Gania & Tuan Thom

Gania & Tuan Thom
Menjelang Hari Kelulusan


__ADS_3

"Semuanya harus datang. Nanti kita bisa berfoto bersama".


Sore itu Gania mengundang seisi rumah untuk datang ke acara kelulusannya. Lusa Gania resmi lulus dari sekolah seninya. Sekolah seni ini bukan sekolah seni biasa. Begitu lulus, semua para siswa-siswinya akan langsung mendapatkan gelar setingkat sarjana seni atau Bachelor of Arts.


Bukan tanpa alasan dulu Gania memilih sekolah seni seperti ini. Bakat seni Gania memang sudah ada sejak kecil. Sekolah itu juga bukan seperti sekolah bagi Gania melainkan hanya sebuah tempat bermain. Melukis, membuat prakarya dan berbagai kegiatan seni lainnya adalah hobi Gania. Jelasnya Gania hidup tanpa beban di sekolah.


"Kami pasti datang Gania". Bibi Bum mengepalkan tangannya sambil tersenyum.


Gania menoleh pada Izako dan Izako hanya mengangguk. Tentu saja tidak perlu diragukan, Izako pasti datang. Tidak hari kelulusanpun, Izako akan selalu ada di sekolah mengawasinya. Lalu Gania menoleh pada Peter dan Uncle Osas yang belum pulang ke Afrika. Uncle Osas malah tertawa girang.


"Santai Gania, Uncle Osasmu ini pasti akan datang. Aku akan datang membawa kado yang besar dan ..."


"Jangaaaan!"


Belum selesai Uncle Osas berbicara semuanya sudah berteriak "Jangan". Mereka takut Uncle Osas akan membawa kado dengan isi buaya lagi. Bagus jika buaya, bagaimana jika ternyata lebih mengerikan dari buaya? Macan? Singa? Ular atau Gorila sekalian. Uncle Osas tertawa melihat ekspresi semuanya.


"Jangan khawatir Gania, Kakek pastikan semuanya akan hadir di acara kelulusanmu."


Gania merasa lega mendengar perkataan Kakek Hong. Setelah selesai memberi kabar pada seisi rumah, Gania pergi ke kamarnya. Ia mengambil sebuah album tempat dimana dirinya suka menempel foto-foto unik di sekolahnya. Ada banyak foto lucu di sana termasuk fotonya bersama Ahcay. Gania teringat akan Ahcay, seharusnya lusa Ahcay juga ikut dalam acara kelulusan itu. Tapi apa boleh buat, bahkan keberadaan Ahcay saat ini juga belum diketahui. Gania merasa tidak percaya jika Ahcay terlalu hebat dalam urusan kabur-kaburan.


Banyak sekali foto yang tertata rapi di album itu, termasuk foto saat pertama kali Tuan Thom mengantar Gania ke sekolah seninya. Sejak awal Tuan Thom sudah menduga jika Gania memiliki bakat seni. Bakat seni ini tidak lain tidak bukan diturunkan dari ayahnya Gania, Ahmad Tuah.


Gania mengingat cerita Kakek Hong tentang kehebatan ayahnya dalam melukis. Bahkan ayahnya pernah mengajari Tuan Thom melukis tapi gagal. Tangan Tuan Thom lebih bersahabat dengan uang dan senjata dibandingkan dengan kuas lukis.

__ADS_1


Dulu setelah Tuan Thom berhasil diselamatkan oleh Ahmad Tuah dari nahkoda yang kejam, Tuan Thom sangat berterimakasih pada Ahmad Tuah. Tuan Thom sudah sangat pasrah saat nahkoda ingin menenggelamkannya. Mau melawan juga percuma, tidak ada tenaga lagi yang dimiliki oleh Tuan Thom.


"Aku Thom", Tuan Thom memperkenalkan diri pada Ahmad Tuah setelah kondisinya membaik.


"Oh ya? Aku Ahmad Tuah. Kau bisa panggil aku Tuah".


"Kenapa kau mau menolongku Tuah? Kau bahkan tidak tahu namaku?"


"Dan kenapa aku tidak boleh menolongmu hanya karena aku tidak tahu namamu?"


Saat itu Ahmad Tuah tersenyum. Itu senyum paling tulus yang pernah Tuan Thom temui semasa hidupnya. Kala itu, Tuan Thom masih remaja, ia tidak begitu cakap dalam bekerja. Keahliannya juga sangat sedikit tapi satu hal yang pasti jangan ragukan sifat kerja keras dan mau belajar Tuan Thom.


"Kita sudah ada di daratan sekarang. Aku akan pulang kemana aku harus pulang. Apa kau punya tujuan?"


Sejak lahir Ahmad Tuah yatim piatu dia tinggal bersama warga desa. Ahmad Tuah memiliki rumah sendiri, rumah itu dibangunnya sendiri. Ukuran rumah itu tidak besar tapi lebih dari cukup untuk ditinggali dirinya dan Tuan Thom. Sesampainya di rumah, mereka memutuskan untuk beristirahat dan lalu Ahmad Tuah menyiapkan hidangan makan malam.


"Jika dilihat dari wajahmu kau jelas buka orang negeri ini Thom. Darimana asalmu?"


"Hongkong. Aku orang Hongkong."


"Astaga, aku pernah menginjakkan kaki ke sana. Kota itu begitu gemerlapnya, ada banyak bos kapal besar yang bermarkas besar di Hongkong. Kau seharusnya jadi salah satu di antara mereka Thom, bukannya malah jadi kacung di atas sebuah kapal penangkap ikan".


Tuan Thom saat itu hanya diam. Rasanya ia ingin mengutukki dirinya sendiri yang lebih sering bernasib sial. Kenapa nasib serasa begitu kejam padanya. Tapi sebenarnya apa yang dikatakan Ahmad Tuah sangat membekas di hati Tuan Thom. Semua kata-kata itu serasa ada benarnya. Seharusnya ia menjadi salah satu diantara bos besar pemilik banyak kapal. Nanti beberapa tahun yang akan datang jelas hal itu jadi kenyataan.

__ADS_1


Di rumah Ahmad Tuah ada banyak lukisan. Lukisan-lukisan itu cantik sekali, sebagian besar lukisan itu adalah gambar kapal, bunga, tumbuhan dan juga bentangan alam. Ahmad Tuah bercerita jika ia sendiri yang melukis semua lukisan itu.


"Makanlah Thom, ini masih panas dan lezat. Aku tahu kau bosan makan ikan, aku masakkan semur ayam kampung. Ada tetangga baik yang sangat senang dengan kepulanganku hari ini. Dia memberiku ayam kampung, seekor jago. Ini lezat sekali."


Perut Tuan Thom saat itu memang sedang lapar. Ia makan dengan lahap semur ayam kampung buatan Ahmad Tuah. Selain pandai melukis, Ahmad Tuah juga pandai memasak.


"Ganiaaaa!"


Lamunan Gania tentang Tuan Thom dan ayahnya terpecah. Bibi Gum memanggilnya untuk menyuruhnya ke ruang makan. Waktu makan malam sudah datang. Kakek Hong, Tua Thom dan juga Uncle Osas sudah menunggu di ruang makan.


"Gania, kenapa lama sekali? Saat ini aku sudah sangat ketagihan dengan masakan Koki Bahri. Koki yang satu ini masakannya lezat sekali. Aku ini hobi makan Gania, besok-besok kalau kau mau memasakkan makanan untukku jangan ragu. Semua jenis makanan bisa masuk ke perutku".


Uncle Osas berbicara dengan logat yang sangat khas. Gania hanya duduk di kursi makan dan tersenyum pada Uncle Osas.


"Jangan berharap Osas. Anak ini mau kau suruh masak apa? Masak air saja pasti gosong." Tuan Thom berbicara sambil menatap Gania.


"Ah sungguh? Dulu ayahmu sangat pandai memasak Gania. Masakannya enak sekali,"


tampaknya Uncle Osas tidak percaya.


"Jika Gania memasak, rumah ini bisa kebakaran Osas. Daripada aku harus sibuk menghubungi pemadam kebakaran lebih baik anak ini melukis saja di kamar".


Ejekan Tuan Thom sangat tidak enak didengar. Gania memasang wajah tidak suka dan Kakek Hong juga Uncle Osas hanya tertawa menikmati penderitaan Gania.

__ADS_1


__ADS_2