Gania & Tuan Thom

Gania & Tuan Thom
Perampokan Museum


__ADS_3

"Menunduk Gania, tetap berada di belakangku!" Izako menyeru pada Gania.


Gania tetap menunduk dan berlindung di belakang tubuh Izako yang kekar. Hari itu seharusnya Gania tidak perlu berhadapan dengan situasi yang mengerikan seperti ini. Jika saja tadi dia lebih memilih ikut Kakek Hong ke rumah Bibi Bum pasti kejadiannya tidak semendebarkan sekarang. Saat ini Gania sedang berada di salah satu museum ternama di Hongkong yang sedang dirampok.


Awalnya Gania hanya ingin jalan-jalan melihat salah satu koleksi terbaru museum yang digadang-gadang merupakan lukisan dari zaman abad pertengahan. Ada banyak koleksi bernilai jutaan dollar di sini dan itu adalah akar dari semua masalah. Museum ini sedang di rampok, tidak jelas benda apa yang mau dirampok oleh para perampok ini. Jika ada yang merampok sebuah bank, maka sudah pasti mereka ingin merampok uang. Nah, masalahnya sekarang yang di rampok adalah sebuah museum, jelas tujuan dari rampok-rampok ini adalah barang-barang berharga koleksi museum. Alarm tanda bahaya museum berbunyi. Izako langsung bisa menangkap situasi genting yang sedang terjadi. Izako meminta Gania untuk berlindung, dalam situasi mendesak bisa saja rampok itu melukai Gania.


"Kita harus apa sekarang Izako?" Gania bertanya panik.


"Keluar! Kita harus keluar dari museum ini. Ikutin aku Gania!"


Gania mengikuti Izako dari belakang, ia tetap berusaha untuk menunduk dan berlindung pada Izako. Dalam situasi ini Gania tau jika Izako sangat bisa diandalkan. Para pengunjung museum juga sibuk berlari menuju pintu keluar. Suara petugas yang berusaha menenangkan pengunjung menggema keluar dari sejenis speaker yang ada di beberapa titik museum, tapi jelas itu sia-sia.


Keberuntungan belum berpihak pada Gania dan Izako, satu-satunya akses pintu keluar museum ditutup. Penutup pintu itu bukan pihak museum melainkan para perampok museum. Beberapa orang perampok berjaga di pintu itu. Jelas sekali Gania bisa melihat perampok-perampok itu membawa senjata api berlaras panjang. Semua wajah perampok ditutupi dengan topeng hitam. Para pengunjung yang terjebak di dalam museum panik.


Dor!


Suara letusan senjata terdengar. Salah satu perampok itu menembakkan senjatanya ke atas. Semua pengunjung refleks merunduk dan mengangkat tangan. Izako membawa Gania merunduk berlindung di salah satu meja museum.

__ADS_1


"Kalian yang ingin selamat, tetap diam di tempat! Jika ada gerakan sedikit saja, aku minta maaf kalau harus mengirim nyawa kalian pada Tuhan sekarang juga!"


Gania menggigit bibirnya. Sebelah tangan Izako menggenggam tangan Gania, tapi sebelah lagi memegang pistol andalannya. Izako bersiap dengan kemungkinan paling buruk yang bisa saja terjadi. Saat ini keselamatan Gania harus menjadi prioritas utama Izako.


Sebenarnya pengunjung museum hari itu tidak terlalu ramai. Saat itu jam sudah merupakan jam sore atau mendekat jam tutup museum. Hanya ada beberapa pengunjung yang masih tersisa di dalam, termasuk Gania dan Izako. Petugas museum semuanya digiring ke tengah gedung. Moncong senjata tepat berada di pelipis mereka. Sekali saja mereka bergerak, mereka pasti bisa mati. Beberapa perampok tampak sibuk membawa beberapa koleksi museum, mungkin itulah barang-barang yang ingin mereka rampok. Gania juga bisa melihat dari celah bagian meja, beberapa security tampak terduduk lemas tak berdaya.


Dari luar sudah terdengar suara sirine mobil polisi. Sepertinya sudah ada banyak mobil polisi yang terparkir di luar sana. Izako memberi isyarat pada Gania untuk tetap tenang dan jangan bersuara apalagi sampai panik. Semuanya masih tampak aman terkendali sampai salah satu perampok yang menggunakan kemeja merah tiba-tiba memberondong pelurunya ke segala arah. Ada banyak orang yang terkena tembakan itu. Izako langsung membalas tembakan itu guna menghentikan aksi brutal perampok berkemeja merah. Tembakan Izako tidak meleset, perampok brutal itu tumbang seketika. Tapi tentu situasi menjadi tidak terkendali. Perampok lain yang menyadari teman mereka tewas jelas menjadi berang. Mereka semua mengarahkan senjatanya ke arah para pengunjung dan bersiap untuk menembak.


"Stop! Berhenti semuanya!"


Salah satu perampok mengambil tempat di tengah museum. Sepertinya ia adalah pemimpin rombongan dari para perampok ini. Hal itu dikarenakan topeng yang ia kenakan sangat berbeda dari yang lainnya. Topeng itu bewarna kuning cerah, berbeda dari topeng lainnya yang bewarna hitam.


"Siapa tadi yang menembak? Kau jelas bukan orang sembarangan. Tembakanmu sangat tepat sasaran," suara pemimpin rampok ini jelas semakin menakutkan.


Izako tidak bergeming dari tempatnya. Ia tetap bersembunyi di belakang meja. Untunglah ada banyak orang yang panik berlarian tadi saat dibrondong tembakan beruntun. Situasi itu menguntungkan karena para perampok tidak bisa melihat posisi Izako dengan jelas. Sampai saat ini, Gania tidak paham mengapa polisi belum juga bergerak. Tampaknya para perampok ini sudah menjadikan semua para pengunjung sebagai tahanan sandera. Sedikit saja polisi berani masuk, maka habislah.


"Baik, dengarkan aku Tuan penembak jitu. Kami hanya ingin mengambil barang-barang berharga di museum ini. Awalnya kami ingin melakukannya dengan cepat, tapi ternyata tidak bisa. Rencana awalnya kami tidak ingin melukai siapapun di dalam museum ini. Tapi maafkan aku, ternyata temanku tadi khilaf dan tidak bisa mengontrol dirinya. Aku juga tidak mau marah padanya, toh nyawanya juga sudah hilang".

__ADS_1


Intonasi dan nada bicara sang pemimpin rampok jelas sangat tenang. Tampak sekali ia sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Kaki Gania gemetar, tragedi tembak-tembakan tadi membuatnya tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.


"Tuan penembak jitu, sebaiknya serahkan dirimu padaku. Setelah itu kami akan pergi meninggalkan semuanya dalam keadaan baik-baik saja." Pemimpin rampok itu memberi instruksi.


Di tengah situasi yang semakin mencekam terdengar suara keras polisi yang sibuk bernegosiasi dengan salah satu rampok yang lain. Negosiasi itu jelas alot namun intinya tetap sama, polisi tidak boleh masuk atau semuanya akan hanya tinggal raga tanpa nyawa.


Izako tetap tenang. Ia tetap tidak bergeming sama sekali. Tapi bahayanya pimpinan rampok itu juga sama tenangnya. Orang-orang yang tetap tenang dalam kondisi seperti ini adalah orang-orang yang berbahaya.


"Jika kau tidak mau keluar Tuan penembak jitu, maka izinkan aku memaksa."


Pimpinan itu menarik salah satu pengunjung dan mengarahkan senjatanya ke kepala pengunjung tersebut. Pengunjung tersebut berteriak histeris tapi tidak berkutik. Izako tidak punya pilihan lain, ia keluar dari persembunyiannya. Tapi sebelum keluar, Izako memberi isyarat agar Gania tetap bersembunyi.


"Aku di sini, lepaskan dia! Jangan salahkan aku, temanmu itu pantas mati." suara Izako tegas dan tidak gentar sama sekali.


Justru yang aneh adalah ekspresi dari pemimpin rampok itu. Dia terlihat kaget ketika melihat Izako. Izako mencium hal yang aneh, dia merasa pemimpin rampok ini seperti sudah mengenalnya.


"Aku tau dirimu, kau bodyguard nona manis itu. Jika ada dirimu, pasti ada si nona manis itu. Hey, dimana dia? Dimana si nona manis itu?"

__ADS_1


Gania membeku mendengar perkataan perampok itu. Bagaimana mungkin perampok itu mengenalinya? Siapa perampok itu? Jantung Gania berdebar sangat kencang. Apalagi sekarang derap langkah kaki perampok itu jelas menuju ke arahnya.


__ADS_2