
"Semuanya sudah saya bereskan Tuan. Teman\-teman Nona Gania juga sudah diantar pulang."
Peter memberi laporan pada Tuan Thom begitu ia kembali dari kantor polisi. Setelah mendapat kabar dari Izako, Tuan Thom langsung mengutus Peter untuk menyelesaikan semua permasalahan malam itu juga. Bersama pengacara handal Tuan Thom, Peter membebaskan Gania, Bella, Reymond dan Izako dari tuduhan keterlibatan penculikan Lingling.
Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Tuan Thom menggunakan piyama bewarna gelap duduk di sofa menunggu Gania. Seharusnya saat ini dirinya memang sudah tidur. Tapi tentu Tuan Thom tidak bisa tidur jika urusan Gania belum selesai. Sementara itu, Gania masuk ke dalam rumah sambil menunduk, firasatnya sudah tidak enak.
"Takut dimarahi?"
Mendengar suara berat Tuan Thom langkah Gania langsung terhenti. Gania hanya mengangguk, ia memang takut dimarahi oleh Tuan Thom.
"Jujur padaku sekarang Gania, sungguh kau tidak terlibat?"
Merespon pertanyaan Tuan Thom, Gania menggeleng cepat. Ia memang sama sekali tidak terlibat dalam pelarian Ahcay dan Lingling. Gania bahkan tidak menyangka jika Ahcay akan senekad itu.
"Lalu kenapa dia menelponmu sesaat setelah membawa kabur mempelai wanita itu?"
Gania masih tetap menunduk. Ia tidak berani menatap mata Tuan Thom. Dalam hal ini sebenarnya Gania tidak salah apa-apa. Tapi terkadang kita memang harus menanggung akibat dari kesalahan teman dekat kita.
"Tidak tahu kenapa".
Singkat sekali jawaban Gania. Pertama karena memang tidak tahu mau menjawab apa lagi. Kedua karena Gania sudah sangat mengantuk. Mulutnya bahkan mulai menguap. Tuan Thom masih tetap duduk di atas sofa sementara Gania berdiri di depannya dengan wajah lelah.
"Mulai besok kau tidak bisa menggunakan handphone untuk sementara waktu. Handphonemu disita pihak yang berwajib. Siapa tahu nanti Ahcay akan menghubungimu lagi."
__ADS_1
Gania hanya mengangguk tanda mengerti. Tidak masalah baginya untuk tidak menggunakan handphonenya yang lama. Nanti dia bisa mencari ganti handphone yang baru.
"Kau tau Gania, berurusan dengan polisi itu adalah makananku sehari\-hari. Tapi rasanya baru kali ini aku berurusan dengan polisi untuk masalah remeh temeh cinta\-cintaan seperti ini. Aku tidak mau hal ini terjadi lagi. Jangan berteman dengan orang yang aneh\-aneh Gania. Jika kau berteman dengan tukang parfum kau akan ikut merasakan wanginya, tapi jika kau berteman dengan pandai besi, kau akan terkena paparan panasnya. Apa kau paham?"
Gania mengangguk lagi. Itu tandanya Tuan Thom tidak suka jika dirinya berteman dengan Ahcay. Gania tahu jika Ahcay sebenarnya remaja yang baik. Tapi entah apa yang terjadi. Cinta sudah membuat akal sehat Ahcay kehilangan kewarasan. Saat ini dia bahkan resmi menjadi buronan di seantero Hongkong.
"Ahcay anak baik Tuan, dia itu..."
"Jangan membantah Gania. Hari ini dia membawa kabur Lingling. Besok bisa jadi kau yang dibawa kaburnya. Sekarang masuk ke kamar dan tidur!"
Gania melangkahkan kaki dengan lemah ke kamarnya. Malam ini rasanya sangat melelahkan. Gania berharap ini semua cuman mimpi buruk, tapi tidak ini semua nyata. Nyata sekali. Karena teramat lelahnya, Gania tidak sempat membuka sepatu dan bajunya. Ia langsung menjatuhkan diri di tempat tidur dan langsung tertidur pulas. Parahnya bahkan Gania lupa menutup pintu kamar.
Keesokan paginya, Gania bergegas menelepon Reymond dengan telepon rumah. Dia penasaran apakah pihak yang berwajib sudah menemukan Ahcay dan Lingling atau belum. Gania harap sudah.
"Hallo Rey, bagaimana Ahcay? Sudah ditemukan?"
"Belum Gan, aku juga heran kenapa lama sekali ditemukannya. Aku berharap Ahcay dan Lingling baik-baik saja. Sungguh sampai sekarang aku tidak tahu setan apa yang bisa merasuki Ahcay. Gania, sebaiknya kau jangan sampai jatuh cinta seperti Ahcay. Nanti tiba-tiba otakmu bisa jadi error"
Gania menutup telponnya dengan Rey, ia kecewa dan rasanya tubuhnya masih lelah. Tapi tampaknya tidak ada waktu untuk istirahat sekarang, ia harus bersiap\-siap pergi bersama Kakek Hong dan Tuan Thom. Hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan orangtua Peter. Kakek Hong dan Tuan Thom diundang ke acara itu dan tentu saja Gania juga.
Di sepanjang perjalanan menuju ke tempat orangtua Peter Gania menyempatkan diri tidur di mobil. Tuan Thom dan Kakek Hong membiarkannya. Mereka tahu jika tenaga Gania banyak terkuras tadi malam. Sesampainya di kediaman orangtua Peter, Kakek Hong membangunkan Gania.
"Selamat datang Tuan Thom dan Kakek Hong. Suatu kehormatan bagi kami bisa menerima tamu seperti kalian. Dan tentu saja selamat datang Gania. Apa kau baik-baik saja Gania? Matamu terlihat merah".
__ADS_1
Suara Ayah Peter tampak sangat senang melihat kedatangan rombongan Tuan Thom. Tuan Thom dan Kakek Hong membalas sapaan itu dengan ramah. Sementara Gania pamit ke kamar mandi untuk mencuci wajah ngantuknya sebentar.
Kedua orangtua Peter sudah tua. Usianya tidak jauh dengan Kakek Hong. Saat ini Peter adalah orang yang paling di percaya oleh Tuan Thom. Ada masalah apapun, Tuan Thom akan mengutus Peter. Jika masalahnya terlalu berat baru Tuan Thom akan turun tangan sendiri.
Acara ulang tahun pernikahan itu diadakan di antara bukit\-bukit hijau yang cantik. Pemandangan alam yang sejuk membuat mata Gania menjadi segar dan tidak ngantuk lagi. Gania mengambil sebuah kado besar dari dalam mobil lalu menyerahkannya pada orangtua Peter.
"Kakek dan Nenek, berapa usia pernikahan kalian sekarang?" Gania bertanya setelah menyerahkan kadonya.
"50 tahun Gania. Kami genap menikah tepat 50 tahun yang lalu. Dulu kami menikah juga di tempat seperti ini. Penuh bukit hijau dan juga di pagi hari yang cerah."
Ayah Peter menjawab dengan sangat bangga. Menurut Gania usia pernikahan 50 tahun itu sangat luar biasa. Cinta orangtua Peter memang sangat sejati.
"Kakek Nenek, doakan nanti Gania kalau sudah menikah bisa langgeng seperti kalian ya."
Tuan Thom mendelik mendengar Gania. Doa macam apa itu, memangnya Gania mau menikah besok?
"Kamu kenapa Thom? Tidak suka Gania bilang begitu? Gania ini bukan anak kecil lagi Thom. Dia sudah jadi gadis yang cantik. Temannya Lingling itu saja sudah menikah. Makanya kau harus cepat menikah Thom. Jangan sampai nanti Gania duluan yang menikah".
Mendengar Kakek Hong, semua orang yang ada di sana tertawa. Tuan Thom jadi salah tingkah. Ia mengelap dahinya dengan sapu tangan. Dalam hatinya tidak rela jika sampai Gania harus menikah duluan. Itu tidak boleh terjadi.
__ADS_1