
"Jadi kau dendam padaku Carlos? Kau sakit hati padaku lantaran aku tidak percaya padamu lagi? Kau sakit hati karena tidak ada proyek yang bisa kau tangani? Jawab aku Carlos!"
Suara bentakan Tuan Thom bergema di ruangan interograsi berdinding tebal yang hanya berukuran 4 x 3 meter itu. Wajahnya jelas merah padam dan hanya tertuju pada orang yang duduk di depannya.
Orang yang duduk di depannya itu kondisinya cukup mengenaskan. Wajahnya penuh lebam, rambutnya berantakan, kemeja putih yang ia kenakan penuh darah. Semua kondisi buruk itu semakin lengkap dengan kedua tangannya yang terikat.
"Hari ini Carlos, begitu tahu bahwa kaulah dalang dari usaha penculikan Gania, aku sama sekali tidak menyesal telah membuangmu dari kehidupanku. Kau tidak hanya pantas dibuang dari hidupku, tapi juga pantas dibuang dari bumi ini!"
Jelas hanya suara Tuan Thom yang terdengar di ruangan ini. Orang yang diajak bicara hanya diam menunduk. Entah karena menyesal atau memang tidak kuat lagi untuk sekedar mengangkat kepala. Tuan Thom memang sengaja ingin menginterogasi mantan orang kepercayaannya ini empat mata.
Tadi siang, begitu Izako berhasil meringkus 5 orang bertopeng yang ingin menculik Gania, orang-orang Tuan Thom langsung berhasil mengamankan semuanya. Bahkan dengan cepat mereka bisa mendesak salah satu pria bertopeng untuk membuka mulut, memberi informasi siapa yang menyuruh mereka.
Carlos, Carlos adalah mantan salah satu tangan kanan Tuan Thom yang sempat diberi kepercayaan untuk menangani bisnisnya di wilayah Macau. Tapi pada bisnis yang terakhir, Carlos menghancurkan bisnis Tuan Thom. Carlos curang, curang yang benar-benar terencana. Ia menjual dokumen penting perusahaan pada rival bisnis Tuan Thom di Macau. Tentu saja Tuan Thom berang, ia mengalami kerugian yang cukup besar. Dengan berat hati, Tuan Thom membuang Carlos dari segala sendi-sendi bisnisnya.
"Kenapa diam Carlos?", suara amarah Tuan Thom tampak melunak.
"Aku mau menghancurkanmu Thom, menghancurkanmu sejadi-jadinya. Kau seharusnya memaafkanku, memberikan kesempatan kedua padaku. Saat itu aku salah memang. Tapi apa tidak bisa kau memberikanku kesempatan kedua? Bisnismu ada banyak Thom. Kehilangan satu yang di Macau jelas tidak berarti bagimu", akhirnya Carlos angkat bicara.
Tuan Thom mengerenyitkan dahinya. Tatapan matanya tajam menghujam ke arah Carlos.
"Kau bilang apa tadi? Kesempatan kedua? Bagiku memang selalu ada kesempatan kedua bagi semua orang di dunia ini Carlos, tapi tidak untuk sebuah pengkhianatan. Oh Tuhan, aku bahkan rela membunuh seribu orang sepertimu Carlos, jika itu bisa menghidupkan kembali seseorang bernama Ahmad Tuah".
Ahmad Tuah, hanya itu satu-satunya nama yang paling diingat Tuan Thom ketika berbicara tentang pengkhianatan. Seumur hidupnya Ahmad Tuah tidak pernah berkhianat padanya dalam urusan apapun. Bahkan sekalipun sebenarnya Ahmad Tuah memiliki sejuta kesempatan untuk berkhianat.
__ADS_1
"Kau bilang kau ingin menghancurkanku bukan? Jika memang benar? Kenapa kau tidak langsung membunuhku? Kenapa justru Gania yang menjadi sasaranmu? Apa aku target yang terlalu berat", Tuan Thom menarik napas dalam-dalam. Ia memberi jeda bagi Carlos untuk menjawab.
"Membunuhmu tidak akan menyakitimu Thom, tapi menyakiti Gania akan membuat kau mati secara perlahan. Kau akan mati dengan rasa bersalahmu. Jelas sekali kau bahkan lebih mencintai gadis itu dibandingkan dirimu sendiri."
Perkataan Carlos singkat, tapi serasa sangat membekas di hati Tuan Thom. Jika diselami, apa yang dikatakan oleh Carlos tidak meleset sedikitpun. Bahkan memang benar adanya jika Tuan Thom bahkan lebih mencintai Gania dibandingkan dirinya sendiri.
Tuan Thom melemparkan pandangan matanya ke dinding. Ia tidak bisa membantah Carlos kali ini. Sudah 8 tahun ia hidup bersama Gania. Merawat dan membesarkan gadis itu seperti anak sendiri. Menyuapi Gania makan saat ia sakit, menemani Gania bermain, menyekolahkan Gania bahkan jika ia tidak ada urusan, ia rela menemani Gania melakukan hobinya melukis atau menulis puisi.
Tuan Thom memejamkan mata cukup lama. Tanpa menoleh ke arah Carlos ia langsung menuju keluar ruangan interogasi. Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun ketika meninggalkan Carlos.
"Apa yang harus kita lakukan pada Carlos Tuan?", Peter tangan kanan Tuan Thom bertanya.
"Berikan dia pada yang berwajib Peter, ajukan gugatan percobaan penculikan bahkan percobaan pembunuhan terencana. Pastikan ia mendapatkan hukuman yang paling berat. Biarkan dia berkarat di dalam penjara!"
"Apa Gania sudah bangun Bibi Bum?", Tuan Thom bertanya pada Bibi Bum yang tidak sengaja berpapasan dengannya.
"Sudah Tuan, Gania lapar, ia terbangun. Baru saja menuju meja makan. Sekarang dia sedang makan bersama kakek", Bibi Bum menjelaskan dengan cepat.
Tuan Thom langsung menuju ke ruang makan. Ia mendapati kakek dan Gania sedang makan malam. Seperti biasa, di ruang makan juga ada beberapa koki dapur dan kepala kokinya yaitu Koki Bahri. Harum jamur khas masakan Koki Bahri sudah tercium dan menggugah perut untuk lapar seketika.
"Aha, Thom! Mari-mari anakku, kita makan besar malam ini. Setidaknya untuk merayakan keselamatan Gania, Wonder Woman kita" Kakek Hong langsung menyadari kehadiran Tuan Thom.
Karena mendengar kata Wonder Woman, Koki Bahri tertawa. Geli rasanya mendengar kata-kata Wonder Woman disematkan pada Gania. Rasanya tidak ada cocoknya sama sekali.
__ADS_1
"Malam Bahri, apa masakan andalanmu malam ini?" pertanyaan Tuan Thom menghentikan tawa Koki Bahri.
"Sup jamur segar dan arsik ikan mas dengan andaliman yang mantab Tuan. Jauh-jauh aku memesan andaliman ini. Andaliman khusus yang tumbuh di tanah Karo. Hari ini Gania mengalami hari yang berat Tuan. Maka aku pastikan tenaganya akan pulih jika memakan makanan khas daerah kampungnya dulu, Indonesia." Koki Bahri menjelaskan dengan bersemangat.
Gania tidak memperdulikan basa-basi yang ada di meja makan ini. Mulutnya sibuk mengunyah daging ikan mas segar. Kakek Hong, mengibas-ngibaskan tangannya, tanda menyuruh Tuan Thom segera makan. Tanpa instruksi dua kali, Tuan Thom langsung menyantap makanan yang ada di depannya.
Untuk masalah rasa, Koki Bahri jelas tidak pernah mengecewakan. Orang Padang satu ini, sudah melalang buana dalam belajar memasak. Puncak karirnya ia pernah menjadi Koki di sebuah restoran ternama di Prancis. Andalan masakan Koki Bahri adalah masakan khas Indonesia. Walaupun tetap ia bisa memasak menu dari berbagai penjuru dunia lainnya.
Gania yang membuat Koki Bahri lebih sering memasak masakan Indonesia dibandingkan masakan yang lainnya. Tuan Thom dan Kakek Hong juga tidak merasa keberatan. Siapa pula yang akan keberatan jika disajikan rendang Padang, sate Madura, soto Medan, empek-empek Palembang dan berbagai makanan lezat khas Indonesia lainnya. Ditambah lagi yang memasak adalah Koki kelas dunia, maka semuanya serasa sempurna.
Setelah semua hidangan kandas, Kakek Hong menyerahkan hadiah pada Gania.
"Apa ini kek?" tanya Gania.
"Dibuka dulu, baru tanya Gania. Jangan kebiasaan kamu ini apa-apa tanya dulu!", Kakek menjawab sambil tersenyum.
Isi dari kado itu ternyata adalah hasil jepretan Gania tadi siang sebelum ia diculik. Sebelum aksi penculikan terjadi, Gania memang sempat mengambil beberapa foto dengan kameranya. Foto taman kota itu akan ia jadikan lukisan untuk tugasnya Minggu depan.
"Astaga Kakek, Gania kira ini hilang, ternyata ada, bagus pula hasil fotonya. Lukisanku nanti juga harus bagus sama seperti foto ini", Gania tersenyum manis sekali.
"Melukislah yang bagus Wonder Woman!", Tuan Thom tiba-tiba meledek Gania.
Seluruh penghuni ruang makan tertawa kecuali Gania. Ia paham jika julukan Wonder Woman itu hanya cibiran. Mana ada Wonder Woman yang kakinya lemas dan ketakutan saat akan diculik.
__ADS_1