Gania & Tuan Thom

Gania & Tuan Thom
Uncle Osas & Chincila


__ADS_3

"Aduh Thom, 15 tahun kita tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu kawan. Aku tidak menyangka kita masih bisa bertemu. Thom aku sangat sedih sekali mendengar kabar Ahmad Tuah sudah tidak ada lagi. Oh tidak Thom, sungguh aku senang sekali kita bisa bertemu. Rasanya semua ini seperti mimpi."



Pria itu menangis sambil memeluk Tuan Thom. Tuan Thom balas memeluknya. Gania tidak kenal siapa orang ini yang barusan datang ke rumah. Begitu sampai rumah, ia langsung memeluk Tuan Thom dan meracau mengatakan banyak hal. Gania memasang kuping karena jelas orang itu menyebut nama ayahnya, Ahmad Tuah.



Berbadan besar dengan tubuh gendut dan kulit hitam legam membuat orang ini cukup menakutkan bagi Gania. Bila disuruh menebak, Gania yakin pria ini berasal dari Afrika. Kulit dan wajahnya jelas menggambarkan hal itu. Setelah selesai terisak\-isak di pundak Tuan Thom, orang itu juga memeluk Kakek Hong.



"Hanya ini keluargaku yang tersisa, Ayahku dan Gania." Tuan Thom berbicara dengan suara lembut.


"Gania? Astaga Thom. Cantik sekali anakmu ini. Benar tebakanku tadi, pasti Peter berbohong. Aku tidak percaya ketika Peter mengatakan bahwa kau belum menikah sampai sekarang. Lihat ini, anak gadismu seperti ini. Istrimu pasti cantik sekali Thom."


Spontan Kakek Hong dan Gania tertawa begitu mendengar perkataan pria berkulit hitam ini. Wajah Tuan Thom sejenak menjadi masam.



"Peter tidak berbohong. Aku memang belum menikah. Gania, perkenalkan ini Uncle Osas, dia juga teman ayahmu dulu. Dan Osas, perkenalkan, ini Gania. Kau boleh jadi tidak mengenalnya, tapi jelas kau mengenal ayah Gania, Ahmad Tuah."



Gania sekarang paham jika pria berkulit hitam dan gendut ini bernama Uncle Osas. Wajah Uncle Osas tampak bingung.



"Jadi sungguh kau belum menikah? Lalu kau katakan gadis ini anaknya Ahmad Tuah? Sungguh?"



Tuan Thom menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Uncle Osas. Tanpa terduga Uncle Osas langsung ingin memeluk Gania. Gania tentu saja mengelak dan Tuan Thom segera menarik tubuh Uncle Osas.



"Apa apaan kau ini, jangan asal main peluk"



Selama ini Tuan Thom memang tidak membiarkan Gania dipeluk siapapun kecuali dirinya dan Kakek Hong, itupun hanya dalam situasi tertentu saja.


__ADS_1


"Maafkan aku Thom. Aku terlalu terharu. Bertahun\-tahun aku berdoa agar bisa bertemu dengan Ahmad Tuah, tapi kenyataannya pahit. Aku tidak mungkin bisa bertemu dengannya lagi. Tapi lihat siapa di depanku ini, Putrinya. Ini luar biasa Thom. Aku senang sekali hari ini".



"Osas, sudahlah. Kau akan lama tinggal di sini. Ada banyak waktu untuk bisa ngobrol bersama dan melepaskan rindu." Kakek Hong bicara dengan nada bijaksana.



"Baiklah Kakek Hong. Tapi izinkan aku memberi hadiahku pada Gania. Awalnya hadiah ini ingin aku berikan pada Thom. Namun karena ada anak Ahmad Tuah disini, maka aku akan memberikan kado khusunya untuk Gania saja. Ini Gania terimalah".



Kado itu berukuran cukup besar dan juga berat. Gania penasaran dengan isinya. Ia membuka kado itu dan tanpa terduga isi kado itu langsung membuat Gania melompat ke atas kursi.



"Buayaaaa!". Gania menjerit histeris, mencampakkan kado itu beserta isinya.



Kakek Hong juga melompat terkejut. Kado itu isinya benar\-benar buaya. Buaya yang bisa bergerak dan jelas masih hidup. Ekornya bergoyang dan ukurannya hampir setengah meter. Uncle Osas hanya tertawa melihat Gania dan Kakek Hong yang ketakutan. Tuan Thom mendelik melihat ada buaya di rumahnya. Buaya ini memang tidak besar dan masih anakan, tapi jelas lincah sekali.



"Kenapa kalian takut? Ini buaya Afrika. Hebat sekali buaya ini, aku tangkap sendiri di sungai Nil dan rawat sendiri. Buaya adalah binatang peliharaan yang menggemaskan".




"Hari ini kau bawa buaya ke rumahku Osas. Besok apalagi? Singa Afrika? Gajah Afrika? Kuda Nil? Astaga Osas, ini rumahku bukan kebun binatang".



Uncle Osas tertawa. Saat Uncle Osas tertawa semua lemak yang ada di tubuhnya bergoyang. Sebenarnya itu lucu, tapi Gania tidak bisa tertawa karena terlanjur takut dengan buaya.



"Ayolah Thom, ini hanya buaya. Nanti Gania bisa memasangkan tali bewarna pink di leher buaya ini. Lalu mengajak buaya ini jalan\-jalan sore. Oh iya, buaya ini punya nama. Namanya Chincila."



Chincila? Itu nama yang terlalu imut untuk seekor buaya Afrika. Gania juga tidak sudih mengajak jalan\-jalan buaya itu. Buaya tetap buaya, nanti kalau sudah besar buaya itu bisa saja mencaplok Gania. Tuan Thom menyuruh Peter mengandangkan buaya itu. Buaya itu tidak boleh lepas. Jika lepas bahaya sekali, buaya ini bisa menelan Mamba, Pelo dan Ohyen .

__ADS_1



"Berjanjilah padaku kau akan merawat Chincila dengan baik Thom. Bagaimanapun juga Chincila itu binatang menggemaskan!".



Tuan Thom tidak menjawab, entah kenapa dia harus memiliki teman seperti Osas. Dulu mereka bertiga bersama Ahmad Tuah memang pernah menghabiskan waktu bersama, berjuang melawan kehidupan. Tapi Osas berbeda dengan Ahmad Tuah. Dia memang baik, tapi tingkahnya keseringan lucu dan absurd.



"Aku membawakan kado seekor buaya bukan tanpa alasan Thom. Aku hanya ingin bernostalgia. Kau ingat dulu? Bokongmu pernah digigit buaya saat sedang memancing ikan di sungai? Hahahaha".



Tuan Thom mendelik, tentu saja dia ingat. Tapi Tuan Thom tidak suka Uncle Osas menceritakannya. Bagi Tuan Thom itu aib. Apalagi Kakek Hong mulai ikut tertawa dengan cerita Osas.



"Aku yakin Thom, buaya itu pasti buaya betina. Dia gemas melihat bokongmu lalu mengigitnya".



Kali ini Gania juga ikut tertawa mendengar cerita Uncle Osas. Cara Uncle Osas bercerita sangat lucu sekali. Apalagi saat ia bercerita tangannya juga ikut bergerak. Saat tertawa hanya gigi Uncle Osas yang terlihat. Lucu sekali menurut Gania.



"Cukup Osas! Cukup cerita memalukannya itu! Apa kau tidak lapar? Kau jauh\-jauh datang dari Afrika. Ayo makan."



Tuan Thom kesal pada Osas, tapi bagaimanapun juga Osas sudah datang jauh dari Afrika. Ia layak dijamu dengan hidangan lezat ala Koki Bahri. Ketika menuju ruang makan, Gania berjalan di belakang Tuan Thom dan memperhatikan bokong Tuan Thom.



"Apa yang kau lakukan Gania? Kenapa kau melihat ke arah bokongku sampai segitunya?"



"Eh, aku hanya mau memastikan kalau bokong Tuan Thom masih ada dan tidak hilang, kan tadi katanya digigit buaya".



Uncle Osas dan Kakek Hong sejurus kemudian langsung tertawa terbahak\-bahak. Mereka menertawai sikap polos Gania. Muka Tuan Thom merah karena malu ditertawakan. Ia langsung meneriaki Gania dan yang diteriaki langsung lari cepat\-cepat menghindar dari ancaman.

__ADS_1



"Ganiaaaaa!"


__ADS_2