadar. "
" Ya sudah Mah, ayo kita segera kesana. "
" Iya Pah. "
Pak Damar dan Bu Ririn siap siap untuk segera berangkat ke rumah sakit, tak sabar ingin segera melihat gadis kecilnya yang sudah sadar itu.
Sesampainya di rumah sakit Bu Ririn melihat Erna sedang menyuapi Dinda makanan, Bu Ririn merasa bahwa Erna begitu menyayangi Dinda bagaikan adik kandung sendiri.
" Mamah, Papah, Dinda nggak apa apa kok. " Jawab Dinda.
" Iya sayang, kamu cepat sembuh ya, biar cepet pulang. " Ujar Bu Ririn.
" He'em. " Jawab Dinda sambil menganggukkan kepala.
" Nanti kalau Dinda sudah sembuh Dinda jangan main lagi ya sama Mbak Erna, nanti kalau Dinda jatuh lagi. " Ujar Pak Damar dengan ketus.
" Papah. " Tegur Bu Ririn.
" Papah, Mbak Erna tidak salah kok, yang salah itu Dinda, Mbak Erna sudah mengingat kan Dinda kalau jangan lari lari dekat tangga tapi Dinda tidak dengerin omongan Mbak Erna, Papah jangan menyalahkan Mbak Erna ya, kasian Mbak Erna. " Jawab Dinda yang mencoba untuk membela Erna.
" Kamu itu kalo di bilangin Papah sukanya ngebantah terus. "
" Memang Mbak Erna tidak salah Papa. "
" Sudah Non, Mbak Erna tidak apa apa kok, mungkin ini juga salah Mbak Erna tidak bisa menjaga Non Dinda. " Saut Erna yang mencoba menengahi.
" Tidak Mbak, ini salah Dinda, Dinda yang tidak dengerin omongan Mbak Erna, maafin Dinda ya Mbak. " Sambung Dinda.
" Lagian apasih Papah ini, udah tau anak sakit malah bikin ribut. " Ujar Bu Ririn.
" Terserah kalian lah, bela aja terus orang nggak tau diri itu! " Ketus Pak Damar.
Erna pun tertunduk takut dan tidak berani menatap Pak Damar, Bu Ririn yang memperhatikan gerak gerik Erna pun mulai merasa curiga, mengapa Erna bisa setakut itu dengan suaminya.
" Kenapa Erna keliatannya takut banget ya sama suamiku? masak iya Erna merasa bersalah sampai tertekan kaya begitu? atau ada masalah lain? " Gerutu Bu Ririn dalam hatinya.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian keadaan Dinda semakin membaik, dan hari ini kebetulan Pak Damar ada jadwal meeting, jadi Erna yang menemani Bu Ririn untuk menjaga Dinda di rumah sakit.
" Mamah. " Panggil Dinda kepada ibunya.
" Iya sayang, kenapa? " Tanya Bu Ririn.
" Apa Kak Daniel tidak kesini? "
" Emm, Mamah tidak memberitahu ke Kak Daniel kalo kamu sakit Nak, Mamah takut kalau Kak Daniel jadi banyak pikiran dan juga takut kalo Kak Daniel lagi sibuk. " Jawab Bu Ririn.
" Hem, tapi aku rindu dengan Kak Daniel Mah, bolehkah aku Vidio call sama Kak Daniel Mah? "
" Boleh sayang, sebentar ya Mamah telfonkan Kakakmu dulu. "
Kemudian Bu Ririn mencoba menghubungi Daniel, namun beberapa kali teleponnya tak kunjung diangkat oleh Daniel.
" Tidak diangkat sama Kakakmu Nak, mungkin Kak Daniel lagi sibuk. " Ujar Bu Ririn.
" Kak Daniel selalu saja sibuk, tidak pernah kesini untuk main sama Dinda! " Jawab Dinda yang kecewa.
" Kamu yang sabar ya, nanti kalau Kak Daniel ada waktu luang pasti Kak Daniel akan nelfon balik kok. " Jawab Bu Ririn yang mencova menenangkan Putrinya.
Tak lama kemudian terdengar suara dering ponsel Bu Ririn, dan ternyata itu Daniel.
" Siapa Mah? Kak Daniel ya? " Tanya Dinda.
" Iya sayang, nih kamu aja yang angkat. " Jawab Bu Ririn sambil memberikan ponselnya kepada Dinda.
" Halo Kak. " Sapa Dinda.
" Loh Dek? kamu kenapa? kamu di rumah sakit ya? " Tanya Daniel yang terkejut melihat Dinda terbaring di rumah sakit.
" Iya Kak, Dinda terjatuh, tapi Kak Daniel tenang ya, Dinda udah tidak apa apa kok, Dinda udah sembuh. " Jawab Dinda.
" Loh kok baru ngabarin Kakak sekarang? "
" Hemm iya, Kakak kenapa tidak pernah menelfon Dinda? tidak pernah kesini untuk main sama Dinda? Kakak sudah tidak sayang lagi ya sama Dinda? "
" Bukan gitu Dek, maaf ya Kakak lagi sibuk, Kak Jessica juga lagi dirawat di rumah sakit, jadi untuk sekarang Kakak belum bisa kesana. "
" Kak Jessica sakit apa Kak? "
" Sakit typus Dek, oh iya, Mamah mana? Kakak mau bicara sama Mamah. "
Dinda pun memberikan telfonnya kepada Bu Ririn.
" Mamah kenapa sih nggak ngabarin aku dari kemarin, kenapa baru kasih kabar sekarang? " Ujar Daniel.
" Iya maaf, Mamah nggak sempet buat ngabarin kamu, juga takut kalau kamu lagi banyak kerjaan takut kalau nanti pikiran kamu kemana mana. " Jawab Bu Ririn.
" Tapi kan Mah, harusnya Mamah ngabarin aku. dulu, bisa atau enggak nya aku kesitu kan yang penting Mamah udah kasih kabar ke aku Mah. "
" Iya iya Mamah minta maaf, oh iya tadi katanya Jessica sakit, sakit apa? sejak kapan? "
" Iya Jessica sakit typus Mah, udah dua hari di rumah sakit. "
" Kamu juga kenapa nggak ngabarin Mamah kalo Jessica sakit? "
" Ya kan aku juga nggak mau kalo Mamah banyak pikiran, udah tidak apa apa kok Mah, bentar lagi Jessica juga bakalan sembuh, cuma ini lagi aku tinggal ke kantor Mah. "
__ADS_1