
"Gania, semua kapal\-kapal yang ada di pelabuhan ini sebagian besar adalah milik Tuan Thom. Hebat bukan? Tapi jelas jauh lebih hebat Ayahmu, Ahmad Tuah. Tanpa Ayahmu Gania, Tuan Thom hanya akan menjadi gelandangan. Itupun kalau nasib baik. Kalau tidak, bisa jadi anakku itu cuman akan menjadi hantu di kedalaman laut ".
Gania mengangguk, Kakek Hong sudah sering bercerita tentang kehebatan dan kebaikan Ayahnya, Ahmad Tuah. Malam ini, setelah Kakek Hong menyelesaikan pertemuannya dengan seorang teman di pelabuhan, Kakek Hong meminta Gania menemaninya duduk di pinggir pelabuhan melihat kapal-kapal besar merapat dan melepas jangkarnya. Hanya melihat-lihat saja, tidak perlu ada obrolan berat.
"Kau akan jadi orang hebat Gania, sama seperti Ayahmu."
Kakek Hong mengusap kepala Gania. Bagi Gania, Kakek Hong sangat berarti. Nama asli Kakek Hong adalah Jerrino. Dulu waktu kecil, Gania susah mengingat nama Jerrino, ia lebih suka memanggil dengan sebutan Kakek Hong. Maksudnya Gania adalah Kakek dari Hongkong alias Kakek Hong. Hong disitu adalah singkatan untuk kata Hongkong.
Sambil duduk menikmati pemandangan malam, Gania mengingat\-ingat cerita Kakek Hong padanya. Ia ingat betul cerita Kakek Hong. Cerita tentang bagaimana pertemuan pertama antara Tuan Thom dan ayahnya Ahmad Tuah.
Kala itu Tuan Thom masih menjadi anak buah kapal di sebuah kapal pencari ikan. Jabatan Tuan Thom adalah yang paling rendah di kapal itu. Tugas Tuan Thom membersihkan seluruh bagian kapal hingga bersih. Jika ada yang membutuhkan bantuan, maka nama Tuan Thom yang dipanggil. Singkat kata, Tuan Thom hanya pesuruh di atas kapal.
Nasib buruk menimpa Tuan Thom saat itu. Ia jatuh sakit dan cukup parah. Remaja belasan tahun itu tentu tidak berguna lagi di atas kapal. Nahkoda kapal yang kejam malah marah\-marah dan menyuruh Tuan Thom pergi dari kapalnya. Tapi Tuan Thom tidak mungkin pergi, kapal mereka berada di tengah laut. Mau pergi kemana?
Sakit Tuan Thom bertambah kian parah. Banyak anak buah kapal yang merasa takut jika nanti harus tertular penyakit yang diderita Tuan Thom. Apalagi selama sakit Tuan Thom selalu terbatuk\-batuk. Banyak awam yang tahu, jika sakit yang ada batuknya biasanya membawa virus yang bisa cepat menular. Nahkoda kapal bahkan saat itu berencana besok pagi menjatuhkan Tuan Thom ke laut. Persetan dengan hati nurani. Nanti ketika sampai di darat, tinggal bilang ke orang\-orang jika Tuan Thom mengalami kecelakaan kerja dan tidak sengaja jatuh ke laut, tenggelam tak terselamatkan. Tapi Tuhan ternyata belum mau Tuan Thom mati, Tuhan malah mau mempertemukannya dengan orang baik yang hatinya bening, Ahmad Tuah.
__ADS_1
Paginya, kapal penangkap ikan Tuan Thom bertemu dengan sebuah kapal lain. Kapal itu sepertinya adalah kapal yang mengangkut kebutuhan logistik. Ada beberapa box container besi yang terlihat di atas kapal. Seorang anak buah ajudan kapal datang merapat ke kapal yang ditumpangi Tuan Thom. Niatnya baik, mau membeli ikan tangkapan mereka.
Orang yang dikirim ke kapal itu tidak lain adalah Ahmad Tuah. Setelah membeli ikan dari Nahkoda, Ahmad Tuah berniat langsung pergi. Namun ia tidak sengaja melihat Tuan Thom tergeletak lemah di atas geladak kapal.
"Tuan, kenapa anak buah kapal Tuan yang satu itu?", Ahmad Tuah menunjuk ke arah Tuan Thom.
"Sakit parah, mungkin hanya tinggal menunggu ajalnya saja. Daratan masih jauh. Belum tentu ia bisa bertahan sampai ke sana".
"Ya Tuhan, kasihan sekali. Kapal kami memiliki banyak persediaan obat-obatan Tuan. Kalau Tuan mau menunggu, kami akan ambilkan sebentar ke kapal kami".
Nahkoda kejam itu menggeleng, tandanya tidak setuju. Siapa pula yang akan sempat mengobati orang sakit.
"Perjalanan kami masih lama. Masih berhari\-hari lagi. Kami tidak sempat untuk mengobati siapapun di sini. Bawa saja dia jika anda berkenan. Kami tidak apa kehilangan anak buah kapal yang tak berguna ini. Toh daripada hanya jadi beban".
__ADS_1
Mendengar perkataan sang nahkoda kapal, Ahmad Tuah paham. Ia membawa Tuan Thom yang saat itu sudah tinggal setengah sadar. Maka Tuan Thom pindah dari kapal penangkap ikan ke kapal pengangkut logistik. Ahmad Tuah merawat Tuan Thom dengan telaten hingga sakitnya berangsur\-angsur membaik. Bahkan ketika mereka sudah merapat ke daratan, Tuan Thom malahan sudah sembuh.
Jika kita berhutang uang pada seseorang maka cara membayarnya mudah, cukup dengan uang pula dalam jumlah yang sama, selesai. Tapi bagaimana jika kita berhutang budi? Maka itulah yang dirasakan Tuan Thom selama ini. Ia harus membayar budi baik Ahmad Tuah melalui Gania. Tanpa Ahmad Tuah, sudah pasti Nahkoda kejam itu akan membuang Tuan Thom ke dalam laut.
"Apa yang kau pikirkan Gania?"
Kakek Hong penasaran melihat Gania yang dari tadi hanya termenung diam. Gania menenguk cokelat panas di tangannya. Diam\-diam Gania mengusap ujung ekor matanya. Matanya selalu berair jika mengingat tentang sejarah hidup ayahnya.
"Tidak apa Kakek. Aku hanya mengingat cerita kakek tentang awal mula Ayahku dan Tuan Thom bertemu."
Mendengar itu, Kakek Hong tersenyum. Sama seperti Gania, Kakek Hong juga meminum minuman yang ada di tangannya, tapi kopi bukan cokelat panas.
Kakek Hong sadar benar jika Gania adalah copy paste dari Ahmad Tuah. Hati anak dan ayah ini sama lembutnya. Lihatlah kemarin saat Gania tahu jika Pelo dipukul dengan high heels oleh Nona Floriana, ia menjerit dan langsung mencari Pelo. Ternyata Pelo luka pada bagian kaki depannya. Gania menangis sejadi\-jadinya melihat darah yang ada di kaki Pelo. Ujung sepatu high heels itu lancip, melukai kaki Pelo cukup dalam. Gania menggendong Pelo langsung ke dokter hewan. Untunglah Pelo selamat dan lukanya segera dibebat.
Kakek Hong tidak tahu, sebenarnya Gania menangis karena dua hal. Pertama karena kasihan melihat kaki Pelo yang berdarah. Kedua karena menyesal sekali. Ganialah yang sudah memasukkan kucing\-kucing itu ke dalam ruang makan. Tapi tidak ada yang tahu selain dirinya dan Bibi Bum yang saat itu membantu Gania menemukan Mamba, Pelo dan Ohyen.
__ADS_1
Malam semakin larut, Gania semakin mengantuk. Kakek Hong akhirnya puas menikmati keindahan pelabuhan malam itu. Ia mengajak Gania untuk segera pulang kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Gania langsung menuju kamarnya. Ia melihat Pelo yang sedang tidur. Dipeluk dan diciumnya Pelo. Kucing abu\-abu itu hanya menggeliat. Besok\-besok kalau ada lagi wanita asing yang menemui Tuan Thom, Gania berjanji tidak akan mengirimkan kucing lagi tapi buaya sekalian.