Ganteng Tapi Aneh

Ganteng Tapi Aneh
Cemburu


__ADS_3

Happy reading..


Narendra mengetukkan jarinya di atas meja, menunggu jawaban dari sang informan yang ditugaskan untuk mengawasi Gendhis.


Namun hingga tiga puluh menit dia menunggu, tapi tidak kunjung juga informasi dari orang suruhannya itu. Tangannya mengepal kuat, lalu memijat keningnya. Narendra tidak mengerti mengapa tiba-tiba perasan konyol dan aneh itu bersarang di hatinya.


CEMBURU!!


Tidak! Tidak mungkin dirinya cemburu pada ja_lang kecil itu! Apalagi jatuh cinta! Misinya adalah membalaskan dendam kakak perempuannya, tapi dia juga tidak bisa memungkiri nya karena jelas-jelas yang merenggut kesucian gadis itu adalah dirinya. Atau kah gadis itu menjual tubuhnya demi pengobatan Ibunya? Tapi Narendra belum mengetahui jelas tentang informasi tentang wanita itu! Tak tahan dengan perdebatan di kepalanya, Narendra memukulkan kepalan tangannya di atas meja kerjanya.


BRAKK


Di saat itu, bersamaan dengan sang tangan kanannya masuk ke dalam ruangan.


"Ada masalah, Bos?" tanya Yudistira menelisik pada wajah Bosnya.


"Tidak ada," sahut singkat Narendra.


"Jangan bilang ada masalah dengan hati, Bos?" celutuk Yudistira yang sudah bisa menebak pikiran Bosnya itu.


Yudistira sudah hafal betul dengan kelakuan Bosnya, karena setiap hari mereka selalu bersama. Ada Narendra, berarti di sampingnya juga ada Yudistira.


***


Sementara di tempat lain, setelah melalui drama yang penuh dengan ketegangan antara dirinya dan Tuan mudanya. Gendhis akhirnya berhasil meminta ijin untuk menengok Ibunya. Dikarenakan hari ini, Ibunya diperbolehkan untuk pulang ke rumah setelah beberapa minggu di rawat di Premier Hospital.


Ketika sampai di parkiran rumah sakit, Gendhis segera turun dari mobil yang mengantarkannya.

__ADS_1


Gendhis tersenyum. 'Aman! Ternyata Tuan Gapian tidak menyuruh bodyguard itu untuk mengawasi ku lagi!' gumamnya.


Kemudian, dia mengayunkan kembali langkahnya dengan pasti menuju kamar rawat Ibunya dengan wajah yang berseri-seri. Hatinya sangat bahagia bisa kembali jumpa dengan wanita yang sudah melahirkannya itu. Sudah beberapa hari dia tidak bisa menemui sang Ibu, gara-gara kerewelan sang Tuan Gapian.


Pintu terbuka. "Assalamu'alaikum," salam Gendhis berbarengan dengan jemari lentiknya mendorong pintu yang bercat warna coklat tua itu.


Manik coklat nya langsung tertuju pada wanita paruh baya yang duduk di atas branka menyandarkan punggungnya di kepala ranjang yang berbahan besi.


Gendhis menyeret langkahnya mendekat ke arah sang Ibu. "Maafkan Naya, Bu," kata Gendhis sambil mencium punggung tangan sang Ibu dengan takzim.


Wanita paruh baya itu, mengusap pucuk kepala putri satu-satunya, kedua bola matanya sudah berkaca-kaca. Sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Naya, rasanya separuh jiwanya hilang. "Harusnya Ibu yang meminta maaf padamu, Naya. Karena penyakit Ibu, kamu harus bekerja keras untuk membiayai pengobatan Ibu di sini," suara Ibu tercekat.


"Ibu nggak usah berkata seperti itu, Naya ikhlas lillahita'ala. Naya hanya ingin Ibu segera sembuh dan kita bisa berkumpul kembali," ucap Gendhis sambil memeluk tubuh ringkih sang Ibu, yang sudah tidak dipasang alat-alat medis lagi.


Hampir lebih lima belas menit menikmati drama tangis-tangisan Putri dan Ibunya. Tiba-tiba dari arah pintu kamar mandi Andini berjalan menghampiri sahabatnya itu.


"Ehemm," deheman Andini mengagetkan Gendhis yang seketika memutar kepalanya dan menyipitkan mata. "Ohh, ada suara tapi tak ada wujudnya," seru Gendhis meringis. Kebiasaan bercanda yang dilontarkan ketika mereka berkumpul.


"Pecah gendang telinga aku, kimvriit!" pekik Gendhis, seraya mengusap-usap telinganya.


Wanita paruh baya yang melihat kedekatan dua anak manusia yang sudah seperti saudara itu pun ikutan terkekeh bahagia.


Meskipun Gendhis tidak bisa menjaga Ibunya setiap hari, tapi Andini dan Rico selalu mengunjungi sang Ibu, menggantikan posisinya yang memiliki keterbatasan waktu karena keterikatan kesepakatan dengan sang Tuannya.


Andini merangkul pundak Gendhis dan berbisik di indera pendengaran nya. "Heemm, sudah nyaman ya kerja sama Tuan Narendra, sampai-sampai lupa sama sahabatnya ini," Andini menaik turunkan alisnya.


Senyuman manis melengkung jelas dari bibir Gendhis. Dia memperlihatkan keadaannya sebaik mungkin di balik senyum terukir indah di wajahnya. Gendhis tidak ingin sahabat dan juga Ibunya mengetahui keadaan yang sebenarnya di tempat kerjanya saat ini. Dia ingin menyimpannya rapat-rapat dan tak ingin membaginya dengan siapa pun tentang kegelisahan dan kegundahan hatinya saat ini. Dia harus bisa memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


Tapi sebagai sahabat yang sudah lama mengenal sifat dan sikap Gendhis, perempuan yang berdiri berdampingan dengan Gendhis itu, tidak mudah dikecohkan dengan senyuman yang ditampilkan oleh sahabatnya itu. "Jangan bilang kamu disiksa di sana!" suara Andini terdengar sangat pelan, tapi penuh penekanan.


Gendhis hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak berkata sepatah kata pun pada Andini yang terus mendesaknya.


Sang Ibu yang memperhatikan gerak-gerik keduanya, akhirnya membuka suara. "Sebenarnya ada apa kali?" tanya Ibu penuh selidik karena hatinya dipenuhi rasa penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan kedua wanita yang seumuran itu.


Sambil menoleh ke arah wanita paruh baya yang sedari tadi memperhatikan mereka. Andini dan Gendhis bicara bersamaan, "Rahasia anak muda, Ibu," kekeh keduanya.


"Kebiasaan kalian berdua, kalau sudah berkumpul pasti yang dibahas hanya cowok," sahut Ibu Naya, seraya menggelengkan kepala. "Makanya cepat nikah, biar nggak cuma tebar pesona," canda sang Ibu, yang langsung disambut gelegar tawa oleh Andini dan Gendhis.


"Iya, ini, Bu. Katanya Naya mau dilamar cowoknya," seloroh Andini yang mendapatkan sebuah jitakan mesra dari jari jemari Gendhis yang seketika menari di dahi Andini.


"Ehh, mulut dijaga ya! Kamu kali yang mau nikah muda!" sewot Gendhis yang dibuatnya seolah-olah tak terima dengan ucapan Andini, agar Ibunya tidak terlalu banyak bertanya tentang apa yang sedang mereka bicarakan.


"Ya sudah sana, kalian ngobrol dulu yang enak, biar Ibu nggak bisa mendengar rahasia anak muda," ujar Ibu Naya dengan senyuman yang tersungging di kedua sudut bibirnya.


"Terimakasih, Ibu selalu pengertian pada para gadis yang memuja cowok tampan," Andini menghampiri wanita paruh baya yang duduk di atas brankar, lalu mendaratkan ciumannya di pipi kanan dan kiri.


Lalu, segera menarik tangan Gendhis keluar dari kamar rawat sang Ibu.


Kini mereka duduk di kursi yang terbuat dari bahan besi di depan kamar rawat Ibu Naya. Kemudian Andini bersedekap dengan tatapan intens pada sahabatnya itu.


Seolah menjadi terdakwa yang sedang dihakimi, Gendhis tidak terlihat takut dengan tatapan mengintimidasi Andini, malah dia membalas tatapan sahabatnya itu dengan kerlingan sebelah matanya. "Senyum Pak Boneng, Ting," kekeh Gendhis sambil mengusap kasar wajah Andini.


"Dewi Nayaka... Edaaann!" pekik Andini dengan berkacak pinggang.


"Mau apa, hah! Tak terima! Sini maju!" tantang Gendhis dengan menyenggol lengan kiri Andini yang terhuyung hampir terjengkang. Untung saja dengan cepat Gendhis menangkap tubuh Andini.

__ADS_1


"Hahaha..," tawa keduanya memenuhi ruangan yang sepi pengunjung.


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2