
Happy reading..
Flashback on.
Kata orang panasnya matahari dirasakan seluruh penghuni bumi ini, tapi kalau panasnya hati, ya sudah pasti dirasakan masing-masing pribadi.
Saat ini, dua pria tampan yang berbeda generasi itu tengah duduk di ruang keluarga. Dengan suasana yang tegang mengelilingi keduanya. Tidak ada kesan santai ataupun bersahabat di wajah bapak dan anak tersebut.
Para penghuni lainnya pun seolah tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Tidak ada yang berani menampakkan wajahnya di ruangan tersebut.
"Apa yang penting, hingga Papa ingin bicara berdua dengan Narendra?" tanpa berbasa-basi terlebih dulu Narendra langsung to the point pada sang Papa.
Pria nomor satu di Guinandra Company itu hanya bisa menahan amarahnya melihat sikap dan mendengar nada bicara putranya yang nampak tidak suka pada dirinya. Tapi pria setengah baya itu tidak bisa menyalahkan penuh jika tabiat putra pewaris tahta kerajaan bisnisnya seperti itu. Semuanya karena dirinya jugalah yang terlalu mendikte hidup putranya, hingga mengakibatkan perseteruan panjang antara dirinya dengan putranya tersebut.
Daneswara menghela nafas.
"Papa mau tanya tentang hubungan Nayaka sama kamu. Apakah kamu benar-benar jatuh cinta pada gadis itu? Apakah kamu ada keinginan untuk menikahi resmi Nayaka untuk menjadi pendamping hidupmu?" tanya pria yang masih terlihat tampan dan gagah diusianya yang akan memasuki angka lima puluh.
Narendra mengerutkan keningnya, kenapa pria yang duduk di hadapannya kini, malah menanyakan perihal Nayaka pada dirinya? Apa sebegitu penasarannya pria yang disebut 'Papa' olehnya ingin mengulik hubungan dirinya dengan Nayaka?.
Dan segera Narendra menatap tajam pada sang Papa atas pertanyaannya barusan.
"Apa papa lupa dengan kata-kata aku waktu itu?" tanya Narendra mencoba mengingatkan papanya yang sedang memfokuskan pandangannya pada putranya itu.
Daneswara menggeleng cepat.
"Papa tidak pernah akan melupakan apa yang telah kamu ucapkan pada papa waktu itu, Narendra. Apalagi kata-kata itu bersangkutan dengan wanita calon pendamping hidupmu. Tapi kali ini Papa hanya ingin--," belum juga pria paruh baya itu menyelesaikan kata-katanya, Narendra langsung menghardik pria itu.
"Belum puas Papa mengacak-acak hidup aku!" bentak Narendra dengan nada tinggi dan tatapan tajam seketika menghunus ke arah pria yang mengalah dari putra nya tersebut.
"Aku ingatkan lagi pada Papa! Aku kembali di rumah ini hanya demi dua orang wanita yang sangat aku sayangi. Meskipun kini satu dari wanita itu telah pergi untuk selama-lamanya. Dan kini, aku hanya bertahan demi wanita yang telah melahirkan aku!" cerca Narendra dengan mendengus kesal.
Hening sejenak tidak ada suara yang keluar dari keduanya. Hanya tatapan sinis yang terus diperlihatkan oleh Narendra pada sang Papa.
Hingga ke menit berikutnya, barulah Daneswara melanjutkan kembali perkataannya.
__ADS_1
"Kali ini Papa mohon dengarkan dulu kata-kata Papa, setelah itu baru kamu bisa memberikan keputusan kamu dan penilaian tentang semua apa yang ingin Papa sampaikan padamu, putraku!" dengan tatapan sendu Daneswara bertutur kata pada Narendra, tidak ada sedikitpun dia membalas perkataan putranya tersebut dengan nada tinggi.
Pria muda yang masih memendam amarahnya itu tidak menimpali kata-kata Daneswara, hanya tetap bergeming menatap manik sang Papa.
Daneswara memijit pelipisnya sesaat dan menghela nafas panjang, kemudian memulai kembali apa yang ingin disampaikan pada putranya.
"Narendra!" nada suaranya tegas, tapi seketika tercekat. "Apa kau tidak bisa mendengar ungkapan hati papa barang sedetik, saat ini?" pria itu memohon pada puteranya dengan senyuman di wajahnya. Namun tatapan matanya tiba-tiba terlihat mendung menyelimuti.
Pria setengah baya itu berharap putranya mengenyahkan segala sikap angkuhnya untuk sementara ini.
Tidak menjawab ucapan sang papa, melainkan berdesis penuh kemarahan disertai tatapan yang menusuk jantung sang papa. "Apa masih berarti kah papa di hidup Narendra?"
Mimpi buruk kah ini? Oh.. Tidak! Ini benar-benar nyata adanya. Putra kebanggaannya itu tidak pernah lagi mengganggap dirinya ada dalam hidupnya! Dia tidak berarti dalam hidup putranya.
Ternyata pertengkaran yang telah lama terjadi itu, masih saja selalu diingat oleh Narendra. Kini, Daneswara hanya dapat merasakan kesedihan yang mendalam. Tapi ia mencoba untuk tetap menahan amarah dan egonya.
Dari balik di dinding seorang wanita mendengarkan perdebatan antara Ayah dan putranya. Ingin rasanya ia menyeret langkah nya menghampiri keduanya dan mendamaikan pertengkaran tersebut.
Putra kebanggan keluarga Guinandra itu seolah membentengi dirinya dengan gunung es yang menjulang tinggi hingga sosok dinginnya semakin sulit dijangkau.
"Cukup sekali saja papa menghancurkan hidupku!" tegas Narendra, penuh amarah dan kekecewaan. Kepalan tangan nya semakin kencang.
Narendra menyeringai.
"Airmata? Dengan mudahnya seorang Daneswara mengeluarkan air matanya? Mustahil, Papa! Hatimu terbuat dari batu! Simpan saja air mata palsumu itu!" desisnya.
Daneswara tersentak. Tidak menyangka jika Narendra mencibir nya seperti itu.
"Papa sangat menyayangi kalian berdua, Narendra," suaranya bergetar.
Narendra menengadahkan kepalanya, dia tidak ingin meloloskan air mata yang telah mengenang di pelupuk matanya.
"Papa hanya sayang pada diri papa sendiri! Papa tidak pernah memikirkan perasaan putra putri Papa. Termasuk hati Mama!"
Kemarahan Daneswara sudah di ubun-ubun, tapi dia tetap pada kewarasannya. Dia tidak ingin hubungannya dengan putranya itu semakin merenggang.
__ADS_1
Akhirnya Cempaka memutuskan menghampiri keduanya untuk menjadi penengah Ayah dan putranya tersebut.
"Dengar kan papamu, sebentar saja, Narendra. Bagaimana pun dia adalah orang yang berjasa dalam hidupmu," Cempaka menangis seraya menggenggam jari panjang Narendra. Terlihat di matanya kebencian yang besar di mata putranya itu untuk Daneswara.
Bukannya menjawab, Narendra hanya menatap pada sosok Daneswara. Bukan tatapan hangat yang ditujukan pada sang papa melainkan kilatan amarah yang sedang ditahannya.
"Papa hanya ingin memberikan restu papa pada pilihan kamu! Jika memang kamu mencintai Nayaka, maka papa akan menyetujui keputusanmu. Menikahlah dengan gadis yang kamu cintai. Dan jika kamu tidak menginginkan gadis itu, tolong jangan sakiti dan memberikan harapan palsu pada Nayaka. Karena papa juga memiliki seorang anak perempuan. Jika hatinya disakiti, papa tidak akan terima putri Papa diperlakukan seperti itu. Tolong pahami dan resapi kata-kata papa barusan.
Papa tahu kamu adalah putra satu-satunya yang papa miliki saat ini, pewaris tunggal dari keluarga Guinandra, laki-laki yang keras kepala dan tetap teguh dengan segala keputusan nya. Tapi, kamu juga anak yang baik, kamu tidak akan mampu untuk menyakiti hati seorang wanita yang lemah lembut dan tulus seperti Nayaka. Maka jika kamu bisa menjaga dan membahagiakan nya, maka segeralah resmikan hubungan kalian. Tapi jika kamu tidak mencintainya bahkan hanya ingin menyakiti nya untuk membalaskan dendammu. Maka lepaskan dia dan kembalikan dia pada Ibunya. Jangan menyimpan rasa mendendam yang terlalu dalam dan lama, putraku. Narendra Arjuna Guinandra. Karena sesungguhnya hatimu bak 'Romeo'!".
Pria muda itu seketika membelalakkan bola matanya sempurna. Dia bolak balik memukul pelan kedua pipinya bergantian untuk mengembalikan akal sehatnya, mengembalikan kesadarannya, karena kata-kata sang papa barusan terus menggema di kepalanya.
Manik hitamnya terus memandang intens pada pria yang menyunggingkan senyum ke arahnya.
"Ini benar Papa, kan? Daneswara Guinandra? Pria arogan yang angkuh dan dingin?" tanya Narendra menyakinkan dirinya. Ia sedang bermimpi atau papanya yang sedang mengigau.
"Narendra tidak sedang bermimpi kan, Pa?" tanya Narendra lagi pada papa nya yang duduk di hadapannya dengan santai menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Kamu tidak bermimpi, Narendra," cicit Daneswara.
"Papa yakin?" tanya Narendra mendelik ke arah Papanya dia masih belum percaya dengan apa yang telah terlontar dari bibir pria yang mirip dengan dirinya itu.
Wanita setengah baya yang duduk di sampingnya tetap bergeming. Hanya gerakan bola matanya yang memandang bergantian pada Ayah dan putranya itu.
"Papa yakin, bahkan seyakin-yakinnya, Narendra! Papa hanya manusia biasa yang tidak ingin melihat anak perempuan nya disakiti orang lain. Dan cukup papa gagal menjaga kakak perempuanmu. Tapi kali ini Papa tidak ingin gagal untuk kedua kalinya. Dan melihat putra papa menyakiti dan menyiksa batin seorang gadis sebaik Nayaka. Dia hanya korban dari keluarga yang broken. Dan hanya menginginkan kesembuhan Ibu yang telah melahirkan dan membesarkan nya. Meskipun jalan yang ditempuhnya salah, tapi dia tetap berjuang dan bertahan dalam kehidupannya yang keras. Nayaka, gadis yang mandiri dan baik, Narendra. Tapi mungkin takdir yang telah membawanya ke dalam permainan hidupnya," tutur kata Daneswara yang sangat menyentuh relung hati Narendra.
Pria setengah baya itu mengungkapkan apa yang dirasakan hatinya, saat ini pada putranya tanpa skip. Ia hanya ingin menumpahkan semua yang ada di hatinya. Sekejam-kejamnya Daneswara tetap saja dia hanya seorang manusia biasa. Pria yang pernah mengalami masa mudanya, masa-masa indah yang dilalui bersama wanita yang sangat dicintainya. Dan kini telah mendampingi dirinya hingga menua bersama.
Itulah yang diinginkan Daneswara Guinandra.
Narendra beranjak dari duduknya, langsung memberikan pelukannya pada sang papa.
"Terimakasih, Papa! Terimakasih Ya Alloh, Engkau telah mengembalikan Papaku! Mengembalikan pahlawan hidupku!" ucap Narendra dengan hati yang bahagia.
Hanya Alloh yang bisa membolak-balik hati hambaNya.
__ADS_1
Flashback off.
☘️☘️☘️☘️