Ganteng Tapi Aneh

Ganteng Tapi Aneh
Hukuman


__ADS_3

Happy reading...


Siang berganti malam, detik pun berganti jam. Satu bulan pun telah berlalu. Gendhis yang sekarang sudah sangat memahami sifat dan sikap Narendra. Tinggal satu atap selama satu bulan bersama Narendra, bekerja sebagai pelayannya. Mulai dari menyiapkan segala kebutuhan sehari-hari Bosnya itu.


Gendhis sudah menyelesaikan pekerjaannya dan meminta ijin pada Narendra untuk pergi ke supermarket berbelanja kebutuhan pokok yang sudah habis.


Narendra pun memberikan ijin, tapi tetap saja harus bersama sopir pribadinya sekaligus bodyguard yang bertugas menjaga dan mengawasi Gendhis. Karena Narendra tidak mau perempuan itu kabur darinya. Misi balas dendamnya belum selesai.


Namun, hari itu sangat berbeda tidak seperti hari-hari biasanya dikala Gendhis berbelanja di supermarket. Biasanya hanya dikawal seorang sopir pribadi, tapi kali ini ada dua orang lagi yang berdiri di dekat Gendhis dengan seragam serba hitam.


Secepat kilat Gendhis membuka aplikasi yang berlogo gagang telepon itu, lantas men-scroll layar ponselnya dan mencari satu kontak yang diberi nama Tuan Gapian(ganteng tapi aneh). Setelah menemukan nama itu, Gendhis langsung memencet tombol hijau agar segera tersambung dengan Tuannya.


Tut Tut Tut


"Halo," suara dari sebrang menjawab telepon dari Gendhis.


Tanpa basa basi Gendhis langsung menyemprot Tuannya itu, sudah habis kesabaran Gendhis. Mengalah dan selalu mengalah, dengan seenaknya pria itu menginjak-injak harga diri Gendhis. Yang ada dalam pikiran Gendhis saat itu adalah aku bisa mengembalikan uangnya jika bisa keluar dari penjara Narendra.


"Apa maksudnya ini, Tuan Narendra?" tanya Gendhis penuh amarah.


Narendra yang sedang menyesap kopi yang masih mengepulkan uap panas pun kaget dengan suara Gendhis yang menusuk telinganya. "Pelankan suaramu!" bentak Narendra.


Gendhis memutar bola matanya malas. "Kenapa harus ada dua bodyguard lagi? Aku tidak butuh mereka! Dengan Panji saja apa tak cukup!" Gendhis merasa risih karena terlalu banyak orang yang mengawalnya. "Seperti tawanan saja!" celetuk Gendhis dengan bibir yang mengerucut.


"Kalau emang tawanan, kamu mau apa?"


Speechless!


Gendhis menjadi meradang, dia merasa tertampar dengan ucapan Bosnya itu. Membuat Gendhis kesal melihat Narendra melakukan sesuatu seenak jidatnya.


"Tapi itukan tidak tertulis di kesepakatan, Bosss!" protes Gendhis.


"Aku akan menambahkan itu nanti! Sekarang aku lagi sibuk, jangan diganggu! Cepat sana berangkat keburu siang!" Narendra langsung memutuskan sambungan selulernya sembari tersenyum smirk.


Sedangkan Gendhis menarik satu sudut alis mendengar ucapan Narendra. 'Ya salam, ada tambahan lagi di kesepakatan itu! Dasar Bos Ganteng tapi aneh!'


-

__ADS_1


-


-


Mobil yang ditumpangi oleh Gendhis, yang dikemudikan Panji sopir pribadi dan orang kepercayaan Narendra untuk mengawasi Gendhis.


Gendhis memilih supermarket yang dekat dengan hunian Narendra, dia berniat membeli beberapa bahan makanan untuk persediaan di rumah Tuannya. Setelah selesai berbelanja, dirinya berniat menjenguk Ibunya. Gendhis sangat merindukan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya.


Gendhis mengayunkan langkahnya sambil mendorong trolly. Tak jauh dari Gendhis beraktivitas memilih belanjaannya ada dua bodyguard yang mengawasinya dari jauh.


Di saat Gendhis lagi memilih-milih bahan makanan, mendadak trolly belanjaannya tersenggol anak kecil yang berlari kejar-kejaran dengan saudaranya.


Dugh..


"Auww.." pekik Gendhis, kaget. Yang kedorong ke belakang, dengan kaki yang berdiri tak seimbang membuat tubuh Gendhis limbung, dan tiba-tiba seseorang yang berdiri di belakang Gendhis menangkap tubuhnya.


"Hati-hati, nona," ujar seseorang dari arah belakang Gendhis.


Suara barusan yang didengar oleh Gendhis sudah sangat terbiasa di rungunya. Gendhis memutar tubuhnya menoleh ke belakang.


"Dokter Darius?" Gendhis menahan suara, karena dirinya kini menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di sekitarnya.


"Gimana kabarnya kamu, Naya? Kita sudah jarang bertemu?" Dokter Darius tersenyum simpul.


"Ba-baik. Sangat baik," jawab Gendhis sembari melirik ke segala arah. Dia sedikit takut dengan para bodyguard yang selalu mengawasinya.


Suasana sedikit canggung langsung tercipta di antara keduanya. Gendhis sendiri tidak menyangka bisa bertemu dengan Dokter Darius di tempat ini.


"Sudah aku katakan, kalau kita bertemu di luar rumah sakit, jangan panggil Dokter Darius. Aku tidak sedang bertugas, Naya," ujar Darius menatap intens ke arah Gendhis.


"Mana bisa begitu, Dokter," Gendhis tidak menyetujui permintaan Darius.


Sosok pria yang berdiri di depan Gendhis itu, menutup bibir Gendhis dengan Ibu jarinya. "Aku mau panggilan lainnya Naya."


Gendhis sontak membulat sempurna bola matanya. "Maksudnya?"


"Hahaha.. Nggak usah sok begitu juga, Nay. Maksudnya panggilan yang lain gitu selain Dokter. Biar terdengar enak di telinga," Darius mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


'Ya salam, musibah atau ujian lagi ini. Ya, Alloh. Bisa dikuliti aku nanti sama Tuan Gapian,' Gendhis menelan salivanya kasar.


"Aku panggil abang aja, gimana," Gendhis menawarkan panggilan pada Darius sambil tersenyum ramah, memamerkan gigi putihnya yang rapi berjejer, bak iklan pasta gigi.


"Nggak mau ah, kayak abang-abang dunk," tolak Darius sambil terkekeh.


Sudah lama Darius menaruh hati pada Gendhis. Tapi selama ini dia hanya menyimpannya saja, belum ada keberanian untuk menyatakan cintanya pada gadis yang berdiri di depannya itu. Berbeda dengan Gendhis, dia tidak mau terlalu bermimpi untuk bisa mendapatkan cinta seorang Dokter Darius. Baginya itu hanya sekedar harapan palsu yang tak mungkin kan terealisasikan.


"Terus minta dipanggil apa?"


"Panggil Mas, aja gimana?" ucap Darius, menggapai tangan Gendhis, lalu digenggamnya.


Gendhis berusaha melepaskan tangan Darius yang menggenggamnya. Tapi genggaman itu semakin erat.


"Maaf, bisa lepaskan ini?" ujar Gendhis sambil menunjuk ke arah tangan Darius.


Darius tidak marah, dia menyunggingkan senyum manis ke arah Gendhis. "Kenapa?"


"Takut ada yang marah," jawab Gendhis sedikit menundukkan kepalanya.


"Pacar kamu?" rasa penasaran Darius mulai menjalar ke hatinya. Dia takut gadis pujaannya telah dimiliki orang lain.


"Pacar Dokter Darius," seru Gendhis.


Darius menanggapi kata yang diucapkan oleh Gendhis dengan kekehannya. "Ini pacar aku," ucap Darius sambil melingkarkan tangannya ke pundak Gendhis.


Tanpa keduanya sadari, aktivitas nya sedari tadi direkam oleh salah satu bodyguard yang menjaga Gendhis dan melaporkan itu semua pada sang Bos yang memerintahkan tugas.


Sementara di tempat lain.


Wajah Narendra kini berubah menjadi merah padam. Emosinya kembali memuncak, setelah melihat video yang dikirim oleh anak buahnya yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi Gendhis.


"Nayaka!"


"Dasar wanita murahan! Kau benar-benar ingin menikmati hukuman dariku!" senyum devil yang terbit di sudut bibir Narendra.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2