Ganteng Tapi Aneh

Ganteng Tapi Aneh
Lima Belas Menit


__ADS_3

Happy reading...


"Lanjutkan meeting nya!" Narendra memerintahkan pada Yudistira, sang tangan kanannya. Lantas segera dia menyambar kunci mobilnya. Ia merutuki dirinya yang telah membiarkan Gendhis pergi berbelanja hanya diawasi dua bodyguard nya. Narendra benar-benar tidak mau perempuan itu disentuh oleh pria lain.


Jari kokoh Narendra menekan handsfree di telinganya, "Segera bawa pulang, Naya! Jangan sampai laki-laki itu membawanya pergi! Kau dengar!" suara Narendra nyaring dan tegas.


Dua laki-laki yang sedari tadi bertugas menjaga Gendhis, saling melempar tatapannya. "Ayo cepat kita bergerak sekarang! Sebelum Nona Naya dibawa kabur pria itu," ucap pria yang berambut plontos mengomando temannya.


Tanpa menunggu lama, kedua pria itu mendekat ke arah Gendhis yang sedang berdiri sendirian memilih bahan belanja. Sedangkan Dokter Darius entah kemana perginya.


"Nona Naya harus segera pulang! Tuan Narendra telah memberi titah kepada kami," Pria yang satunya berbicara pelan di samping Gendhis.


"Ada apa? Aku belum selesai berbelanja!" sungut Gendhis. "Lima belas menit lagi!" tambahnya.


"Tidak bisa, Nona Naya! Tuan Narendra marah besar," jawab pria itu lagi.


"Bagaimana dengan belanjaanku!" bentak Gendhis.


"Semua itu bisa diurus belakang, Nona Naya."


'Maunya apa sih Tuan Gapian itu? Bikin badmood aja!' gerutu Gendhis sembari beranjak meninggalkan supermarket tanpa membawa belanjaan satu pun.


Narendra Arjuna Guinandra, putra kedua dari pasangan Daneswara Guinandra dan Cempaka Lestari Guinandra. Seorang pria muda yang tampan, gagah serta berkepribadian dingin, tapi tegas dan tidak banyak bicara. Di usianya yang menginjak ke dua puluh lima tahun, Narendra banyak didekati oleh perempuan-perempuan cantik dari berbagai usia. Namun, putra dari pasangan Daneswara dan Cempaka itu, bukannya tidak ingin segera menyudahi masa lajangnya. Tapi baginya perempuan-perempuan yang berlomba-lomba untuk mendekatinya dan bahkan ingin menjadi permaisuri di Kerajaannya. Parasnya yang tampan dan tubuh yang atletis sangat mempesona kaum hawa, juga kekayaaan Keluarga Guinandra yang tidak akan habis hingga berpuluh turunan. Narendra juga mendapatkan kesuksesan dikarenakan otaknya yang jenius dan kharismatik.


Narendra memarkirkan mobilnya asal. Pria muda itu memasuki rumahnya dengan langkah lebar.

__ADS_1


"Di mana Nayaka?" suara bariton Narendra menggema di ruangan yang sepi penghuni.


Tidak ada jawaban satu pun dari penghuni rumah. "Di mana Nayaka!" peliknya lagi.


Dari arah dalam rumah dua orang berseragam hitam berlari ke arah Narendra dengan wajah pias. Keduanya tidak berani menatap ke arah sang Tuannya. Mereka berpikir bisa jadi ini adalah akhir dari hidupnya.


"Haruskah aku mengulang ucapan ku?" suara Narendra membuat kedua pria itu menelan ludahnya kasar.


"Maafkan kami, Tuan. Kami pantas mati. Kami teledor menjaga Nona Nayaka," ujarnya dengan kepala menunduk, siap menerima hukuman apa pun yang diberikan oleh Tuannya.


Lalu tiba-tiba sosok Gendhis keluar dari kamarnya dengan bersuara. "Saya di sini, Tuan Narendra."


"Berhenti di situ!" suara Narendra memberhentikan langkah Gendhis.


"Sekali lagi kalian lalai! Silakan pilih pedang atau timah panas yang akan menghentikan detak jantung kalian!" ancam Narendra, lalu kembali melangkah ke arah Gendhis yang berdiri di depan pintu kamarnya.


Narendra menarik tangan Gendhis dengan kasar masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu dan menguncinya. Cengkeraman tangan Narendra menyakiti tangan Gendhis. "Lepaskan! Sakit, Tuan!" suara Gendhis sedikit bergetar dan ragu.


Narendra menatap tajam perempuan yang merengek itu. Tatapannya seperti seorang pemburu yang akan memangsa buruannya.


"Ada apa, Tuan Narendra?" suara Gendhis melemah.


Dengan melempar kasar tubuh Gendhis di atas ranjang king size yang ada dalam kamarnya, Narendra bersuara. "Kau tanya ada apa? Apa kau lupa yang tertulis di kesepakatan itu, Nayaka! Di situ tertulis kamu tidak boleh berhubungan dengan pria lain! Paham, dimana letak kesalahan mu!" Narendra masih menahan emosinya.


Gendhis berusaha bangun dari ranjang king size itu, tapi Narendra mendesak kembali tubuh Gendhis hingga gadis itu terhimpit di kepala ranjang.

__ADS_1


Narendra mendekatkan bibirnya pada telinga Gendhis. "Dengar ja_lang kecil! Jangan kau pikir aku tidak tega untuk menyiksa tubuhmu!" Narendra menghembuskan napasnya di telinga Gendhis, yang membuat bulu kuduk Gendhis langsung berdiri. Tubuhnya mendadak kaku.


Bibir Narendra menyeringai melihat reaksi Gendhis. Lalu, dia berbisik kembali. "Pu_as kan aku malam ini, ja_lang kecil!"


'Astaga, kenapa jantung berdegup begini?' batin Gendhis. Jangan katakan hanya mendengar bisikan Tuan Gapian nya, mendadak jantungnya bekerja amburadul begini.


Sebelum berbalik, Narendra mengatakan sesuatu lagi. "Bersihkan tubuhmu dari kuman-kuman yang kotor! Aku sudah merindukan--," ucap Narendra sembari menunjuk ujung dada Gendhis.


Gendhis menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Di mana bola mata sang Tuannya menatap tajam ke benda kenyalnya itu.


"Tuan aku mohon, jangan lakukan itu. Aku masih pera_wan. Aku hanya ingin melakukannya dengan orang yang mencintaiku. Dan juga hal itu tidak ada di kesepakatan kita," dengan wajah memelas, Gendhis mohon pada Narendra dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Diam! Apa kau bilang! Beraninya kau membantah perintah ku!" Narendra menarik dagu Gendhis dengan kasar. "Apa kau akan menikah dengan laki-laki itu, hah!" Narendra menarik satu sudut bibirnya ke atas lalu menempelkan telunjuknya tepat ke ujung da da kanan Gendhis yang berhasil membuat kelimpungan dirinya. Rasa merinding tiba-tiba dirasakan oleh Gendhis dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Kepala Gendhis bergerak cepat, setengah menengadah untuk melihat pada wajah Tuannya yang sedang menatapnya dengan sebelah alis terangkat.


Gendhis terdiam, dia hanya menatap wajah Tuannya yang sejak awal Gendhis ketahui memang sangat tampan, meski paras itu tersembunyi dibalik aura dingin yang begitu kuat. Rahang tegas dan bulu-bulu tipis yang tumbuh di sekitar wajahnya, sangat menggoda untuk diraba. Hidungnya yang mancung dengan alis yang tebal menambah tegas wajahnya. Iris hitam legam itu bersembunyi dibalik mata cekungnya menjadi bagian yang paling menarik untuk ditatap dengan lekat, ada keteduhan di sana.


Perlahan Narendra menggerakkan jari kokohnya menelusuri lekuk paras cantik perempuan yang menatapnya dengan sayu. Hingga berhenti tepat di bela_han bibir sang wanita.


Namun, tiba-tiba Gendhis memundurkan tubuhnya memberikan jarak dari sang Tuannya. Apa gerakan itu efek dari ketakutannya atau kah takdir yang telah tertulis pada dirinya untuk menyerahkan miliknya yang dia jaga selama ini, pada sang Tuannya yang telah memberikan kesepakatan dengan senilai dua milyar.


Narendra menarik pergelangan tangan Gendhis dengan kasar, lalu meraih pinggang nya. Tanpa sengaja bela_han benda kenyalnya tertangkap jelas oleh sepasang manik gelap sang Tuannya. Aroma tubuh ja_lang kecil nya membuat sesuatu yang sedari tadi ingin meledak-ledak butuh segera dituntaskan.


☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2