
Happy reading..
Dada Nayaka bergemuruh hebat dalam hatinya bertanya-tanya sendiri. 'Kenapa Nyonya Cempaka mendadak ingin bertemu dengannya? Apa dia akan diusir dari rumah mewah milik Narendra? Wah, kebetulan sekali. Moment itu yang selalu aku tunggu," monolog Nayaka.
Nayaka menyeret langkahnya pelan, hingga dia sedikit ketinggalan di belakang. Ia ragu untuk berjalan di samping Bosnya. Meskipun dirinya telah dipilih Narendra untuk menjadi pelayan pribadinya. Catat! Hanya pelayan pribadi, bukan calon istrinya!.
Tubuh Narendra berbalik dan pandangannya tertuju pada wanita yang spontan berhenti melangkah, saat Narendra memutar arah padanya. "Ada apa?" tanya Nayaka, tidak dijawab oleh pria itu, tapi malah mengulurkan tangan kokohnya ke arah Nayaka.
"Jalan saja kayak siput!"
Nayaka menurut. Ia meraih tangan kokoh Narendra yang terulur untuknya.
Dan saat keduanya akan melajukan kembali langkahnya.
"Tuan..."
Sebuah suara yang sangat familiar menginterupsi di rungu Narendra dan Nayaka. Dengan cepat dia menggerakkan bola matanya pada pria yang berdiri di belakang nya. "Iya, Yudistira? Ada apa?"
Kecemasan nampak sekali di wajah orang kepercayaannya. "Seperti nya ada hal yang sangat penting?"
__ADS_1
Yudistira mendekat pada Narendra dan berbicara lirih, seolah pembicaraannya dengan sang Tuan tidak ingin didengar yang lain. "Baron baru saja mengirimkan sebuah video dan di depan baru saja saya melihat Tuan Heru memarkirkan mobilnya," Yudistira memberikan informasi sangat penting pada Tuannya.
"Siapkan saja semua bukti untuk ditunjukkan pada pengacara kak Nindy. Aku pastikan dia tidak akan menerima sepeserpun harta warisan dari kak Nindy. Atau pun harta gono gini!"
Yudistira menganggukkan kepalanya, seraya berpamit untuk ke depan. "Baiklah, Bos. Saya permisi."
'Siapa yang lagi dibicarakan Tuan Narendra sama Kak Yudis? Sepertinya tadi menyebut nama Heru," ingatan Nayaka kembali pada malam itu. Malam naas dia dilabrak oleh istri sah, laki-laki yang telah membelinya di Hotel Pasific.
-
-
-
"Astaga, Mama. Please.. Jangan mulai buat Narendra kabur lagi!" Narendra melemparkan tatapan penuh ancaman pada sang Mama. Tapi entahlah Cempaka begitu bahagia melihat wanita yang berdiri di belakang Narendra.
Raut wajah Cempaka begitu ceria menyambut kedatangan putranya. Kehangatan tercipta kembali, saat kehadiran Narendra dan Nayaka di tengah-tengah Keluarga Guinandra, saat ini. Kesunyian mansion utama itu sangat terasa sekali, ketika putra dan putrinya tumbuh dewasa. Dan akhirnya hanya meninggalkan sebuah cerita yang indah tentang masa kecil Nindy dan juga Narendra.
Namun, semenjak Cempaka mendapatkan kabar mengenai putra satu-satunya itu dari seorang informan yang dia suruh untuk memantau kegiatan putranya juga siapa wanita yang berada di samping Narendra.
__ADS_1
Pandangan Narendra beralih pada sosok pria paruh baya, yang masih memiliki tubuh tetap dan kekar sedang merentangkan kedua tangannya ke arah Narendra.
Narendra melepaskan pelukannya dan menyeret kakinya menghampiri sang Papa.
"Apa kabar, Pa?" ucap Narendra seraya memberikan pelukannya.
Daneswara langsung memeluk erat tubuh pria yang mewarisi ketampanannya itu. Manik hitamnya berkaca-kaca, dia selalu merindukan moment seperti dulu. Disaat putra dan putri nya menyambut kedatangannya ketika pulang dari berpergian.
Cempaka tersenyum pada wanita yang sedari tadi meremas tautan jarinya. Rasa canggung dan takut menjalar ke seluruh tubuh.
"Kemarilah, gadis cantik," sapa Cempaka dengan senyum nakal dan mengerlingkan sebelah mata pada Nayaka, membuat gadis itu semakin salah tingkah dan takut.
"Sini, saya sudah jinak tidak akan mengigit kamu. Beda dengan Narendra!" bisik Cempaka yang akhirnya mendekat ke arah Nayaka yang sudah bergetar, bercampur semburat merah di wajahnya.
"Nanti kita bicara empat mata! Ada hal penting buat masa depan kalian berdua!"
Jantung Nayaka berdebar sangat kencang setelah mendengar apa yang diucapkan oleh wanita yang telah melahirkan Tuan mudanya itu.
" Ya Tuhan, ujian apalagi ini. Ada apa dengan Nyonya Cempaka," Nayaka bergelut sendiri dengan pikirannya.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️