
"Kalau memang kau mau makan ikan mas, kau bilang saja pada Koki Bahri Gania. Tidak perlu kau masuk ke kolam ikan mas sendiri"
Uncle Osas tertawa dan meledek Gania akibat peristiwa jatuh ke kolam ikan mas. Mulut Gania maju ke depan sebagai salah satu respon tubuhnya bahwa ia tidak suka dengan perkataan Uncle Osas. Pastilah tadi Tuan Thom sudah bercerita tentang hal itu pada Uncle Osas, makanya ia jadi tahu.
Sore itu Gania dan Uncle Osas sedang memandikan peliharaan masing-masing. Gania memandikan Mamba, Pelo dan Ohyen. Sementara Uncle Osas memandikan buaya kecil kesayangannya Chincila. Ada banyak busa sabun berterbangan dimana-mana. Di rumah itu memang ada banyak hewan peliharaan mulai dari kucing, buaya, ikan mas hingga merpati. Merpati-merpati di kediaman Tuan Thom dibiarkan terbang bebas tanpa sangkar. Jika waktu makan sudah tiba, merpati-merpati itu biasanya akan datang memenuhi halaman rumah, cantik sekali.
"Melihatmu suka kucing, aku jadi ingat ayahmu Gania, Ahmad Tuah. Ayahmu itu dulu juga suka kucing. Bahkan ia pernah menaklukkan seekor kucing besar yang sering di panggil nenek. Kucing besar itu hidup di dalam rimba Sumatera." Uncle Osas membuka cerita.
"Kucing besar? Nenek? Rimba Sumatera?" Gania mengerutkan dahinya tanda bingung.
"Tentu saja maksudku harimau Gania. Ayahmu pernah menaklukkan harimau."
"Uncle mau bilang ayahku pawang harimau?" Gania bertanya butuh penjelasan.
__ADS_1
"Hahaha tentu saja tidak Ganiaku sayang. Sejak kapan pula ayahmu jadi pawang. Kalau ayahmu pawang harimau, lalu aku pawang buaya begitu? hahahaha"
Sebenarnya saat Uncle Osas tertawa adalah pemandangan yang sangat lucu sekali. Badannya yang gendut dan hitam bergoyang-goyang. Goyangan lemak-lemak itu seakan-akan bisa membuat satu rumah menjadi terguncang layaknya gempa. Selama ini Gania memang banyak mendengar cerita masa lalu ayahnya dari Tuan Thom dan Kakek Hong. Namun rasa-rasanya belum pernah Gania mendengar jika ayahnya pernah menaklukkan seekor harimau. Seingat Gania ayahnya tidak hebat dalam urusan bela diri seperti Izako. Bahkan tubuh ayahnya juga tidak kekar sekali seperti Tuan Thom. Tubuh ayah Gania hanya rata-rata tubuh laki-laki Asia. Lalu bagaimana ayahnya bisa menaklukkan harimau?
"Ceritakan padaku Uncle tentang kisah itu! Aku mau tahu." Gania mendesak Uncle Osas.
Uncle Osas meletakkan Chincila ke kandangnya. Ia mulai mengingat-ngingat kejadian beberapa tahun silam itu. Rasanya semua kejadian itu baru saja dirasakannya semalam. Maka tersampaikanlah cerita Uncle Osas pada Gania.
Dulu kali, Uncle Osas, Tuan Thom dan Ahmad Tuah yang masih muda pernah bekerja di salah satu perkebunan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit itu terletak di salah satu kawasan di Pulau Sumatera. Pekerjaan mereka adalah pekerjaan kasar yaitu memanen tandan buah sawit dari pohonnya dan tentu saja menguras tenaga. Tidak lama memang mereka bekerja di situ hanya 3 bulan. Namun waktu yang singkat itu cukup untuk membuat mereka bertiga memiliki pengalaman yang tak terlupakan.
"Apa yang kau ingat Osas? Makan? Tidur? Hanya itu taumu. Mengingat untuk membawa catatan sajapun kau tidak bisa." Tuan Thom terus menggerutu.
Wajar jika Tuan Thom menggerutu. Perkebunan sawit jika malam sangatlah gelap dan banyak binatang di sana mulai dari lipan, kalajengking, nyamuk, ular dan yang lainnya. Rimba sawit itu jelas sangat tidak bersahabat saat malam. Itulah sebabnya karyawan pengambil buah sawit bekerja hanya sampai sore hari. Sunyi sekali suasana malam itu, Tuan Thom dan Uncle Osas hanya menggunakan lampu obor dan senter kecil untuk penerangan. Walaupun bulan cukup terang menggantung di awan, tentu cahayanya tidak cukup. Tuan Thom membawa sebuah parang atau sejenis pisau panjang untuk berjaga-jaga jika ada ular mendekat atau kalajengking.
__ADS_1
"Astaga Thom. Sebaiknya kita kembali sekarang. Perasaanku tidak enak. Aku teringat akan cerita tentang nenek." Uncle Osas mulai takut dan gentar.
Kegentaran itu memang bukan hal yang dibuat-buat. Pasalnya baru satu Minggu yang lalu, ada salah satu pekerja di kebun sawit itu yang diterkam harimau. Warga sekitar menyebut harimau dengan istilah nenek. Menurut kabar, hingga saat ini si nenek itu belum juga diketemukan. Perkebunan sawit ini memang berbatasan langsung dengan hutan, maka jika ada satu atau dua ekor harimau yang nyasar sebenarnya itu bukan sebuah keanehan. Bukankah dulunya perkebunan sawit ini juga bekas hutan dimana mereka tinggal?
Langkah Tuan Thom tetap mantab ke depan, ia tidak peduli jika ada nenek, kakek, buyut atau apalah. Dia jauh lebih merasa sial jika sampai besok meraka bertiga tidak jadi gajian hanya karena telat memberi catatan hasil kinerja mereka. Apalagi mandor atau bos yang memimpin mereka orang yang susah diajak kompromi. Bagi si Mandor ini, tidak ada catatan itu, artinya tidak ada gaji.
"Diam dan tutup mulutmu Osas! Cukup ingat-ingat di pohon sawit mana kau meletakkan catatan itu. Jika sampai sejauh ini kau malah lupa. Aku sendiri yang akan membawamu ke si nenek. Lebih baik kau dikunyah harimau daripada hidup tapi tidak berguna." Tuan Thom tambah emosi.
Setelah mengelilingi area kerja tadi siang, akhirnya Tuan Thom dan Uncle Osas bisa menemukan catatan itu. Betapa leganya hati Uncle Osas, tapi kelegaan itu hanya sementara sebelum akhirnya mereka sadar, ada dua mata dalam gelap yang memantau mereka dengan sabar sejak tadi.
Kresek...Kresek...
Tiba-tiba terdengar suara semak belukar yang seperti terinjak oleh sesuatu. Uncle Osas terpatung seketika, sedangkan Tuan Thom memasang telinga sebaik-baiknya. Genggaman tangan pada parangnya semakin erat. Tuan Thom perlahan tapi pasti mendekati semak-semak itu. Dalam hati ia berdoa semoga itu hanya **** atau musang. Begitu ia menyibakkan semak-semak, ternyata doanya dikabulkan. Itu memang hanya musang, tapi itu bukan musang hidup, musang mati. Tubuh si musang tercabik-cabik oleh sesuatu. Sesuatu benda tajam baru saja mencabik tubuh musang ini. Darah segar ada dimana-mana. Tuan Thom sadar dalam waktu singkat mereka berdua dalam bahaya besar.
__ADS_1
"Taring! Ini bekas cabikan taring."
Mendengar pernyataan Tuan Thom, kaki Uncle Osas bergetar. Ini malam hari, baru saja ada musang tercabik-cabik dengan taring. Bekas taring itu jelas terlihat besar dan tentu bukan taring anjing. Tidak ada binatang yang punya taring sebesar itu di perkebunan sawit, kecuali si nenek.