
"Lari Gania! Cepat Lari Gania!", Izako meneriaki Gania.
Kaki Gania terasa lemas dan wajahnya jelas pucat. Demi mendengar teriakan Izako, Gania langsung berdiri dan mencoba lari. Tapi terlambat, seseorang sudah menarik tangannya.
"Aaaa lepaskan, lepaskan aku!", Gania mencoba melepaskan diri sekuat tenaga. Tapi tangan orang bertopeng yang ingin menangkapnya sangat cekatan. Orang bertopeng itu langsung mengunci tangan Gania dan mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil.
Tubuh orang bertopeng itu jelas tinggi besar, Gania yang bertubuh mungil tidak mungkin bisa melawan. Tubuhnya langsung terjerembab di kursi mobil dengan tangan terikat. Orang bertopeng itu mendorongnya dengan kasar.
"Cepat jalan!", orang bertopeng meneriaki supir mobilnya.
Gania menutup matanya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ia hanya bisa berteriak memanggil-manggil bodyguardnya.
"Izako! Izako!"
Tampaknya Gania kehabisan waktu, supir mobil itu langsung menancap gas. Tapi tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah luar.
Dooooor!
Tembakan itu tepat mengenai ban mobil dan membuat mobil yang dikendarai dengan kencang itu oleng menubruk tembok. Pintu mobil tidak lama dibuka dengan paksa dari luar. Izako langsung menyeret orang bertopeng yang menangkap Gania. Supir mobil itu juga langsung keluar mencoba membantu temannya menghadapi Izako.
Dua penculik jahat itu memang bertubuh besar dan cekatan, tapi sialnya mereka berhadapan dengan Izako. Bodyguard ternama keluarga Thom yang belum pernah sekalipun gagal dalam tugasnya.
Dua lawan satu, ketiga orang itu berkelahi dengan tangan kosong. Dua penculik itu, mengirimkan pukulan bertubi-tubi pada Izako. Izako berhasil menangkis semua serangan itu, bahkan ia mulai mengeluarkan tendangan dan pukulan andalannya. Tidak butuh waktu lama bagi Izako untuk membuat kedua penculik itu jatuh berdebam ke tanah.
Gania hanya bisa menonton semua perkelahian itu dari dalam mobil. Hati Gania bersorak melihat dua penculik yang hampir saja membawanya kabur itu jatuh ke tanah. Begitu berhasil membuat lawannya KO, Izako langsung melepaskan ikatan tali Gania.
Izako menggendong Gania ke dalam mobil mereka dan langsung membawa Gania pulang. Izako mau tidak mau harus menggendong Gania, ia sudah paham jika kaki gadis ini selalu lemas jika berhadapan dengan situasi mencekam seperti tadi.
__ADS_1
"Jangan takut lagi Gania, kita akan pulang. Demi apapun, aku yakin Tuan Thom tidak akan membiarkan dalang penculikan ini selamat dari hukuman yang pantas".
Demi mendengar nama Tuan Thom disebut, Gania akhirnya tersenyum. Ia tahu benar jika Tuan Thom tidak mungkin rela atas percobaan penculikan ini. Tuan Thom sangat menyayangi Gania.
Izako langsung menancap gas, menuju kediaman Tuan Thom. Di bangku belakang, Gania duduk tersandar lemah. Ia mencoba merapikan baju sekolahnya dan mengambil tempat minumnya. Haus sekali rasanya tenggorokan Gania.
"Aku mau kalian membereskan sisanya, pastikan kalian menyeret mereka berlima pada Tuan Thom", Izako berbicara lewat telepon dengan orang-orang Tuan Thom lainnya.
"Kau baik-baik sajakan Gania?", Izako melirik Gania dari spion tengah mobil.
Gadis yang ditanyai hanya mengangguk lemah. Pucat di wajahnya perlahan berangsur hilang. Kejadian tadi sangat membuat Gania ketakutan. Ada 5 orang pria bertopeng yang ingin menculiknya. Sepulang sekolah tadi, dia hanya ingin mampir ke taman kota untuk mengambil foto, siapa sangka ia malah harus berhadapan dengan penculik. Untunglah Izako benar-benar bisa diandalkan.
Mobil yang mereka kendarai masuk ke halaman rumah Tuan Thom yang megah. Ada banyak pengawal yang berjaga di depan gerbang. Izako melambaikan tangan, memberi isyarat penjagaan harus diperketat karena jelas ada seseorang yang ingin menyakiti Gania. Para pengawal sudah paham akan isyarat itu.
"Astaga, Gania! Dokter Sam, cepat periksa kondisi Gania", Kakek Hong langsung memapah Gania menuju ke kamarnya.
langsung memeriksa kondisi Gania.
"Gania! Gania!"
Seseorang yang memiliki derap langkah yang berat masuk ke dalam kamar Gania. Tingginya 183 cm, tubuhnya proporsional, rambutnya hitam tertata rapi dan sorot matanya tajam mengguratkan rasa khawatir. Untuk ukuran pria dewasa dengan usia 40 tahunan jelas orang ini terbilang sangat tampan. Ia menggunakan jas dan sepatu pentopel mengkilap.
"Tuan Thom!", Gania berseru dan langsung berdiri dari atas tempat tidur memeluk orang yang tadi dipanggilnya Tuan Thom.
Tuan Thom, pemilik nama lengkap Thommy Jerrino adalah pria yang jelas paling tidak rela dengan percobaan penculikan yang baru saja dialami Gania.
"Maafkan aku Gania. Kau seharusnya tidak perlu sampai ketakutan seperti ini. Aku sudah menemukan siapa otak dibalik penculikanmu. Malam ini juga aku akan membuat perhitungan pada orang itu!", Tuan Thom membalas pelukan Gania dan mengusap lembut kepala Gania.
__ADS_1
Sambil memeluk Gania, Tuan Thom melemparkan pandangan matanya pada Dokter Sam. Dokter Sam hanya mengangguk sambil tersenyum, itu artinya kondisi Gania baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tuan Thom menarik napas lega.
Gania tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan Tuan Thom. Dia menangis sejadi-jadinya di dada Tuan Thom, tempat ternyaman bagi Gania. Kakek Hong hanya tersenyum melihat anaknya Thom dan Gania berpelukan seperti itu. Kejadian hari ini mengingatkan Kakek Hong pada peristiwa 8 tahun yang lalu.
Peristiwa itu jelas masih melekat pada ingatan Kakek Hong. Hari itu pertama kalinya ia bertemu dengan gadis kecil berumur 10 tahun bernama Gania. Gadis kecil itu lusuh sekali dengan wajah yang carut marut dan hanya memiliki harta berupa baju yang dipakainya.
Jauh sekali Kakek Hong dan anaknya Thom harus mencari gadis kecil itu di desa pelosok di suatu negara yang bernama Indonesia. Jika bukan karena anak itu adalah anak Ahmad Tuah, mustahil mereka akan sampai ke pelosok seperti itu hanya untuk mencari seorang anak perempuan.
"Siapa namamu anak manis?", ia bertanya pada anak umur 10 tahun yang baru ditemuinya.
"Gania, Gania Ganaya kek", jelas sekali suara anak ini parau. Entah karena memang suaranya yang parau atau karena ia lapar dan haus.
Kala itu Thom anaknya yang masih berumur 32 tahun mengerenyitkan dahi. Thom masih tidak percaya kenapa Ahmad Tuah sahabat sejatinya malah meninggalkan anak perempuannya di desa kecil seperti ini, kenapa tidak menyerahkannya saja padanya.
Detik itu bahkan Thom sulit percaya jika anak perempuan itu adalah anak sahabat seperjuangannya. Jika bukan karena pernyataan detektif Harry dan hasil DNA yang menunjukkan bahwa anak ini adalah putri Ahmad Tuah, pastilah ia tidak akan mau datang ke pelosok sini.
"Kita bawa dia ke Hongkong ayah, kita bawa dia tinggal bersama kita. Kita harus merawat anak ini. Aku berhutang segalanya pada Ahmad Tuah. Bahkan ia mati karena menyelamatkan nyawaku. Sungguh, dengan cara apapun aku telah bersumpah akan membalas jasa Ahmad Tuah padaku. Anak ini, putri kandungnya, tentu jalanku satu-satunya untuk membalas budi Ahmad Tuah. Aku akan menjadi ayah bagi anak ini. Selamanya aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anak ini ayah dan aku akan menjamin masa depannya."
Ahmad Tuah memang jelas berjasa dalam hidup mereka. Bahkan satu tahun yang lalu Ahmad Tuah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawa Thom. Pria baik itu meninggal di usia yang baru beranjak ke 34 tahun. Sebelum benar-benar meninggal, Ahmad Tuah sempat memberikan pesan agar Thom mau menjaga putrinya.
Cukup lama bagi mereka berdua untuk bisa menemukan Gania. Ahmad Tuah sama sekali tidak pernah bercerita jika dia punya seorang putri. Pun, Ahmad Tuah tidak memberikan informasi dimana anaknya tinggal. Selama ini Ahmad Tuah ternyata menitipkan anaknya di sebuah pesantren kecil yang bahkan tidak pantas disebut sebuah pesantren. Bangunannya kecil hanya terdiri dari papan dan anyaman bambu. Santri santriwati yang ada di situ bajunya juga lusuh-lusuh dan kumal.
Sejak hari pertemuan dengan Gania saat itu, Kakek Hong paham jika anaknya Thom tidak akan pernah membiarkan Gania menderita. Lihatlah hari ini, bahkan Thom bisa langsung mengetahui siapa orang yang berniat menculik Gania. Siapapun orang itu, jelas dia bermasalah besar karena harus berhadapan dengan salah satu orang terkuat di Hongkong.
Puas menangis di pelukan Tuan Thom, akhirnya Gania tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Tuan Thom memanggil Izako, menepuk punggung Izako sebagai rasa apresiasi padanya karena berhasil menyelamatkan Gania.
"Izako Aruga, jika saja buka dirimu yang aku tugasnya menjadi bodyguardnya Gania. Aku jelas akan menyesal sekali. Terimakasih."
__ADS_1
Izako mengangguk. Ia sudah bertahun-tahun menjaga Gania bahkan sejak Gania pertama kali menginjakkan kaki di Hongkong. Penculik itu berhasil menyentuh tangan Gania saja rasanya dia sudah sangat kesal. Izako sadar jika hari-hari berikutnya ia akan lebih sulit menjaga Gania.