Gania & Tuan Thom

Gania & Tuan Thom
Satu Nyawa


__ADS_3

"Kau ingin cari yang seperti apa Thom? Tidak ada wanita yang sangat sempurna di dunia ini Thom. Lagi pula kau harus sadar diri, kau juga tidak sempurnakan? Kau egois, tukang marah dan tentu saja sangat menyebalkan. Tolong jangan dibantah dan akui saja".



Tuan Thom tidak menjawab pertanyaan Kakek Hong karena memang tidak perlu dijawab. Semenjak insiden Nona Floriana yang memukul Pelo, Tuan Thom tidak membawa wanita lagi ke rumah. Kakek Hong serasa putus asa.



Malam ini keduanya sedang minum kopi bersama di ruang keluarga. Tidak ada agenda obrolan apapun. Thom hanya sedang istirahat duduk di sana sebentar tadi. Kakek Hong lalu duduk dan langsung bertanya sesuatu yang jelas Thom tidak suka.



"Bisakah kita tidak membahasnya malam ini ayah? Malam ini biarkan aku menikmati kopiku tanpa debat. Aku terlalu lelah hari ini. Ada banyak urusan bisnis yang harus aku bereskan. Perang dagang antar Cina dan Amerika sedikit banyaknya berpengaruh pada bisnisku".



"Bisnis, bisnis dan bisnis. Selalu itu yang menjadi alasanmu untuk menghindari pernikahan. Cepat katakan padaku nak, wanita seperti apa yang kau cari?"



Tuan Thom menghela nafasnya. Ia tahu jika mau tidak mau setiap harinya ia harus terlibat dalam obrolan berat seperti ini. Tapi untunglah Gania datang menyelamatkan keadaan. Itu artinya Tuan Thom tidak perlu menjawab pertanyaan ayahnya.



"Setelah lulus, Gania mau pulang ke Indonesia."



Tanpa ba\-bi\-bu Gania langsung bicara serius sambil mengambil posisi duduk persis di tengah Tuan Thom dan Kakek Hong. Tadi siang setelah pulang dari acara ulang tahun pernikahan orangtua Peter, Kakek Hong bertanya akan kemana Gania setelah lulus dari sekolah seninya? Dan inilah waktunya Gania memutuskan.



"Gania, kau sungguh serius?" Kakek Hong memastikan.



Gania mengangguk. Ia sudah memutuskan jika ia akan pulang ke Indonesia. Gania ingin belajar seni nusantara. Gania juga rindu dengan kampung halamannya. Pantai indah, perbukitan hijau, gunung tinggi, sawah\-sawah dan jelasnya semua yang ada di Indonesia Gania rindukan. Walaupun Gania tahu, tidak ada saudara yang bisa ditujunya di sana.



Ibu Gania sudah tidak ada sejak lama. Singkatnya tidak ada saudara yang bisa dikunjungi di Indonesia. Tapi namanya juga tanah air. Pasti ada rasa kerinduan Gania akan Indonesia.


__ADS_1


"Nah, yasudah kalau begitu. Sekalian ajak Tuan Thom kamu ini Gania. Aku dengar banyak wanita Indonesia yang cantik. Siapa tahu, anakku ini bisa dapat jodoh di sana".



"Aku tidak setuju! Gania, kalau kau rindu Indonesia. Kita bisa pergi segera sekarang juga. Tapi aku tidak mau kau menetap di sana. Alasannya jelas, karena aku tidak bisa menetap di Indonesia. Pusat bisnisku ada di sini. Aku bisa pergi kemana\-mana memang. Tapi tidak mungkin bisa menetap di Indonesia."



"Kenapa Thom? Biarkan saja. Nanti aku akan ikut Gania untuk tinggal di Indonesia. Kau tinggal saja di sini".



"Jika kalian semua tinggal di Indonesia, lalu bagaimana denganku? Aku di Hongkong sendirian?", suara Tuan Thom mulai meninggi.



"Siapa bilang kau sendiri anakku? Ada Peter, ada Bibi Gum dan tentu ada semua pelayan dan orang\-orangmu di sini. Oh iya, ada Mamba, Pelo dan Ohyen juga".



Mendengar perkataan Kakek Hong Gania langsung tidak setuju. Ia tidak rela jika nanti Mamba, Pelo dan Ohyen ditinggal.



"Jangan Kakek! Mamba, Pelo dan Ohyen juga harus ikut".



Tuan Thom berbicara dengan nada tinggi dan wajah yang sangat serius. Sebenarnya bukan hanya Tuan Thom yang tidak bisa hidup tanpa Kakek Hong dan Gania. Semuanya juga seperti itu. Kakek Hong tidak bisa hidup tanpa Tuan Thom dan Gania. Apalagi Gania, dia jelas tidak bisa hidup tanpa Tuan Thom dan Kakek Hong. Mereka bertiga ibarat 3 tubuh dengan 1 nyawa yang sama.


"Lagi pula aku sudah memutuskan. Gania akan mulai aku ajarkan tentang bisnis. Cepat atau lambat Gania harus terjun dalam bisnis\-bisnis yang aku punya. Ini penting untuk masa depannya. Menjadi seniman itu keren, tapi jelas tidak ada jaminan Gania bisa hidup makmur dengan karya\-karya seninya".


"Hebat sekali rencanmu itu Thom. Aku setuju-setuju saja jika kau mengajarkan bisnis pada Gania. Tapi bagaimana nasib keinginan Gania? Dia mau belajar seni nusantara. Seni dimana tempat ia dilahirkan. Apa solusinya?".


"Aku akan carikan guru seni untuk Gania. Guru seni itu 1 kali 24 jam bisa mengajari Gania banyak hal. Bila perlu aku akan datangkan langsung dari Indonesia. Sesekali Gania juga bisa pergi ke Indonesia untuk belajar. Tapi hanya sesekali."



Gania paham maksudnya Tuan Thom. Ia duduk mendengarkan sambil mengelus Pelo yang baru saja naik ke atas pangkuannya. Sudah lama Gania menebak bahwa cepat atau lambat dia akan terjun ke dunia bisnis.



"Thom, apa kau sayang pada Gania?"

__ADS_1



Pertanyaan Kakek Hong membuat Tuan Thom mengerutkan dahinya. Tuan Thom langsung menjawab spontan.



"Tentu saja sayang".



"Dan apakah kau takut kehilangan Gania?"



"Tentu saja iya."



"Apa kau nyaman jika berada di dekat Gania?".



"Pertanyaan macam apa itu Ayah? Tentu saja aku nyaman\-nyaman saja."



"Nah, pertanyaan yang terakhir. Apa kau percaya pada Gania".



"Tentu aku percaya". Tuan Thom menjawab singkat.



"Sempurna! Aku sudah tahu jawabannya Thom. Aku sudah tahu jawaban atas pertanyaanku tadi. Wanita seperti apa yang kau mau? Jawabannya sudah jelas, kau mau wanita yang seperti Gania. Nanti akan aku carikan yang seperti Gania. Hahahaha".



Kakek Hong tertawa lebar, Tuan Thom memasang wajah sebal. Tapi jelas sekali Gania jadi bingung. Ia tidak tahu apa yang dimaksud Kakek Hong. Ingin bertanya tapi tidak mungkin menjeda tawa Kakek Hong.


Tuan Thom menyeruput kopinya. Ia mulai kesal lagi mendengar tawa ayahnya. Yang benar saja. Masa iya dirinya akan menikah dengan wanita seperti Gania. Ceroboh, penakut, tukang tidur, makannya banyak dan jelas menurut Thom Gania bukan kriterianya.


"Pelo, ayo kita pergi. Pria dewasa seperti mereka suka aneh. Kita pergi saja".

__ADS_1



Gania berbicara pada Pelo dan langsung menggendong Pelo pergi dari ruang keluarga. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam obrolan pria dewasa. Pelo si kucing abu\-abu hanya diam di dalam gendongan Gania. Malam ini Gania ingin tidur cepat. Seharian ini dia lelah memikirkan nasib temannya Ahcay. Ternyata berpikir saja juga bisa membuat seseorang merasa lelah. Selama Ahcay belum ditemukan rasanya Gania belum bisa tenang.


__ADS_2