Gania & Tuan Thom

Gania & Tuan Thom
Pertemuan Pertama Gania & Izako Bagian 2


__ADS_3

"Apa yang sedang kalian cari?"


Suara Koki Bahri mengagetkan Gania dan Izako. Saat itu Gania sudah kenal dengan Koki Bahri. Ia sering bertemu dengan Koki Bahri di dapur dan ruang makan.


"Mencari kelinci", jawab Gania polos.


"Kelinci?". Seketika Koki Bahri langsung lari ke kandang kelinci.


"47. Astaga, hanya 47! Mana satu ekor lagi?"


Wajah Koki Bahri tampak panik. Namun wajah Izako juga tidak kalah panik.


"Mana satu lagi kelinciku Izako?", tanya Koki Bahri.


"Lepas".


"Apa? Lepas kau bilang? Matilah aku. Besok apa yang mau kumasak Izako? Bagaimana ini? Cepat cari Izako. Kelinci itu harus genap 48, sesuai dengan umur Tuan Wong. Jika kurang satu saja, maka bahaya sekali!"


"Maafkan aku! Aku akan mencarinya. Pasti aku akan menemukannya".


"Apa yang becus pekerjaanmu Izako? Lihatlah dahimu bahkan masih berdarah. Tapi berani-beraninya kau malah menghilangkan kelinciku. Cari sekarang!"


Saat itu Gania kebingungan, apa yang dimaksud Koki Bahri bahwa ia bingung apa yang akan dimasak besok? Apa jangan-jangan kelinci itu mau dimasak juga? Semua pertanyaan itu tidak sanggup dibendung Gania.


"Kenapa Tuan Koki panik?" tanya Gania.


"Gania, itu kelinci titipan dari rekan bisnis kepercayaan Tuan Thom namanya Tuan Wong. Besok Tuan Wong akan berulang tahun yang ke 48 tahun. Menurut tradisi turun temurun di keluarganya, setiap berulang tahun, mereka harus memasak kelinci sebanyak umur mereka. Umur Tuan Wong genap 48 tahun besok, makanya kelincinya juga harus 48. Kelinci itu besok akan aku jadikan sate kelinci yang enak. Tentu untuk dimakan bersama. Tuan Wong sangat percaya pada Tuan Thom. Itu sebabnya dia meminta Tuan Thom yang menyembelih 48 kelinci itu dan kemudian aku yang memasaknya. Sekarang bagaimana ini? Kelincinya malah hilang. Padahal aku sudah meminta Izako tadi siang agar menjaga kelinci-kelinci itu. Habislah aku!"


Terperangah Gania mendengar penjelasan Koki Bahri. Bagaimana mungkin makhluk selucu dan seimut itu akan dimasak, dijadikan sate. Belum sanggup Gania membayangkan, air matanya sudah meleleh duluan. Ia tidak kuasa menahan sedih dan kecewanya. Seumur hidup dia belum pernah memegang kelinci. Baru saja ia memeluk kelinci-kelinci itu, besok mereka semua sudah akan mati dijadikan sate.


"Kau kenapa menangis Gania? Ya Tuhan, cobaan macam apa lagi ini?", Koki Bahri tambah panik mendengar Gania menangis. Sekarang sempurna tangis Gania tambah kencang.


Banyak para bodyguard rumah yang berdatangan, mereka memastikan jika keadaan baik-baik saja. Kakek Hong juga datang.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut? Gania? Kenapa kau menangis? Ada apa ini? Koki Bahri, cepat jelaskan!", suara Tuan Thom terdengar tegas.

__ADS_1


"Kelinci Tuan Wong hilang satu Tuan. Izako penyebabnya. Jangan tanya kepadaku Tuan kenapa Nona kecil ini menangis. Aku juga tidak tahu penyebabnya."


"Panggil Izako ke sini!"


Tidak lama setelah instruksi dari Tuan Thom, Izako langsung datang menghadap. Wajah dan bajunya yang sedari tadi berantakan, malah tambah kacau sekali. Sementara Gania tetap menangis. Tangisan ala anak umur 10 tahun.


"Kau itu apa Izako?", tanya Tuan Thom dengan nada berat.


"Bodyguard Tuan."


"Apa tugasmu sebagai bodyguard?"


"Menjaga dan melindungi Tuan."


"Apa yang kau jaga?"


"Dirimu beserta semua yang ada di dalam rumah ini."


"Oh, begitu menurutmu?"


"Kenapa dahimu itu?"


"Aku habis latihan tadi Tuan."


"Dengarkan aku baik-baik Izako. Bagaimana bisa kau ingin menjaga dan melindungiku beserta semua yang ada di rumah ini? Jangankan menjagaku, menjaga kelinci saja kau tidak mampu. Kau tidak becus dalam bekerja. Jika kelinci saja tidak bisa kau jaga, lalu apa lagi yang bisa kuharapkan darimu? Tidak ada satu orangpun yang akan mau dijaga oleh bodyguard sepertimu Izako. Tidak ada. Camkan itu!"


"Aku mau! Aku mau dijaga Izako!"


Terperanjat semua orang yang ada di situ. Suara itu keluar dari mulut Gania yang dari tadi sibuk menangis. Suaranya parau akibat tangisannya. Semua mata tertuju pada Gania.


"Tuan Thom kejam! Tuan Thom jahat! Tuan Thom pembunuh!"


Suasana berubah seketika ketika Gania mengatakan itu semua. Anak umur 10 tahun ini mencengangkan banyak orang. Belum ada rasanya yang berani bicara seperti itu di hadapan Tuan Thom.


"Apa maksudmu Gania? Baru saja aku mau bertanya padamu kenapa kau menangis. Kau malah sudah mengagetkanku duluan."

__ADS_1


"Tuan Thom kejam. Jika Tuan tidak mau dijaga Izako, biar aku saja yang dijaga olehnya!" Gania berjalan ke belakang tubuh Izako. Ia seperti orang yang berlindung pada penjaganya.


"Kenapa Tuan tega mau menyembelih kelinci-kelinci itu? Mereka sangat lucu, sangat imut, sangat pantas untuk panjang umur. Daripada mereka mati dan jadi sate, lebih baik Tuan saja sana yang disate."


Tuan Thom menghela napasnya. Wajahnya tampak kesal sekali. Ia tahu duduk perkaranya sekarang. Gania menangis karena tidak rela kelinci-kelinci itu dijadikan sate. Kakek Hong yang juga melihat kejadian itu malah tertawa terpingkal-pingkal. Ia geli mendengar ucapan polos Gania yang mengatakan dengan mudahnya biar anaknya si Thom saja yang disate.


"Gania, aku tanya padamu. Kelinci itu punya siapa?"


"Punya itu, siapa tadi? Tadi namanya sudah dibilang Koki Bahri. Kelinci itu punya Tuan Yong"


"Wong Gania, bukan Yong", Koki Bahri meluruskan.


"Iya itu maksudnya."


Kakek Hong tertawa terpingkal-pingkal lagi dan lagi. Ia tahu Tuan Thom merasa kesal, tapi apa mau dikata, tidak mungkin juga ia marah-marah pada Gania. Gania masih 10 tahun dan dia baru di rumah ini. Bagaimanapun juga Tuan Thom tidak akan tega dan harus membuat Gania betah.


"Kau tahu jika kelinci-kelinci itu punya Tuan Wong kan Gania? Maka apa hakmu melarang Tuan Wong menyate kelinci-kelincinya? Itu punya dia. Terserah dia mau diapakan."


"Tuan jahat! Tuan Thom jahat!"


"Cukup hentikan Thom!" Kakek Hong menyela.


"Thom, ayolah anakku. Kau tidak akan berdebat masalah kelinci pada anak umur 10 tahun kan? Ini sudah larut malam, biarkan Gania tidur. Kasihan dia!"


Tuan Thom hanya diam, dia tidak merespon apa-apa.


"Gania tidak mau tidur. Gania akan pastikan sendiri jika kelinci-kelinci itu akan selamat".


"Ayolah Gania sayang. Turuti kata Kakek Tua ini. Jangan seperti ini anak manis. Baiklah begini saja, Kakek menawarkan jalan tengah. Kelinci itu tidak akan disembelih sampai Tuan Wong datang. Ketika Tuan Wong datang besok, kau bisa membujuknya untuk tidak jadi menyate kelinci-kelincinya. Tuan Wong baik, kau pasti berhasil. Percaya pada Kakek."


"Sungguh?" Gania meyakinkan.


"Sungguh! Besok begitu Tuan Wong datang, Kakek langsung yang akan menemanimu untuk berbicara dengan Tuan Wong. Aku tahu kau pandai membujuk Gania. Sama seperti Ayahmu dulu, Ahmad Tuah. Jadi mari sekarang kita tidur saja. Aku akan mengantarmu ke kamar."


"Aku tidak mau diantar Kakek. Gania mau diantar oleh Izako, bodyguardku."

__ADS_1


Tuan Thom mendelik. Batinnya berteriak enak saja Gania memanggil Izako dengan sebutan bodyguardku. Siapa yang menyuruh? Kakek Hong tertawa lagi. Sempurna sudah malam itu, Gania sendiri yang telah memilih Izako sebagai bodyguardnya.


__ADS_2