
"Bibi Bum yang bilang, tapi itu tidak benarkan Tuan? Aku tidak segendut itukan?", Gania bertanya dengan wajah serius.
Tuan Thom hanya menoleh malas pada Gania. Yang benar saja, gendut darimana? Malah dia curiga jika Gania cacingan, gadis remaja ini makannya banyak, tapi badannya tetap segitu-segitu saja.
Hari ini Tuan Thom sendiri yang mengantarkan Gania ke sekolahnya. Sejak insiden penculikan beberapa hari yang lalu, Gania suka jika diantar langsung dengan Tuan Thom. Berada di dekat Tuan Thom membuat Gania merasa tenang dan nyaman. Ilmu bela diri Tuan Thom juga sangat bisa diandalkan. Jika diadu dengan Izako, mungkin Izako yang akan kalah.
Kakek Hong pernah bercerita jika Tuan Thom lahir di sebuah tempat dimana jurus kungfu pertama kali ditemukan. Gania sering melihat Tuan Thom melatih bela dirinya. Gerakan\-gerakannya memang terlihat mirip\-mirip seperti gerakan Jackie Chan dan Bruce Lee yang ada di film\-film. Tapi Gania tidak tahu banyak tentang bela diri. Ia hanya tahu soal seni rupa dan seni kata.
Sekolah Gania bukan seperti sekolah umum biasa, sekolah itu bertitik fokus pada seni. Gania menyukai seni lukis dan seni merangkai kata. Ia sudah banyak membuat buku\-buku cerita dan buku dongeng. Bahkan ada puluhan lukisan di kediaman Tuan Thom yang merupakan hasil karya Gania. Berimajinasi adalah satu keahlian terbaik Gania. Walau sebenarnya dia lebih keseringan berimajinasi yang aneh\-aneh.
"Begini saja Gan, jika kau benar takut gendut, serahkan saja jatah makanmu untukku atau untuk Izako juga bisa", Tuan Thom akhirnya memberi solusi.
Mendengar hal itu, Izako yang sedang menyetirpun tertawa.
"Aku tidak keberatan Tuan!" celetuk Izako.
Gania menggeleng cepat, bagaimanapun ia tidak akan rela jika harus membagi jatah makannya dengan siapapun. Walau takut menjadi gendut, Gania jauh lebih takut kelaparan.
Sesampainya di sekolah Gania langsung disambut oleh teman\-teman baiknya. Ada 3 teman baik Gania di sekolah, pertama Bella, kedua Reymond dan ketiga Ahcay. Semuanya sama\- sama menggilai seni. Begitu turun dari mobil, Gania langsung menuju ketiga temannya.
Tuan Thom membuka kaca mobil, ia melambaikan tangan pada ketiga teman Gania. Tuan Thom sudah sangat kenal dengan mereka bertiga. Gania sering mengajak teman\-teman dekatnya untuk main ke rumah Tuan Thom.
"Pagi Gania, sarapan banyak pagi inikan?" Reymond langsung bertanya.
__ADS_1
"Lah kenapa kok tanya gitu Rey? Setiap pagi aku sarapan banyak kok."
"Kamu perlu energi lebih hari ini Gan. Lihat wajah Ahcay. Kuyu, lusuh minta ampun. Jelasnya jauhkan segala benda\-benda seperti tali, pisau atau pecahan kaca darinya", Reymond menjelaskan.
Wajah Ahcay memang kusut sekali pagi itu. Matanya sembab, seperti habis menangis semalaman. Entah duka seperti apa yang baru saja menimpa temannya yang satu ini. Padahal di antara mereka berempat, Ahcay adalah teman yang paling riang sekaligus paling aneh.
"Kamu kenapa Cay? Sakit Gigi Cay?", Gania tidak sabar ingin tahu.
"Lingling, dia ternyata sudah dijodohkan ayahnya dengan seorang profesor muda dari Jerman", Bella menjawab rasa penasaran Gania.
Mendengar berita itu, Gania langsung terkejut. Sebagai teman Ahcay, Gania paham betapa besarnya cinta Ahcay pada Lingling. Ahcay rela berkorban apapun untuk cintanya pada Lingling. Rasanya ditabrak bulldozer Ahcay juga rela asal demi Lingling. Saat ini Gania paham jika temannya sudah menjadi korban patah hati.
"Kamu patah hati Cay? Cuman gara\-gara patah hati kamu jadi begini Cay? Ada banyak gadis lain selain Lingling Cay," spontan Gania berbicara tanpa memikirkan perasaan Ahcay.
Ahcay langsung pergi meninggalkan Gania, Bella dan Reymond. Suaranya meninggi dan jelas Ahcay terlihat marah pada Gania. Gania tertegun dengan suara tinggi Ahcay. Selama ini temannya itu tidak pernah marah seperti ini padanya. Di dalam kepala Gania terputar sebuah pertanyaan besar, apa iya dia tidak pernah jatuh cinta sama sekali? Apa yang salah dengan tidak pernah jatuh cinta? Rasa bersalah juga mulai menjalar di hati Gania. Tidak seharusnya ia berkata demikian dengan Ahcay.
Gania, Bella dan Reymond akhinya masuk ke dalam kelas seni lukis objek. Di kelas ini semua siswa siswi akan melukis sebuah objek yang diminta. Kali ini objek yang akan dilukis adalah sebuah bola kaki. Walau hanya bola kaki jelas pekerjaan ini bukan hal yang mudah. Siswa siswi harus mampu membuat lukisan realistik yang benar\-benar mirip dengan objek aslinya. Detail yang rumit harus dikerjakan sebaik mungkin agar hasil lukisan tampak persis sama seperti benda yang yang menjadi objek lukis.
Gania tidak fokus dalam menggarap lukisannya. Di kepalanya terus terpikirkan tentang Ahcay. Bagaimana nasib Ahcay sekarang? Gania ingin mengajak Bella dan Reymond keluar mencari Ahcay, tapi tampaknya mereka sedang asik menyelesaikan lukisan. Gania memutuskan untuk pergi sendiri saja.
"Sir Willy, Gania keluar dulu ya. Gania mau mengistirahatkan tangan Gania sejenak." Gania pamit pada guru lukis realistiknya. Sir Willy mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Inilah salah satu enaknya bersekolah di sekolah seni. Di sini tidak ada jadwal jam pelajaran khusus bagi siswanya, kecuali jam masuk dan pulang. Pun tidak ada aturan khusus untuk tetap tinggal di kelas. Siswa bebas memilih kelas mana yang akan dimasuki hari itu. Bahkan siswa bebas keluar kelas untuk mencari inspirasi atau hanya sekedar menghilangkan penat.
Karya seni adalah sesuatu yang berasal dari hati dan jiwa si senimannya. Seorang seniman harus menyelesaikan karyanya dengan senang hati bukan dengan keterpaksaan. Maka Gania boleh keluar ruangan asal melapor terlebih dahulu, karena pada dasarnya ia juga seniman bagi karyanya.
Gania tau tempat dimana Ahcay menghabiskan waktu saat sedang butuh waktu sendiri, di bawah pohon rindang. Tempat teduh itu sempurna untuk mengistirahatkan hati yang lelah.
"Maafkan aku Ahcay, aku tidak bermaksud melukai hatimu tadi." Gania berbicara dengan suara lembut tepat di belakang Ahcay.
Ahcay menyendarkan bahunya di batang pohon kayu besar. Gania sengaja sedikit menjaga jarak dari Ahcay. Ia tidak mau terlalu menganggu.
"Aku cinta Lingling Gania. Dia pemilik hatiku. Cinta pertamaku. Rasanya dunia ini gelap sekali ketika Lingling mengatakan langsung padaku jika ia akan menikah dengan profesor muda itu".
Gania hanya diam, ia tidak mau memotong perkataan Ahcay.
"Apa kau benar\-benar tidak pernah jatuh cinta Gania?" Ahcay bertanya dengan nada serius.
"Aku tidak pernah", singkat sekali jawaban Gania.
"Mustahil Gania, setiap orang pasti pernah jatuh cinta. Hanya mungkin kamu sendiri tidak sadar kalau selama ini kamu sedang jatuh cinta. Hingga nanti orang yang kamu cinta ingin pergi dengan yang lain, maka kamu akan merasakan api cemburu yang panas membakar dada. Saat itu Gania, kamu baru paham jika sebenarnya selama ini kamu telah jatuh cinta."
Gania tidak paham sepenuhnya dengan perkataan Ahcay. Memang dulu Ahcay pernah tidak menyadari jika ia mencintai Lingling. Ahcay menyadari perasaannya persis ketika temannya di kelas seni gerabah menyukai Lingling dan ingin mendekati Lingling. Ahcay tidak suka jika ada yang mendekati Lingling. Saat itulah, Ahcay paham jika ia menyukai bahkan mencintai Lingling. Linglinglah cinta pertamanya Ahcay. Setelah sadar ia mencintai Lingling, kian hari kian besar perasaan itu.
__ADS_1
Seharian Gania tidak masuk ke kelas lukis objek lagi. Ia fokus menemani Ahcay. Hari ini tepat di bawah sebuah pohon berbatang besar, Gania memang tidak paham perkataan dan perasaan Ahcay. Tapi besok malam, Gania akan menjadi orang yang paling paham akan perkataan itu, bahkan benar\-benar paham rasanya.