Gania & Tuan Thom

Gania & Tuan Thom
Lio & Ston


__ADS_3

"Siapa kamu?" Gania bertanya langsung pada pria bertopi koboi yang sudah membeli lukisannya seharga 1000 koin.


"Hai Nona, apa kabar? Apa kau masih ingat denganku?"


Pria itu membuka topinya dan tersenyum pada Gania. Wajahnya jelas sangat asing, Gania mengobrak-abrik memori ingatannya. Dia mencari tahu siapa sebenarnya pria ini. Sejurus kemudian Gania ingat.


"Ya ampun, kamu Lio kan? Penyanyi tampan di acara pernikahan Lingling?"


Ekspresi kaget Gania membuat Lio tertawa. Dia memang benar Lio atau lengkapnya Julio, orang yang pernah memperkenalkan dirinya pada Gania di pernikahan Lingling. Kala itu Lio membawakan lagu pesanan Ahcay.


"Aha, kau ingat rupanya. Terimakasih masih mengingatku Nona manis. Aku senang bisa membeli karyamu. Meskipun tidak murah memang. Tapi baiklah, selalu ada harga yang pantas untuk sebuah karya seni bukan?"


"Tetapi kenapa kau mau membelinya dengan harga semahal itu?"


"Aku terpaksa Nona. Tuan yang di sampingmu tadi tampaknya tidak mau mengalah. Dari penampilannya jelas dia pasti punya uang yang lebih dari cukup untuk membeli karyamu. Aku takut aku tidak bisa memilikinya, jadi aku langsung menawarnya dengan harga yang tinggi."


Gania memperhatikan wajah Lio. Ketampanannya cukup membuat mata Gania susah berkedip. Tampaknya Lio memang masih sepantaran dengan Gania.


"Tapi kenapa kau tertarik dengan lukisan itu?"


"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada karyamu Nona. Dan tolong jangan ditanya kenapa aku bisa jatuh cinta. Dalam hidup ini nona, kita bisa jatuh cinta tanpa alasan."


Lio akhirnya pamit pada Gania, ia bilang bahwa dirinya masih memiliki banyak urusan. Gania masih tetap berdiri mematung memperhatikan Lio yang sekarang sibuk membawa lukisannya untuk dibawa pulang. Tuan Thom juga mengajak Gania pulang, nanti malam akan ada acara makan-makan untuk merayakan kelulusan Gania. Di dalam mobil Gania banyak bertanya pada Tuan Thom.

__ADS_1


"Kenapa Tuan mengalah di 1000 koin? Kenapa tidak menawarkan angka yang lebih tinggi?".


"Astaga Gania, kau masih berpikir aku benar-benar mau membeli karya lukisanmu itu? Di rumah saja sudah ada banyak karya lukismu. Bahkan karena terlalu banyaknya sampai ada yang dibuat untuk menambal dinding kandang Chincila, buaya imut kita. Ada juga beberapa yang akhirnya untuk markas Mamba, Pelo dan Ohyen. Siapa yang peduli dengan lukisanmu itu?"


"Kalau tidak mau dibeli kenapa ditawar?" Gania penasaran.


"Itu trik Gania, agar orang yang bertopi koboi itu menawar lebih mahal. Ah, kau memang tidak tahu apa-apa dalam masalah mencari keuntungan."


Gania tidak paham dengan maksud Tuan Thom. Pastinya dia masih tidak percaya karya seninya bisa laku hingga 1000 koin. Kakek Hong berkali-kali mengucapkan selamat pada Gania atas pencapaiannya itu.


"Jika semua karya seniku bisa seharga 1000 koin, aku bisa jadi orang kaya raya." Wajah Gania terlihat sangat optimis.


"Jangan bermimpi Gania. Menurutku orang bertopi koboi itu rabun atau malah hanya sedang sakau. Nanti setelah sakaunya selesai dia pasti akan menyesal setengah mati karena telah membeli karya jelekmu itu."


Malam itu Koki Bahri menyiapkan makanan yang banyak sekali. Semua orang ikut makan bersama di ruang makan. Mereka merayakan kelulusan Gania. Ada banyak orang yang memberi Gania kado kelulusan termasuk Uncle Osas.


"Ayo dibuka kado dariku Gania!"


Mendengar perkataan Uncle Osas, Gania jadi semakin ragu. Ia takut jika ternyata isi kado itu malah buaya lagi atau justru lebih menyeramkan. Menggoyang-goyangkan kado itu adalah salah satu cara Gania menebak apa isinya. Kotak kado ini terasa ringan, seharusnya di dalamnya bukan sesuatu yang membahayakan. Gania memberanikan diri membuka kadonya.


"Hah? Batu?" Gania heran ternyata isi kado itu ternyata sebuah batu.


"Paman memberiku hadiah batu?" Gania menyakinkan Uncle Osas.

__ADS_1


Uncle Osas mengangguk kencang. Dia menyeringai dan menunjukkan baris giginya yang putih


"Itu bukan batu biasa Gania. Batu itu diambil dari kedalaman sungai Nil, nun jauh di pedalaman Afrika sana." Uncle Osas memuji batu itu seperti itu adalah harta yang berharga.


Batu itu ukurannya tidak terlalu besar, hanya segenggaman tangan Gania. Warnanya hampir sama seperti batu sungai pada umumnya cokelat kehitaman. Berat baru itu juga hanya seperti berat batu biasa.


"Batu itu punya nama Gania. Namanya "Ston". Kau panggil saja batu itu Ston".


"Batu ini punya nama?"


Gania tidak habis pikir dengan cara berpikir Uncle Osas. Bagaimana mungkin sebuah batu punya nama? Beberapa batu memang ada namanya seperti batu berlian, batu saphir, batu pualam tapi itu hanya nama-nama klasifikasinya saja. Ketika sebuah batu dinamai dengan nama layaknya manusia atau hewan itu jelas aneh bagi Gania.


"Suatu hari nanti batu itu pasti akan berguna untukmu Gania. Simpan saja batu itu di tasmu. Bawa kemana saja saat kau pergi". Uncle Osas berbicara dengan serius.


"Benar itu! Simpan saja batu itu Gania. Siapa tau batu itu lama-lama bisa menjadi besar. Setelah batu itu besar kau bisa tinggal di balik batu itu. Sama seperti bintang laut di film kartun yang sering kau tonton, tinggal di balik batu," kata Tuan Thom disusul tawa semua orang.


Tidak mau ambil pusing dengan batu itu Gania hanya meletakkannya sembarang di atas meja makan. Mereka semua mulai menikmati sajian makanan yang disediakan Koki Bahri. Ada banyak hidangan lezat yang sudah pasti memanjakan perut. Hari ini adalah hari istimewa, tentu saja semua hidangannya juga sangat istimewa. Hampir semua makanan favorit Gania ada di atas meja. Rasanya Gania jelas akan kekenyangan setelah makan malam ini. Sebenarnya prosesi perayaan kelulusan Gania terbilang sederhana. Mereka bisa saja pergi makan di tempat mewah yang ada di Hongkong ketimbang hanya makan di rumah. Tapi menurut Tuan Thom, perjalanan Gania masih sangat panjang. Perayaan besar-besaran justru terasa terlalu berlebihan.


Setelah makan, Gania membawa batu itu ke kamarnya dan meletakkannya di dalam tas. Ia merasa aneh sekali kenapa pula dia harus menuruti perkataan Uncle Osas. Tuan Thom melihat kejadian itu malah tertawa.


"Hari ini kau memasukkan batu itu ke tas. Besok-besok kau akan mengajaknya jalan-jalan. Nanti-nanti kau akan berbicara dengan batu itu hahahaha".


Mendengar ejekan Tuan Thom Gania membuat ekspresi wajah yang tidak enak. Bukankah dulu Tuan Thom yang selalu mengajarinya untuk bisa menghargai pemberian orang lain? Sekarang Gania hanya mempraktekkannya. Tapi tanpa diketahui Gania dan Tuan Thom, sebenarnya batu itu memang akan benar-benar berguna nanti.

__ADS_1


__ADS_2