Ganteng Tapi Aneh

Ganteng Tapi Aneh
Kesepakatan


__ADS_3

Happy reading..


Dalam keremangan cahaya, penglihatan Gendhis terlihat samar. Dia terus memundurkan langkahnya hingga tubuhnya mentok di lemari.


Sementara pria yang berdiri di depan Gendhis itu tersenyum menyeringai, dia mulai mengikis jarak dengan Gendhis. Ketika cahaya dari jendela kamarnya menembus masuk dan menyorot wajah pria itu, Gendhis baru tersadar, bahwa pria itu adalah orang yang akan membelinya kembali, tapi dia menolak dengan tegas. Karena bayang-bayang malam itu masih terngiang di kepalanya.


"Dari mana kau tahu rumahku?" seru Gendhis dengan tubuh yang gemetar.


Pria itu tertawa lebar.


"Berapa yang kau inginkan!" gertak pria itu dengan mimik wajah yang menyeramkan.


"Aku tidak mau menjual kepera_wananku," teriak Gendhis, menahan air matanya.


"Harusnya kau bersyukur, aku masih mau membelimu dengan harga yang sangat fantastik! Karena aku tidak akan memberikan kesempatan kedua kalinya!" ujar pria itu semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Gendhis.


"Tapi aku tidak menginginkan uangmu!" bentak Gendhis memberanikan diri.


Pria itu tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon yang keluar dari bibir perempuan yang berlagak masih suci.


"Apa kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu! Seorang wanita murahan sepeti kamu tidak menginginkan uangku?" cetus pria itu memandang Gendhis dengan tatapan sinis. "Bulshiit!"


PLAKK..


Tamparan yang keras mendarat di pipi pria yang merendahkan harga diri seorang wanita, tanpa tahu penyebab utamanya.


"Berani kau menamparku?" desisnya kesal. Tatapannya semakin tajam menghujam manik indah milik Gendhis. "Jangan berlagak masih suci! Aku tahu siapa kau! Wanita yang kepera_wanannya dibeli seharga lima ratus juta. Mana mungkin kau masih suci?" ucap pria itu di telinga Gendhis. "Jangan bodohi aku, ja_lang kecil!"


Sudah terlambat bagi Gendhis untuk melangkah mundur. Dia harus berani membantah ucapan pria itu yang kurang ajar pada dirinya. Dengan tubuh bergetar, Gendhis menatap tajam ke dalam mata pria yang semakin menghimpit nya.


"Benar aku dibeli dengan harga lima ratus juta, Tuan! Tapi aku memang masih pera_wan dan aku tidak ingin menjual kepera_wananku kembali! Jangan samakan aku dengan wanita penghibur di luaran sana yang bisa kau ajak naik ke ranjang mu dengan semaumu!" beo Gendhis memberanikan diri.

__ADS_1


Pria itu menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. "Bisa kau buktikan padaku, jika kau masih pera_wan?" tantang pria itu dengan senyum smirk.


Dalam satu gerakan, dengan cepat pria itu mengunci tubuh Gendhis dan tidak memberikan kesempatan pada Gendhis berbicara lagi. Pria itu sudah membungkam bibir ranum Gendhis dengan ciuman. Semakin Gendhis berusaha menolak dan melepaskan diri dari kungkungan pria itu. Semakin Gendhis menerima serangan-serangan mematikan pada tubuhnya yang rawan sentu_han.


Gendhis yang hanya memakai handuk pada tubuhnya dengan mudah dilepaskan oleh pria itu. Sekali tarik handuk itu terjatuh ke lantai.


Pria itu semakin gencar melakukan manuver pada tubuh polos Gendhis. Bibirnya ingin menjerit, namun lagi-lagi pria itu dengan cepat menyambar bibir merah milik Gendhis.


Kaki Gendhis mulai terasa lemas, tungkainya sudah tak mampu menopang beban tubuhnya. Tangan pria itu bergerak dengan cepat menahan pinggang Gendhis, agar dirinya tak terjatuh di lantai.


"Tolong hentikan!" pinta Gendhis dengan tatapan sayu memohon pada sang pria yang mengintimidasi nya.


Gendhis sendiri merasakan sisi liarnya mulai menuntut untuk segera dituntaskan.


Gendhis menengadah semakin frustasi. Kehangatan bibir pria itu telah melumpuhkan saraf-sarafnya. "Please.. Hentikan!" racau Gendhis ingin segera menyudahi kegilaannya itu.


Pria itu bergeming, tidak melanjutkan aksinya pada tubuh Gendhis, hanya bibirnya yang menyeringai. "Kau inginkan aku?" bisik nya pada rungu Gendhis.


"Arrghht! Pergi kau!" seloroh Gendhis dengan deru napas yang memburu.


"Aku tidak mengenalnya," ucap Gendhis, yang bingung dengan kata-kata pria itu.


Pria itu mengulas senyum tipis. "Aku, Narendra Arjuna Guinandra hanya ingin membuat kesepakatan denganmu."


Manik Gendhis membulat sempurna. "Kesepakatan, apa?" cicit Gendhis, mempertanyakan kembali ucapan pria itu.


"Aku akan membayarmu dua milyar!"


"Sudah aku bilang, aku tidak ingin uangmu! Apa kau tuli!" bentak Gendhis.


Narendra menggeleng sambil tersenyum devil. "Kau bekerja di Hotel Pasific demi uang, bukan? Sekarang aku membayarmu mahal untuk menjadi pelayanku! Apa masih kurang uang yang ku tawarkan pada mu?"

__ADS_1


"Berapa kali aku harus bilang pada mu, aku tidak ingin uang kamu! Aku tidak menjual kepera_wananku!" teriak Gendhis untuk sekian kalinya.


"Apa kau ingin aku melempar mu di lantai VVIP di Hotel Pasific, sekarang juga!"


Bibir Gendhis menganga sempurna, terkejut bukan main.


"Jangan bicara ngawur kamu!"


"Kenapa? Mau marah? Tak terima?" ejek Narendra mencibir ke arah Gendhis. "Siapa yang berani menentang keputusan ku!"


Mata indah milik Gendhis terbuka lebar-lebar.


"Jangan! Jangan jual aku di lantai VVIP di Hotel Pasific itu. Aku tak ingin menginjakkan kakiku di tempat itu lagi!" pinta Gendhis.


"Bagus! Anak pintar!"


"Apa ada perjanjian kontraknya?" tanya Gendhis ragu.


"Perjanjian tertulis akan aku buat selanjutnya! Sekarang cukup kamu mematuhi perintah ku dan tidak melanggar aturan ku saja!"


"Tapi--," Gendhis menggantung ucapannya.


"Kenapa?" sahut Narendra.


"Aku masih diperbolehkan bertemu Ibuku di rumah sakit, setiap waktu?" tanya Gendhis meragu.


"Boleh! Tapi kau ke sana dibawa pengawasan sopir pribadiku!" jelas Narendra.


"Sekarang cepat kau ganti pakaian mu!" titah Narendra.


Tanpa membuang waktunya, Gendhis segera mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Narendra terkekeh. "Aku tunggu di mobil."


Kesabaran Gendhis benar-benar sedang diuji. Tapi jika hidup berdampingan dengan Bos seperti Narendra, apa tidak membuat darah tinggi naik?


__ADS_2