
Happy reading..
Tidak mau membuang waktu. Kedua pria yang sama-sama memiliki wajah yang tampan. Tapi, tetap nomor satu ketampanan Narendra masih di atas Yudistira. Bos tidak mau tertandingi dengan sang asisten.
Mereka berdua segera masuk ke dalam ruang kerja pribadi Narendra yang kedap suara. Orang lain tidak akan bisa mendengarkan apa yang sedang dibicarakan dua pria tersebut.
Narendra mendaratkan bokongnya di sofa dan diikuti Yudistira yang duduk bersebelahan dengan sang Bos.
Setelah memutar rekaman yang diberikan oleh Yudistira sebagai informasi kuat dan terpercaya. Putra pewaris tahta Keluarga Guinandra itu tersenyum smirk, sambil mengetukkan jarinya di atas meja kaca yang ada di hadapannya.
"Lakukan tugasmu selanjutnya!" titah Narendra pada Yudistira dengan tatapan penuh maksud.
"Siap, Bos."
"Dan jangan lupa siapkan juga gaun pesta serta kelengkapannya untuk Nayaka," Narendra memerintah Yudistira untuk mempersiapkan semua buat Nayaka menghadiri acara pesta pertunangan putri Keluarga Lazuardi mendampingi Narendra.
"Apa Bos yakin untuk datang bersama Nona Nayaka di pesta pertunangan mantan Bos itu," tanya Yudistira ragu atas keputusan Bos nya.
Narendra meraih ponselnya dan membuka tampilan layar benda pipih miliknya. Di sana terpampang jelas wajah cantik Nayaka ketika tersenyum cerah. Bagi Narendra senyum Nayaka mengandung magi yang sangat kuat, membuat dirinya terpesona dan terpikat hatinya oleh senyum yang selalu merekah di bibir ranum milik Nayaka.
Foto yang diambilnya, di saat wanita itu sedang bercanda tawa bersama Andini dan sang Ibu ketika berada di rumah sakit beberapa waktu yang lalu. Kini foto itu dijadikan Narendra wallpaper ponselnya.
Dulu sebelum mengenal lebih dekat dengan Nayaka dan belum menemukan bukti-bukti kuat atas kematian kakak perempuannya, Narendra sempat membenci senyum yang terbit di bibir Nayaka. Seolah-olah senyuman itu menjelaskan kebahagiaan seorang Nayaka di atas penderitaan Nindy kakak perempuannya.
'Aku akan membalaskan sakit hatimu, kak Nindy. Orang seperti Heru tidak boleh bahagia di atas kematian mu. Bahkan aku akan membuat dia tidak menerima sepersen pun harta warisan yang kakak Nindy punya. Aku akan melempar ke tempat asalnya. Dan untuk Nayaka, aku akan membuatmu bahagia. Dan orang-orang yang pernah menyakitimu akan mendapatkan balasan dariku. Biar mereka juga merasakan penderitaan yang kau rasakan selama ini,' ujar Narendra tersenyum sembari memandangi wajah ayu Nayaka dari layar ponselnya. 'Aku ingin di setiap ku membuka mata bisa melihat senyum di wajahmu dan ketika ku akan memejamkan mata, hanya ada wajah mu yang cantik alami sedap dipandang mata. Jadilah milikku seutuhnya, Nayaka!'
-
-
Sementara, orang suruhan Yudistira masih setia dalam tugasnya. Matanya masih mengawasi sepasang anak manusia yang sedang berjalan sambil tertawa bahagia, jemari wanita yang bergelanjut manja di lengan kekar si pria itu tidak lepas dari pandangan si pengintai.
Tak lupa si mata-mata langsung mengabadikan moment kebersamaan dua sejoli yang sebentar lagi mendapatkan suprise dari Narendra.
Berselang waktu beberapa saat, pasangan itu masuk ke dalam restoran sekitaran hotel.
Masih dengan misinya, si pengintai, duduk tak jauh dari tempat mereka sambil membuka kembali galeri ponselnya. Lalu, mengirimkan hasil kerjanya hari ini.
Si pengintai mengirimkan beberapa foto pada Yudistira.
__ADS_1
Si pengintai 📲 : "Bos sudah saya kirim semua hasil jepretan hari ini."
Terdengar notifikasi ke ponsel Yudistira yang berada dalam sakunya. Ia mengambilnya, lantas segera membuka pesan tersebut, setelah melihat sang pengirim dan membuka foto-foto yang langsung merubah ekspresi wajahnya.
Narendra yang curiga dengan perubahan sang assisten, mendadak rasa penasarannya timbul.
"Kenapa wajah mu berubah sebegitunya?" tanya Narendra mendelik ke arah Yudistira.
Pria yang diberi pertanyaan masih belum menjawab, ia masih fokus pada layar laptopnya.
Merasa diabaikan oleh Yudistira, sang asisten malah asik dengan ponsel di tangannya.
Sreett..
Narendra menyambar benda pipih yang ada di tangan Yudistira.
"Astaga, oiikk," saking kagetnya Yudistira keceplosan.
Narendra yang sedari tadi sudah sangat penasaran dengan apa yang dilihat sang asisten nya. Kemudian memfokuskan pandangannya ke arah layar ponsel yang dipegangnya, kini.
Manik hitamnya membulat sempurna melihat foto-foto yang ada di ponsel Yudistira.
Sedangkan Yudistira hanya terdiam sebagai penonton, dalam hatinya. Yudistira terus berkomat-kamit merapalkan doa agar sang Tuan Mudanya tidak khilaf atau pun mendapatkan serangan emosi yang mendadak dan parahnya, kemarahan itu ditujukan pada ponsel kesayangannya itu.
Ting.
Bunyi notifikasi terdengar kembali di benda pipih yang dikuasai oleh Narendra. Dan langsung dibuka oleh si penguasa.
Si pengintai 📲 : "Bos, mereka barusan sudah meninggalkan restoran, tapi ada insiden kecil yang terjadi di parkiran Hotel."
Rasa penasaran Narendra semakin membuncah, dengan lincah jari panjangnya menari di atas keyboard ponsel milik asistennya.
Nomor ponsel Yudistira 📲 : "Awasi terus mereka, rekam semua aktivitas dua anak manusia itu yang sedang menunggu ajalnya!"
Buru-buru si pengintai membuka layar ponselnya yang baru saja mendapatkan balasan dari Bos nya. Tapi, dia memicingkan matanya. Membaca berulang-ulang chat yang barusan masuk ke dalam nomornya. Perasaannya tidak enak. Bingung! Antara secepatnya membalas chat itu atau membiarkannya, karena dalam cara pengetikannya berbeda dengan habit Bos Yudistira.
Si pengintai, mengetuk-ngetuk keningnya dengan ujung jari telunjuknya. Berpikir sejenak, lalu melihat ke arah lima jarinya. Kemudian, dia mulai menekuk satu persatu jarinya sambil berkata.
Balas!
__ADS_1
Tidak!
Balas!
Tidak!
Balas!
Dari terakhir jarinya dia mendapatkan jawaban balas. Tapi, hati dan pikirannya masih saja ragu. "Apa ponsel Bos Yudistira diretas orangnya? Apa barusan ponsel Bos Yudistira kecopetan?" Si pengintai masih mencari jawabannya sendiri, hingga dia dikagetkan dengan suara deringan dari ponselnya.
Tring.. Tring.. Ndang angkaten, kupingmu dubleeekk! (Cepat angkat, telingamu tuli!)
Nada sambung yang nyaring itu, tiba-tiba menjadi pusat perhatian beberapa orang di sekitarnya. Untung si pengintai langsung membungkam teriakan yang berasal dari ponselnya dengan menekan tombol hijaunya.
'Slamet-slamet... Dua orang itu tidak melihat ke arahku," Si pengintai mengusap-usap dadanya yang berdetak sepuluh kali lebih cepat.
"Halo! Bisa dengar aku!" suara bariton Narendra, membuat jantung si pengintai kembali terpompa cepat.
"I-iya, ini dengan siapa?" Si pengintai tetap menjawab suara di sebrang ponselnya, dengan nafas yang sedikit tersengal.
Setelah menjawab, si pengintai langsung menghela napas panjangnya, lantas mengeluarkannya kasar.
"Aku Narendra!" bentak sang Bos. "Apa kamu tidak mengenal suaraku, Baron!" tambahnya lagi.
"Maaf, Bos Narendra. Saya kira tadi ponsel Bos Yudistira kecopetan!" jawab jujur Baron.
"Ya sudah jangan bahas itu! Informasi apa yang kamu dapatkan barusan!"
Baron menjawab pertanyaan Narendra sedikit tergagap. "Anu Bos. Bos anu."
"Anu apa Baron?" Narendra yang mendengar jawaban si Baron, bingung sendiri. "Jawab ya jelas!" bentaknya.
"Dua orang tadi lagi beradu mulut dengan orang lain di parkiran Hotel, Tuan Narendra."
"Terus awasi mereka!" Narendra langsung memutuskan sambungan teleponnya. Lantas mengayunkan tangannya yang menggenggam ponsel Yudistira.
Melihat gelagat yang mencurigakan dari pergerakan Narendra, dengan secepat kilat Yudistira meraih ponsel kesayangannya itu sebelum menjadi korban emosi sang Bosnya.
"Hah, untung terselamatkan kamu, black!" pekik Yudistira yang disambut pelototan dari Narendra.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️