Gania & Tuan Thom

Gania & Tuan Thom
Ular Pohon


__ADS_3

"Mungkin itu salahmu Thom, kau selalu saja mengajak wanita-wanita itu kencan di rumah. Seharusnya kau mengajak mereka jalan-jalan keluar. Kalian bisa bermesra-mesraan tanpa takut diganggu Gania atau aku". Uncle Osas membela diri saat Tuan Thom kalap marah padanya akibat insiden Nona kepala botak.


"Jadi maksudmu suasana akan berubah saat aku membawa wanita-wanita itu keluar? Maksudmu kepala botak wanita itu seketika akan berubah menjadi berambut asli saat aku membawanya jalan-jalan ke pinggir pantai? Apa kau sudah gila Osas? Bagaimana bisa kau sekejam ini padaku."


Wajah merah padam Tuan Thom tampak tak bisa disembunyikan. Sementara itu wajah Uncle Osas tampak pias, takut jika seandainya Tuan Thom tiba-tiba melayangkan bogem mentah padanya. Gania malah tidak sempat menanggapi keruwetan antara Tuan Thom dan Uncle Osas, dia sudah tidur dari tadi.


Udara segar pagi hari memenuhi seluruh halaman rumah. Saat itu Gania hanya sendirian di halaman berumput hijau yang luas. Rambut Gania yang panjang dan ikal terikat ditutupi hoody bewarna merah. Pagi itu Gania berniat lari-lari kecil keliling kawasan kediaman Tuan Thom. Belakangan perutnya sering kram dan nyeri jika ia datang bulan. Dokter menyarankan Gania untuk lebih aktif bergerak agar rasa kram dan nyeri di perutnya saat datang bulan bisa lebih ringan.


Di halaman itu ada banyak tanaman yang menghijau dan bunga bewarna-warni. Gania suka bunga dan Tuan Thom suka tanaman hijau maka halaman yang luas ini menjadi salah satu bagian rumah yang terfavorit bagi keduanya. Gania berlari-lari kecil mengitari halaman rumah. Ada beberapa tukang kebun yang sibuk merapikan rerumputan yang mulai tampak panjang.


"Hallo Gania! Selamat pagi anak cantik."


Gania melambaikan tangan ke arah Uncle Osas. Pagi itu Uncle Osas membawa Chincila buaya kesayangannya jalan-jalan pagi. Buaya itu diikatkan tali pita berwarna pink pada lehernya. Bahkan bagian atas kepalanya juga diberi pita. Besok-besok kalau Chincila sudah besar pasti dia bisa saja melahap Uncle Osas sekali telan.


Dengan terus berlari menaiki dan menuruni halaman luas yang memang sedikit menanjak dan menurun itu, Gania tanpa sengaja melihat Tuan Thom. Tuan Thom sedang berolahraga di luar ruangan. Ia tampak sedang push up dengan satu tangan. Gania memperhatikan Tuan Thom dari jauh. Punggung Tuan Thom terlihat penuh dengan otot-otot yang menonjol. Saat itu Tuan Thom tidak menggunakan baju sehingga Gania bisa melihatnya dengan jelas.


Sempurna, di mata Gania bentuk tubuh Tuan Thom terlihat sempurna. Memperhatikan tubuh atletis Tuan Thom membuat jantung Gania tiba-tiba merasa berdebar. Selama ini dia selalu senang jika dipeluk oleh Tuan Thom. Tubuh kekar itu serasa mendatangkan kenyamanan sendiri pada Gania. Lantas Gania berpikir bagaimana seandainya jika pelukan nyaman itu juga dirasakan oleh wanita lain selain Gania. Perasaan tidak rela merasuki hati Gania. Ia merasa tidak rela sama sekali jika ada yang merasakan pelukan nyaman tubuh Tuan Thom selain dirinya. Gania merasa heran, perasaan semacam apa ini? Apakah jangan-jangan diam-diam Gania telah menyukai Tuan Thom? Pertanyaan seperti itu terus berputar di kepala Gania.

__ADS_1


Tuan Thom tidak sadar jika Gania memperhatikannya dari kejauhan. Kali ini Tuan Thom mengganti posisinya. Ia tidak push up lagi melainkan mengambil sikap seperti sikap orang sedang yoga. Hal itu jelas menunjukkan bagian dada kekar Tuan Thom. Dada atletis itu kilat dibasahi dengan keringat Tuan Thom sendiri. Ingin rasanya Gania tidak berkedip melihat itu semua. Perasaan yang ada di hati Gania benar-benar aneh. Gania bahkan tidak bisa mendefinisikan perasaan itu.


"Aaaaaaa!"


Tiba-tiba Gania menjerit, ia kaget karena ada seekor ular pohon jatuh ke bahunya. Ular pohon itu kecil sekali ukurannya dan sebenarnya memang tidak berbahaya, tapi tetap saja membuat Gania ketakutan. Suara Gania tentu saja terdengar oleh Tuan Thom.


"Sedang apa kau disitu Gania?" Tuan Thom datang menghampiri Gania.


"Lari pagi Tuan." napas Gania memburu karena jantungnya hampir saja copot dibuat ular kecil yang sekarang sudah entah lari kemana.


"Kenapa kau menjerit?"


"Jatuh ular Tuan. Eh maksudnya ada ular kecil jatuh tadi ke tubuhku. Untung dia tidak menggigitku". Gania terdengar gagap menjawab Tuan Thom.


"Kau yakin dia tidak menggigitmu? Atau jangan-jangan ular itu telah menggigitmu tapi kau tidak sadar?"


Tuan Thom bertanya sambil memperhatikan tubuh Gania lekat-lekat dari atas sampai bawah. Debar jantung Gania semakin tidak karuan. Apalagi saat ini Tuan Thom memegang kepala Gania dan memperhatikan wajah Gania dan juga punggung Gania. Kedua tangan Tuan Thom bergerak meraba Gania dari atas kepala, leher hingga bahu dan terus turun ke tangan Gania.

__ADS_1


"Jaketmu ini cukup tebal. Kurasa kalaupun ular itu menggigitmu dia tidak akan bisa menembus jaket ini".


Omongan Tuan Thom sama sekali tidak penting bagi Gania. Gania sudah tidak fokus lagi. Bahkan ia sudah tidak peduli jika benar ular itu sudah menggigitnya. Fokus Gania hanya pada tubuh Tuan Thom. Tubuh itu sangat dekat sekali dengan Gania. Setiap keringat yang menetes dari tubuh Tuan Thom entah kenapa jadi membuat Tuan Thom terlihat tampak lebih maskulin dan keren. Jantung Gania sudah tidak bisa dikontrol lagi. Gania melepaskan kedua tangan Tuan Thom dari tubuhnya.


"Maafkan aku Tuan. Aku harus lari lagi. Target lariku belum capai pagi ini."


Sejurus kemudian Gania sudah berbalik badan meninggalkan Tuan Thom. Tapi entah karena sangat tidak fokus atau apa, Gania malah tidak sadar jika di dekatnya ada sebuah kolam ikan mas. Gania terus saja melangkah tanpa tahu jika tiba-tiba.


Byuuur


Gania sempurna masuk ke kolam ikan mas itu. Tuan Thom yang melihat Gania terjatuh ke kolam bukannya menolong Gania ia malah tertawa. Kolam itu memang tidak dalam, hanya sepinggang Gania saja. Namun cara Gania jatuh ke kolam itu sangat lucu. Kaki Gania sampai sempat berada di atas sedangkan tubuhnya terbenam di dasar kolam.


Gania buru-buru bangkit dari kolam. Ia membuka jaketnya, ada banyak ikan mas yang terperangkap di jaket itu. Rasanya malu sekali Gania di hadapan Tuan Thom. Tuan Thom langsung mengulurkan tangannya pada Gania, agar ia bisa keluar dari kolam. Gania menerima uluran tangan itu. Tuan Thom menarik Gania terlalu kuat hingga Gania jatuh menimpa tubuh Tuan Thom. Kejadian itu terjadi sangat cepat dan jangan tanya apa kabar dengan jantung Gania. Debaran jantung Gania bahkan bisa dirasakan oleh Tuan Thom. Wajah Gania dan Tuan Thom saling bertatapan. Di momen itu dunia seakan terhenti sejenak. Gania menahan napasnya dan merasa tubuhnya beku tak bergerak di atas tubuh Tuan Thom.


"Turun dari atas tubuhku Gania, kau bau amis!"


Gania langsung turun dari tubuh Tuan Thom, ia bangkit dan lari masuk ke dalam rumah. Tuan Thom memperhatikan Gania dari belakang. Kejadian yang baru saja terjadi itu juga terasa aneh bagi Tuan Thom.

__ADS_1


__ADS_2