Gania & Tuan Thom

Gania & Tuan Thom
Pertemuan Pertama Gania & Izako Bagian 1


__ADS_3

Izako dan Gania dipertemukan oleh takdir Tuhan yang tak tertepiskan. Hari itu adalah hari pertama Gania menginjakkan kakinya di kediaman Tuan Thom. Kala itu Gania hanya terheran-heran melihat rumah Tuan Thom yang besar dan sangat mewah. Bahkan Gania sendiri takut jikalau dia harus tersesat di rumah sebesar itu. Kediaman Tuan Thom ibarat labirin yang memiliki banyak sekat dan ruang. Semua dilakukan Gania dengan serba kikuk. Gania kecil yang polos masih banyak bertanya pada Kakek Hong tentang ini dan itu. Apa ini? Apa itu? Ini untuk apa? Ini bagaimana cara pakainya? Semua pertanyaan-pertanyaan polos itu dijawab dengan sabar oleh Kakek Hong. Saking polosnya Gania kecil, ia bahkan mengira kloset model duduk sebagai tempat untuk cuci muka. Untunglah Gania belum sempat cuci muka di situ.


Rasa asing dan sulit beradaptasi menjadi tantangan tersendiri bagi Gania. Ia bingung harus melakukan apa saja di rumah sebesar itu. Apakah dia harus bermain dengan ikan mas? Berguling di atas rumput hijau nan lembut? Mencoba berenang di kolam biru yang jernih? Semua aktivitas serasa akan menyenangkan di rumah itu. Namun apapun ceritanya, tetap ada gumpalan rindu di hati Gania. Rindu akan ibu dan ayahnya. Rindu akan kampung halamannya nun jauh di negeri sana.


Malam itu Gania duduk di salah satu balkon rumah. Ia sedang bermain boneka yang lucu-lucu. Ada banyak boneka yang disediakan oleh Tuan Thom. Meskipun Tuan Thom belum pernah mengurus anak-anak, setidaknya dia tahu jika yang namanya anak perempuan pasti suka boneka. Ada banyak boneka yang dibelikan Tuan Thom. Boneka beruang, boneka kucing, boneka kelinci hingga boneka dinosaurus juga ada. Di antara semua boneka itu, Gania paling menyukai yang boneka kelinci. Kuping boneka itu panjang dan bewarna putih bersih. Mata boneka itu biru jeli. Senyumnya yang menggemaskan membuat Gania selalu membawa boneka itu kemana-mana. Padahal selama ini Gania tidak pernah melihat kelinci. Ia tahu kelinci hanya dari buku-buku bergambar. Binatang-binatang yang dulu dekat dengan Gania hanya kucing, kambing, bebek dan ayam. Tidak pernah Gania memeluk kelinci.


Boneka kelinci itu diterbang-terbangkan Gania dengan tangannya. Ia terkadang memutar-mutar telinga boneka itu. Namun sayangnya boneka itu tergelincir dari tangannya. Tanpa sengaja boneka kelinci Gania jatuh ke bawah balkon. Tanpa pikir panjang Gania langsung berlari mencoba mengambil boneka itu. Begitu Gania sampai di bawah, ia kaget. Sekarang boneka itu sudah ada ditangan seseorang yang dia belum kenal, Izako.


"Ini bonekamu?", tanya Izako.


Gania mengangguk, ia tidak berani menjawab. Sebenarnya Gania malah takut pada Izako. Dahi Izako berdarah, entah kenapa. Baju yang ia pakai juga kotor. Saat itu Izako menggunakan baju jas berkantong warna hitam.


"Kau suka kelinci?"


Gania hanya mengangguk lagi.


"Kenapa?", lagi Izako bertanya.


Gania hanya diam. Ia memang tidak mudah untuk berkomunikasi dengan orang asing. Jari telunjuk Gania menunjuk kuping boneka kelinci itu.

__ADS_1


"Kau suka karena kupingnya panjang?"


Gania mengangguk lagi.


"Jika aku panjangkan kupingku seperti ini, apakah kau akan menyukaiku juga Gania?"


Izako menarik kedua kupingnya melebar ke samping. Walaupun Izako bilang dia ingin memanjangkan kupingnya, tentu saja tidak bisa. Kuping manusia hanya bisa melebar ke samping bukan memanjang ke atas seperti kelinci. Tindakan konyol Izako membuat Gania tertawa. Namun tawa itu tidak lama. Dahi Gania mengerut, ia sadar jika laki-laki tadi menyebut namanya.


"Kau tahu namaku?", tanya Gania.


"Tentu. Satu kediaman ini tahu namamu. Kau satu-satunya perempuan di rumah ini. Bagaimana aku tidak tahu? Selama ini rumah ini tidak pernah menyimpan boneka Gania. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku memegang boneka. Tanganku hanya terbiasa memegang senjata. Aku baru tahu, ternyata boneka selembut ini."


Ketidakpahaman merasuki otak Gania. Dia tidak paham akan maksud Izako. Kenapa pula ada orang yang bahkan tidak tahu jika boneka itu lembut. Apalagi soal senjata, Gania tidak paham soal senjata yang dimaksud Izako. Laki-laki yang berumur 20 tahunan itu membuat Gania merasa harus banyak belajar.


Sejurus kemudian Gania sudah berlari mengikuti Izako yang juga berlari. Itulah kali pertama Gania berlari di belakang tubuh Izako. Ia tidak sadar, jika besok-besok ia akan lebih sering berlari di belakang Izako. Bukan untuk menjawab rasa penasaran seperti sekarang, tapi untuk berlindung dari bahaya.


"Lihat ini!"


Tercengang Gania seketika. Di tangan Izako sudah ada sebuah boneka kelinci lainnya. Bukan, itu bukan boneka melainkan kelinci sungguhan. Tanpa instruksi Gania langsung memeluk kelinci itu. Kelinci itu bewarna putih, walau hari malam tapi Gania bisa melihat bulunya yang bersih dan lembut sekali. Gania memekik, ternyata tidak hanya satu. Ada banyak kelinci di sebuah kandang. Girang sekali hati Gania. Gania mengeluarkan semua kelinci itu dari kandang. Izako tidak sempat mencegah aksi Gania. Kelinci itu melompat ke sana dan ke sini. Gania serasa bahagia sekali. Sebaliknya, Izako malah panik. Sebelumnya ia sudah berjanji pada Koki Bahri untuk menjaga kelinci-kelinci itu.

__ADS_1


Semua kelinci itu bukan kelinci sembarangan. Itu adalah kelinci hadiah dari teman bisnis Tuan Thom. Besok semua kelinci-kelinci itu akan disembelih dan dibuat hidangan lezat. Seketika Izako panik, ia berusaha menangkap semua kelinci. Tidak mudah. Kelinci binatang gesit, walau Izako cepat tapi mereka ada banyak.


"Bantu aku Gania! Kelinci ini tidak boleh lepas. Habislah aku dibuat Koki Bahri nanti."


Seketika Gania merasa bersalah, tapi tetap senang. Ia mengejar semua kelinci-kelinci itu dengan girang. Satu per satu kelinci mulai bisa ditangkap. Izako menarik napas lega ketika berhasil menutup kandang kembali. Merasa ekspresi panik Izako tadi lucu sekali, Gania malah tertawa.


"45, 46, 47....Astaga! Kurang satu. Kurang satu Gania. Seharusnya ada 48 kelinci."


Tawa Gania berhenti seketika. Izako mencari kelinci itu kemana-mana. Mau tidak mau Gania harus ikut, dia harus bertanggungjawab. Bagaimanapun dia yang melepaskan kelinci-kelinci itu dari kandangnya.


"Jika kelinci itu hilang habislah aku Gania."


"Kenapa? Itukan hanya kelinci? Aku rasa kelinci itu senang sekarang. Dia bebas."


"Aku ini bodyguard Gania."


"Bodigot itu apa?"


"Bodyguard Gania, bukan bodigot."

__ADS_1


"Iya. Itu apa?"


Izako menepuk jidatnya. Anak sepuluh tahun ini memang benar-benar polos. Polosnya Gania membuat pikiran Izako semakin kacau. Mana mungkin ia menyalakan Gania akan kehilangan kelinci-kelinci di kandang. Semua sempurna kesalahannya. Karir Izako sebagai bodyguard serasa tamat malam itu. Padahal baru saja ia memulainya.


__ADS_2