
"Aku ini ingin bahagia seperti temanku itu Thom. Bahagia bermain dengan cucu\-cucunya. Temanku itu jikapun harus mati, ia sudah tenang. Generasi penerusnya sudah banyak. Tidak perlu pusing memikirkan nasib masa depan bisnisnya lagi bahkan tidak perlu takut mati karena pusaranya akan penuh dengan bunga\-bunga segar hadiah dari cucu\-cucunya."
Suara Kakek Hong terdengar sangat sedih. Tidak ada seorangpun yang berani menyela perkataan Kakek Hong. Gania yang sedang sibuk melukis menghentikan sapuan kuasnya pada kanvas. Ia ingin menaruh perhatian serius pada apa yang dikatakan Kakek Hong.
Hari ini Kakek Hong baru saja mengunjungi teman lamanya. Menurut cerita Kakek Hong, teman lamanya itu hidup sangat bahagia dengan 12 orang cucu. Tampaknya ada benih-benih rasa iri pada hati Kakek Hong. Kakek Hong ingin juga seperti temannya itu.
Selama ini Kakek Hong memang sering meminta agar Tuan Thom segera menikah. Tapi Tuan Thom selalu berkilah, ada saja alasannya untuk menghindari sebuah hubungan yang serius dengan wanita. Seumur hidupnya Tuan Thom memang jarang sekali memiliki urusan dengan wanita. Mungkin hanya ada dua wanita di dunia yang benar\-benar dekat dengan kehidupan Tuan Thom, pertama Ibunya dan kedua adalah Gania.
Ibunya Tuan Thom sudah lama meninggal sejak ia masih remaja. Jadi saat ini hanya Gania satu\-satunya wanita yang paling sering berinteraksi dengan Tuan Thom. Seluruh pengawal, bawahan, hingga orang\-orang yang tinggal di kediaman Tuan Thom adalah lelaki kecuali Gania. Memang ada satu wanita yang tinggal di rumah itu selain Gania yaitu Bibi Bum. Tapi Bibi Bum jarang berinteraksi dengan Tuan Thom. Ia hanya mengurus hal\-hal yang berkaitan dengan Gania.
"Jika aku mati Thom, siapa yang akan menaburkan bunga di pusaraku? hanya Kau dan Gania? Astaga, sepi sekali suasana kuburku nanti."
Perkataan Kakek Hong semakin mengerikan. Ia bahkan sudah berani membawa isu kematian. Gania semakin merapikan posisi duduknya. Danau buatan indah di depannya tidak lagi menarik untuk di lukis. Hari itu Tuan Thom, Kakek Hong, Gania, Izako dan beberapa orang kepercayaan Tuan Thom menghabiskan sore di sebuah danau buatan. Mereka sedang bersantai yang tadinya hanya diawali dengan percakapan ringan. Namun ntah hal apa yang menggeser topik pembicaraan menjadi ke arah yang sangat serius ini.
"Kau harus menikah Thom, secepatnya. Beri aku cucu, beri aku kebahagiaan yang seharusnya diterima oleh pria tua usia tujuh puluhan."
Semua mata tertuju pada Tuan Thom. Jelas itu bukan pertanyaan atau tawaran melainkan sebuah instruksi tegas. Tapi yang diberi instruksi malah asik mengunyah potongan buah kecil. Tuan Thom tampak memasang wajah yang sangat santai, lebih tepatnya tidak peduli.
"Peter, tunjukkan pada kami daftarnya!", Kakek Hong memerintah dengan tegas.
__ADS_1
Peter menyalakan sebuah proyektor canggih yang bisa menunjukkan gambar dengan jelas walau di bawah cahaya matahari. Tangannya sibuk memainkan tab yang sepertinya memiliki data penting untuk ditunjukkan. Saat itu wajah semua orang terlihat mulai penasaran.
"Pertama, Julia Richard . Usia 25 tahun, seorang profesor muda yang cantik. Asal New Yok, tipikal wanita modern yang sangat dinamis tapi sangat sensual".
Demi mendengar penjelasan Peter, Tuan Thom tersedak potongan buah yang di makannya. Ia terbatuk\-batuk untuk kemudian langsung protes pada ayahnya.
"Apa\-apaan ini ayah? Kenapa ada gambar wanita cantik di situ? Dan apa pula urasanku tahu prihal wanita ini?", Tuan Thom mulai merasa bingung.
"Gania, pinjami Kakek papan paletmu yang besar!"
"Dasar anak tidak tahu diri, sudah 40 tahun tapi tidak ada perasaannya sama sekali", Kakek Hong menjerit-jerit sambil memukul-mukulkan palet kayu itu ke tubuh Tuan Thom berkali-kali.
Tuan Thom mencoba berkali\-kali juga menangkis pukulan Kakek Hong, tapi tetap saja palet itu mengenai tubuhnya. Kakek Hong, walau usianya 70 tahunan, kelincahan tubuhnya tidak terkalahkan.
Gania menjerit melihat Tuan Thom dipukuli seperti itu.
__ADS_1
"Hentikan Kek, hentikan!"
Wajah dan baju Tuan Thom penuh cat lukis bewarna\-warna. Jika saja orang yang memukulinya sekarang bukan ayahnya, sudah pasti Kakek Hong akan berakhir di dalam danau. Izako, Peter dan yang lainnya hanya melihat dengan rasa canggung tapi juga sedikit menahan tawa.
"Beraninya kau bertanya seperti itu Thom", suara Kakek Hong terdengar meninggi.
"Tentu saja itu daftar wanita yang bisa kau pilih untuk menjadi istri Thom. Ada ratusan bahkan mungkin ribuan wanita yang bisa kau pilih sekarang juga. Ada yang gadis kalau kau tak doyan, ada juga janda anak satu, janda anak dua, janda anak tiga, janda anak dua belas juga ada".
Gania, Izako, Peter dan semua orang tidak bisa lagi menahan tawanya. Mereka jelas sekali tertawa di atas penderita Tuan Thom. Tuan Thom sibuk mengibas-ngibaskan bajunya yang penuh chat. Diam-diam Tuan Thom sangat kesal kenapa ayahnya harus memilih palet lukis untuk memukulnya. Apa susahnya menggunakan kursi, kayu atau bahkan meja sekalian.
"Peter, jangan lanjutkan lagi. Berikan saja semua data wanita\-wanita itu padaku. Nanti aku yang memutuskan sendiri dengan siapa aku akan menikah."
Peter langsung memberikan data yang diminta oleh Tuan Thom. Tuan Thom langsung pergi dari pinggir danau. Kakek Hong sepertinya belum puas membuat Tuan Thom kesal. Ia meneriaki Tuan Thom yang semakin menjauh.
"Besok pagi Thom, paling lama besok aku sudah tahu siapa nama wanita yang kau pilih. Malamnya aku akan langsung membawa wanita itu ke hadapanmu".
Tuan Thom berlalu tanpa menoleh. Hatinya benar-benar kesal kali ini. Yang benar saja ia harus dipermalukan seperti ini di depan semua orang. Harga diri Tuan Thom serasa menguap tidak tersisa lagi.
Tanpa dijelaskan panjang lebar oleh Kakek Hong, sebenarnya Thom sudah sadar sekali jika cepat atau lambat dirinya harus menikah. Tapi masalahnya selama ini Thom merasa belum ada wanita yang mampu membuatnya merasa nyaman dan percaya. Semua wanita yang mendekatinya lebih mirip predator yang hanya menjadikannya mangsa empuk untuk diperas hartanya.
Tuan Thom tampan, kaya raya dan jelas sangat berwibawa. Cukup satu kerlingan mata saja, seorang wanita bisa bertekuk lutut di hadapannya. Tapi ada yang bilang, terkadang semakin berkualitas seseorang, maka akan semakin sulit untuk mencarikan seseorang yang pas untuknya. Dalam hal ini, kualitas Tuan Thom justru membuatnya sulit untuk mencari seseorang yang bisa membuatnya nyaman dan percaya.
__ADS_1
Besok pagi, Tuan Thom akan menunjukkan pada siapa dia merasa tertarik. Tuan Thom berharap semoga Peter benar-benar memberinya data yang bagus. Jika tidak, ia akan benar-benar berang.