
Happy reading..
Sejuknya udara pagi dan ramainya kicauan merdu burung-burung yang bebas berterbangan sedikit memberikan warna di pagi hari. Oksigen segar dan semangat baru untuk memulai beraktivitas hari ini.
Wanita yang masih terlihat cantik dengan usia memasuki kepala empat itu, sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi suaminya. Sudah hampir tiga puluh menit, wanita itu berkutat dengan peralatan masaknya.
Sementara seorang pria berdiri dengan gagahnya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang menjadi tempat kerja pribadinya ketika ia berada di rumah. Sepertiga dari ruangan itu terisi oleh rak-rak besar dengan banyaknya buku yang tertata rapih di setiap barisnya. Dan juga terdapat bingkai besar yang terpampang jelas gambar keluarga kecilnya yang terlihat sangat bahagia, saat itu.
Sepasang suami istri dengan kedua buah hatinya, tersenyum sumringah menampilkan deretan gigi putih dan rapih, memberikan kesan bahwasanya mereka adalah keluarga yang sangat harmonis ala keluarga Cemara.
Pria itu menyeret kakinya beberapa langkah mendekati bingkai besar dan berhenti sejenak, tepat di depan bingkai tersebut. Ingatan nya kembali pada masa-masa keceriaan kedua buah hatinya, Nindy dan Narendra. Kedua putra putri meramaikan rumah kecilnya. Masa yang masih tertinggal dan selalu membekas di relung hati yang terdalam. Kenangan indah yang selalu ada dalam ingatan pria itu.
"Papa.." teriak dua bocah kecil yang berlari saling mendahului untuk menyambut kedatangan seorang pria yang di panggil 'Papa'.
Ketika dia pulang dari kantor maupun dari bepergian. Lantas ia mengendong kedua bocah itu di lengan kanan dan kirinya, juga berjalan beriringan dengan seorang wanita cantik yang selalu setia membawa tas kantornya. Mendampingi dirinya dikala mulai merintis bisnisnya hingga saat ini telah meraih kesuksesan besar dalam usia senjanya.
Air mata Daneswara mulai membanjiri kedua matanya yang telah menua. Di kala hati dan pikirannya merindukan dan mengingat sosok putri kesayangannya yang telah tiada.
"Kau pasti sangat marah dan membenci papa, Nindy! Maafkan papa yang terlalu berambisi pada dunia, hingga mempercayakan tumbuh kembang kalian pada seorang baby sitter. Karena papa hanya mempertahankan 'ego' papa. Ya, bagi papa saat itu hanya harta yang bisa memberikan kebahagiaan pada hidup kita. Dengan harta orang tidak akan memandang kita sebelah mata. Hingga waktu papa habis untuk mengejar dunia, tanpa memperdulikan perasaan kalian," Daneswara menghela nafas panjang lalu menengadah kepalanya ke langit-langit ruangan yang tertutup rapat itu. Dengan bola mata yang terpejam.
Sedetik kemudian perlahan pria tampan yang telah memasuki usia senjanya itu membuka matanya dengan guratan senyum di wajahnya bercampur dengan rasa getir yang tersirat dengan jelas.
"Maafkan papamu ini, Nindy. Masa-masa itu begitu cepat berlalu dan tak akan dapat tergantikan oleh apa pun," Daneswara menumpahkan air matanya begitu saja. Pria yang terlihat kuat dan tegar di luarnya, namun rapuh juga dalam hatinya. Ketika ditinggal pergi untuk selamanya oleh putri kesayangannya itu. "Hanya seuntai doa yang tulus teriring untukmu putri kecilku. Kau tetaplah putri kecilku di mataku. Maafkan Papa yang tidak bisa menjaga dan melindungi mu," tangis Daneswara tergugu.
Kini pandangan nya beralih pada sosok anak laki-laki kecil yang berdiri di samping saudara perempuannya. "Maafkan Papa, Narendra. Yang selalu egois dan tak bisa terkalahkan di setiap perintah Papa," rasa bersalah yang melekat di hati Daneswara pada putra putrinya tak pernah hilang.
__ADS_1
"Pa, sarapan dulu yuk," suara manja yang sangat familiar dan sepasang tangan telah melingkar di pinggang pria yang masih berdiri menatap deretan piala-piala penghargaan serta benda-benda lain yang tertata rapi dan sangat berharga bagi keluarga kecilnya.
"Mama juga merindukan mereka," suara lembut itu keluar dari bibir wanita yang sangat dicintainya. Dengan menempelkan kepalanya di punggung suaminya, Cempaka bermanja. "Nindy telah berbahagia dan damai di sana, Pa."
Daneswara memejamkan matanya sejenak, menghirup aroma wangi dari tubuh istrinya. Kemudian melepaskan kaitan tangan Cempaka yang sedari tadi menguasai pinggang nya. Lantas membalikkan tubuh gagahnya menghadap ke arah istrinya. Menatap teduh manik hitam milik istrinya yang telah mengikat hatinya dengan kelembutan dan ketulusan nya.
"Aku akan memberikan kebebasan pada Narendra, putra kita untuk menentukan jalan hidupnya dan juga memilih pendamping hidup yang sesuai dengan hati nya. Selagi tidak melenceng!" kekehnya.
Lalu Daneswara menggenggam erat tangan Cempaka dan mengecupnya dalam.
Wanita itu merasakan basah di punggung tangannya. Ia dapat memastikan jika suaminya telah mengeluarkan air matanya. 'Kau pasti sangat kehilangan putri kecilmu itu, suamiku. Hal yang sama aku rasakan itu,' batin wanita setengah baya itu tersiksa, saat ini.
"Bagaimana kalau hari ini tidak terlalu padat jadwal kerjanya, bisakah kita bertandang ke tempat Nindy?" Cempaka menautkan jari jemarinya ke sela jari panjang suaminya. "Aku akan membatalkan semua pekerjaanku hari ini," sahut Daneswara dengan tatapan teduh, dia tidak ingin mengecewakan istrinya kali ini.
Mendengar suaminya berkata begitu, Cempaka langsung memberikan sebuah hadiah kecupan mesra di bibir pria yang telah menjadi pendamping hidupnya bertahun-tahun lamanya.
"Jangan banyak gerak!" kedua tangan Narendra langsung mengunci tubuh lemah Nayaka saat hendak bangun dari baringnya.
"Aku bosan tidur terus, Tuan!" ucap Nayaka dengan melengos ke samping, dadanya berdebar kencang saat kedekatan wajah keduanya.
Nayaka tidak ingin menyalah artikan perhatian Narendra yang diberikan padanya. Ia sadar, siapa dirinya di mata Narendra. Ia hanya lah wanita yang dibelinya, tidak akan mempunyai tempat di hati pria tampan yang kini menyentuh dan menekan pundaknya agar tidak terbangun dari baringnya.
Keduanya saling bertukar pandang. "Aku sudah sehat, Tuan. Aku ingin segera pulang," kekeuh Nayaka, karena saat ini pikirannya hanya tertuju pada sang Ibu yang jauh dari dirinya dan juga dia telah berjanji akan berkunjung ke tempat sang ibu.
Cetas..
__ADS_1
"Bandel!" Narendra menyentil kening Nayaka pelan.
Dengan bibir memberengut Nayaka mengaduh kesakitan. "Auww, sakit, Tuan!" seru Nayaka.
"Sudah tahu sakit, masih ngeyel! Dokter saja masih mengatakan kamu harus banyak istirahat," ujar Narendra mengalihkan pandangan matanya pada tetesan infus yang berjalan lambat.
Nayaka memilih diam dan memperhatikan kulitnya. "Kenapa terasa perih dan tebal kulitku? Apa yang terjadi padaku?" tanya Nayaka membuat Narendra merasa bersalah.
"Maafkan aku, Nayaka," ucap Narendra lirih.
'Tumben ini orang minta maaf? Biasanya aja kang nyolot!' gumam Nayaka dalam batinnya.
"Emang salah Tuan apa?" tanya Nayaka dengan wajah polosnya.
"Salahku karena tidak tahu kalau kamu itu menghisap alergi akut, puas!" ucap Narendra dengan wajah dinginnya, yang disengaja oleh Narendra.
"CK..! Habis minta maaf, sekarang main bentak lagi. Kalau tak ikhlas, tak usah minta maaf! Kan jadi ragu-ragu kasih maafnya!" kesal Nayaka melengoskan wajahnya.
Narendra yang menahan tawanya melihat mimik muka Nayaka seperti itu semakin ingin mengerjainnya.
"Ya sudah kalau ragu-ragu, aku juga nggak jadi minta maaf! Lagian bukan salahku juga!" ujar Narendra berjalan ke arah sofa.
"Tuan Gapian...!" teriak Nayaka kesal.
☘️☘️☘️☘️
__ADS_1