
"Thom, bagaimana nasib ki...ki...ta? suara Uncle Osas terbata-bata bertanya pada Uncle Thom.
Tuan Thom mengangkat parangnya ke atas sejajar dengan dada. Obor yang ia pegang diangkat tinggi. Suasana hening mencekam, belum pernah rasanya Tuan Thom merasa menjadi bagian dari calon mangsa yang siap di terkam kalau-kalau benar ada harimau di hadapan mereka. Ia berharap harimau itu tidak ada di depannya. Jejak. Dengan senter yang dibawa oleh Uncle Osas, Tuan Thom menyenter jejak di tanah. Tadi sore sepulang kerja hujan turun membasahi perkebunan sawit. Tanah dipastikan basah dan cukup untuk memberikan jejak harimau. Tuan Thom menarik napasnya dalam-dalam, di dekat musang malang itu jelas ada jejak kaki harimau, besar. Harimau itu besar, Tuan Thom bisa menyimpulkan itu dari jejak kaki yang ada di tanah. Jika diterka-terka panjang badan harimau ini tidak kurang dari 2 meter. Itu terlihat dari jarak antara kaki depan dan kaki belakang yang tercetak di tanah.
"Kau jangan berisik Osas. Tidak ada gunanya juga kita berteriak, tidak akan ada yang dengar. Kita terlalu jauh dari rumah." Tuan Thom memberi instruksi.
Jangankan berteriak, berbisik saja Uncle Osas sudah pasti tidak sanggup. Di dalam kepalanya sudah penuh dengan rasa takut dan bau kematian. Anak SD juga tahu jika harimau itu karnivora dan suka makan daging yang banyak. Di antara dirinya dan Tuan Thom jelas daging dirinyalah yang paling banyak. Bisa dipastikan harimau itu akan menerkamnya.
Mereka berdua tidak terus mengikuti jejak harimau itu. Entah kemana harimau itu melangkah bukan menjadi soalan bagi mereka berdua. Mereka bukan pemburu yang berniat memburu harimau. Lagi pula orang bodoh mana yang mau berburu harimau dengan hanya bermodal parang seadanya. Tuan Thom terus maju melangkahkan kaki ke depan diikuti oleh Uncle Osas. kesunyian malam membuat jantung Uncle Osas semakin berdebar, bagaimanapun harimau adalah binatang senyap. Tidak ada yang tahu kapan ia akan menerkam. Mata, telinga dan tangan Tuan Thom sempurna berada dalam sikap waspada. Tuan Thom muda memang sudah dibekali dengan ilmu bela diri, tapi apa artinya ilmu bela diri jika berhadapan dengan insting pembunuh didikan alam liar, harimau.
Selangkah demi selangkah Tuan Thom terus maju. Gerakan mereka berdua tidak tergesa-gesa tapi juga tidak terburu-buru. Sejurus kemudian Uncle Thom terhenti langkahnya. Bukan karena ada sesuatu di depan sana. Tapi karena ia mendengar langkah Uncle Osas terhenti. Tanpa menoleh ke belakang Tuan Thom bertanya.
__ADS_1
"Ada apa Osas? Kenapa kau berhenti?"
"Th...thom, aa aaa aada se se se suatu di di di bela kang ki ki....."
Belum sempat Uncle Osas menjawab penuh, makhluk buas itu telah lompat dari dalam gelap. Tinggi lompatannya hingga 3 meter, ia muncul dari arah belakang. Sial sekali. Makhluk itu jelas akan mendarat sempurna di atas tubuh Uncle Osas. Wajahnya yang ganas, taringnya yang panjang, kukunya yang tajam dan bobotnya yang sudah mencapai batas maksimum harimau Sumatera membuat Uncle Osas lumpuh berdiri tak bisa bergerak. Tuan Thom tentu tidak bisa berbuat banyak, dia berada beberapa meter tadi Uncle Osas. Detik waktu serasa berhenti, seperti detak jantung Uncle Osas yang juga terasa terhenti seketika. Namun....
"Aaaaaaaaaaa......"
Tepat di belakang harimau itu berdiri seseorang melompat dan menghujamkan tombak panjang dari atas ketinggian pohon sawit. Tombak itu menghujam punggung harimau itu tepat di bagian belakang lehernya. Tubuh harimau itu nyaris menimpa Uncle Osas, tapi tangan Tuan Thom sudah cekatan menariknya hingga tubuh gendut itu terjerembap ke tanah. Sadar dirinya di serang dari arah belakang, harimau itu mencoba meronta. Tuan Thom dengan cekatan, menebaskan parang yang dipegangnya ke arah kaki harimau itu. Harimau itu melawan, sudah bersimbah darah tapi tenaganya masih kuat. Satu cakaran mendarat di punggung Tuan Thom. Bahkan ia sempat berguling di tanah dengan harimau itu. Suara harimau itu jelas mengerikan tapi Tuan Thom tidak menyerah. Ia terus menghujamkan parang yang ada di tanggannya. Harimau itu terkapar, tampaknya ia banyak kehabisan darah karena tombak yang pas tertancap di area yang vital.
"Ya..." Tuan Thom terengah-engah, cakar harimau itu jelas lumayan dalam. Hanya saja ia tidak tahu darah yang ada di tubuhnya adalah darahnya semua atau sudah tercampur dengan darah harimau itu.
__ADS_1
Tuan Thom segera dipapah Ahmad Tuah dan Uncle Osas untuk bisa mencapai rumah penduduk terdekat. Begitu mengetahui ada harimau menyerang, salah satu warga langsung membunyikan kentongan di depan rumah tanda bahaya. Semua warga terbangun dari lelapnya dan mengerubungi Tuan Thom dan juga mengamankan harimau yang sudah terkapar itu. Saat warga ke tempat kejadian, harimau itu masih bernapas. Namun akhirnya warga memutuskan untuk menghabisi harimau itu agar tidak ada teman-teman si harimau yang melihat. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, harimau adalah makhluk pendendam. Jika mereka melihat temannya dibunuh, maka mereka kaum harimau tidak segan untuk datang lagi ke perkebunan demi membalaskan dendam. Entah kepercayaan itu benar atau tidak, tapi beberapa pria dewasa langsung menggotong harimau itu ke dalam lubang besar dan menimbunnya. Tidak ada yang berniat untuk mengambil kulitnya apalagi sampai memajang kepalanya di ruang tamu. Konflik dengan harimau bukan hal main-main di perkebunan yang berbatasan langsung dengan hutan ini.
Punggung Tuan Thom cukup parah juga ternyata. Perban segera dibebatkan di sana. Ia tergeletak di atas tikar seadanya. Uncle Osas mengipasi Tuan Thom yang sedikit meringis menahan sakit.
"Bagaimana bisa kalian sebodoh ini? Keluar malam-malam hanya untuk sebuah catatan gaji?" Ahmad Tuah menggerutu sambil menyelimuti tubuh Tuan Thom.
Tadi sudah ada pihak dokter perkebunan yang memeriksa Tuan Thom. Dokter itu menyarankan agar Tuan Thom tidak bekerja dulu dan banyak beristirahat. Obat bius penghilang rasa sakit juga sudah diberikan pada Tuan Thom. Tapi tetap saja sebelum obat bius itu bekerja, Tuan Thom harus menikmati perihnya cakaran harimau itu.
"Apa kalian tidak sadar? Harimau itu sudah mengikuti kalian dari lama sejak pertama kali kalian masuk ke area perkebunan yang gelap dan rimbun. Tadi Osas saat pergi lupa menutup pintu. Aku yang tidur di dipan kedinginan dan terbangun. Kaget sekali aku melihat rumah kosong. Untunglah aku segera keluar dan mendapati kalian sudah berada di seberang jalan. Aku tidak tahu mau kemana kalian berdua, tapi melihat langkah Thom yang terburu-buru aku jelas tahu itu pasti urusan penting. Maka aku memutuskan untuk mengikuti kalian dari belakang. Sebelum pergi aku sempatkan mengambil tombak di dinding rumah tetangga kita. Tombak itu adalah tombak yang biasa dipakai berburu ****. Firasatku sudah tidak enak, maka aku harus berjaga-jaga. Benar saja, aku melihat dari jauh ada harimau besar itu mengikuti kalian dari belakang. Tentu aku tidak berani memberi tahu kalian karena takut si harimau kalap. Aku tunggu momen yang tepat untuk menancapkan tombak itu ke lehernya. Untunglah harimau itu hanya fokus pada kalian, hingga ia tidak sadar ada aku di belakangnya. Saat ia ingin menerkam Osas itulah saat yang tepat, aku naik ke atas pohon sawit sedikit lebih tinggi walau tidak sampai ke puncaknya. Dan apa yang kalian lihat seterusnya itulah yang terjadi."
Tuan Thom mengusap wajahnya yang berkeringat. Ia merasa bodoh sekali, bagaimana mungkin ia bisa alpa jika harimau selalu menyerang dari belakang bukan dari depan. Malam itu entah sudah yang keberapa kalinya ia utang nyawa pada Ahmad Tuah.
__ADS_1
"Nah... begitulah ceritanya Gania. Jadi jika bukan karena ayahmu, mungkin Tuan Thom dan aku sudah dikunyah-kunyah oleh harimau itu."
Mulut Gania ternganga mendengar cerita Uncle Osas. Ia bahkan sudah tidak peduli dengan Mamba, Pelo dan Ohyen yang kabur dari bak mandinya. Cerita itu sangat menyeramkan bahkan Gania seolah-olah bisa merasakan kengeriannya. Malam yang mencekam, harimau yang buas serta keberanian ayahnya patut diingat terus di memori otak Gania. Kisah tentang penaklukan si nenek ini sangat luar biasa.