
Happy reading..
"Akhirnya kamu datang juga, Naya. Andini tak ikut bersamamu?" Sapaan hangat sekaligus pertanyaan dari sang ibu langsung menyambut kedatangan Gendhis, yang baru saja membuka pintu ruang rawat ibunya.
Gendhis tersenyum manis ke arah wanita paruh baya yang terbaring lemas di atas brankar.
"Andini kerja, Bu. Dia harus berangkat awal hari ini. Jadi dia belum bisa kemari, mungkin besok kalau lagi senggang. Ibu sudah makan?" tanya Gendhis mengalihkan pembicaraannya. Ia berusaha bersikap biasa-biasa saja di hadapan sang ibu. Karena Gendhis tak ingin ibunya mengetahui keadaan sebenarnya.
Selama ini Gendhis tidak menceritakan apa pekerjaan yang digeluti oleh Andini, sahabatnya itu. Yang diketahui ibunya adalah Andini dan Rico bekerja di Hotel Pasific itu, sama seperti dirinya. Hanya bekerja sebagai bartender atau koki. Padahal kenyataannya, Andini bekerja sebagai wanita penghibur di lantai VVIP di Hotel Pasific.
"Gendhis suapin ya, Bu," Gendhis sengaja mengalihkan topik pembicaraan secepat mungkin.
Wanita paruh baya itu menggeleng. Nafsu makannya belum stabil.
Tok Tok Tok
Kedua wanita berbeda usia itu, menoleh ke arah sumber suara.
Terdengar ketukan dari arah pintu. "Permisi," sapa Dokter Darius yang segera masuk.
"Eh, ada Dokter Darius. Tolong periksa keadaan Ibu, dari tadi tak mau makan," jelas Gendhis sembari tersenyum ke arah Dokter Darius.
Dokter Darius dengan sigap memeriksa keadaan Ibu Gendhis, pasca operasi. Usai memeriksa, Dokter tampan itu tersenyum pada Gendhis dan Ibunya.
Setelah berbincang-bincang beberapa menit, Dokter Darius pun undur. Karena Gendhis juga berusaha menjaga jarak dengan dokter tampan itu. Karena dia di sini hanya ingin ibunya sembuh, tidak ingin memikirkan yang terlalu berlebihan. Dia harus tau diri juga, jatuh cinta pada Dokter Darius itu tidak mungkin, itu hanya khayalan si miskin saja.
Gendhis melirik jam yang menempel di dinding ruangan. 'Astaga, aku sudah melebihi jam yang diberikan oleh Tuan Narendra. Bisa kena marah aku,' gumam Gendhis.
"Bu," ucap Gendhis lirih. Ia bingung harus mencari kata-kata yang tepat untuk berpamitan pada sang ibu. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh keluar dari manik indahnya.
"Iya, Nay."
Gendhis mendekap tubuh lemah sang ibu dengan mengusap air matanya yang menerobos jatuh di pipinya. Ia tidak ingin ibunya melihat kesedihannya.
__ADS_1
"Bu, maafkan Naya yang tidak bisa menemani ibu setiap waktu. Naya harus meninggalkan ibu sendirian di sini," ucap Gendhis terisak.
"Jangan nangis, Nay. Ibu nggak apa-apa, kan masih ada perawat yang bisa temani Ibu. Maafkan Ibu, ya Nay. Gara-gara penyakit Ibu ini, kamu harus menanggung biaya perawatan Ibu," ucap sang Ibu.
"Ibu jangan bicara seperti itu, sudah kewajiban Naya sebagai putri Ibu buat berobatin Ibu. Bisa melihat Ibu sehat kembali saja, Naya sudah bahagia," Gendhis menghapus sisa-sisa air mata dengan jari-jari lentiknya. "Pokoknya Ibu harus sehat. Biar kita bisa berkumpul kembali. Ibu tidak usah memikirkan tentang biaya pengobatan Ibu," ucap Gendhis tetap menyunggingkan senyum terbaiknya di wajah cantik miliknya.
Wanita paruh baya itu hanya terdiam. Dia tidak ingin membebani putri itu dengan hal-hal lainnya. Dia akan memendam sendiri tentang kedatangan Ayahnya tempo hari sebelum kejadian waktu itu.
"Bu, Naya pamit pulang dulu. Karena Naya harus kerja dua shift."
"Maafkan Ibu, ya. Sekarang kamu harus bekerja double. Kamu juga harus tetap jaga kesehatan, Nay."
"Iya, Bu. Naya akan selalu ingat pesan Ibu," Gendhis tersenyum sembari mengangguk pelan.
"Tapi kamu tidak bekerja yang aneh-aneh kan, Naya?" pertanyaan sang Ibu langsung membentur dinding hati Gendhis.
Gendhis terkesiap. Ia bingung harus menjawab apa pertanyaan sang Ibu. Haruskah dia jujur berkata ia mendapatkan uang untuk operasi ibunya dengan menjual diri? Atau kah sekarang ini, dia akan juga menjawab pertanyaan sang Ibu, bahwa dirinya telah membuat kesepakatan dengan Tuan Narendra?
Gila!
Tapi dia tidak bisa menghindari pertanyaan Ibunya, Gendhis harus segera memberikan jawabannya, tidak bisa ditunda lagi atau Ibunya akan semakin mencurigainya.
"Naya bekerja sebagai petugas bersih-bersih di rumah Tuan Narendra," jawab Gendhis sekenanya.
"Tukang bersih-bersih?" tanya sang Ibu masih ingin menginterogasi dirinya.
"I_ya, Ibu. Naya bekerja sebagai tukang bersih-bersih separuh waktu," ucapnya lagi, Gendhis semakin ketakutan dengan rentetan pertanyaan yang diajukan oleh ibunya untuk meruntuhkan pertahanannya. Padahal dia tak ingin mengucapkan kebohongan pada sang Ibu, karena jika sekali dia berbohong. Sudah dipastikan dia akan membuat kebohongan lagi pada sang Ibu.
-
-
-
__ADS_1
Sementara di ruang kerjanya. Narendra berdiri memandang ke luar jendela kaca, sambil menyesap dalam rokok elektrik nya. Lalu menghembuskan perlahan kepulan asap dari bibirnya. Ia sedang memikirkan sesuatu dalam kepalanya.
Yudistira yang berdiri tak jauh dari Tuannya, bisa melihat asap putih keluar dari bibir Tuannya menyebar di dalam ruangan itu. Ia hanya bergeming, menunggu perintah dari sang Tuannya. Lebih baik diam, itulah yang dipilih oleh Yudistira, orang kepercayaan Narendra.
Narendra menghela nafas panjang. "Berita apa yang hendak kau sampaikan hari ini? Apa kau mendapatkan informasi tentang perempuan itu?" tanya Narendra tanpa membalikkan tubuhnya. Ia menajamkan indera pendengarannya untuk menerima laporan dari Yudistira, sang tangan kanan. Sembari terus memainkan kepulan asap putih dari mulutnya.
Yudistira menyerahkan sebuah amplop coklat yang berisikan laporan tentang perempuan yang ditanyakan oleh sang Tuannya.
Narendra menerima amplop coklat itu, lalu membukanya. Ia membelalakkan matanya. Ekspresi wajah yang amat sangat serius.
Dewi Nayaka Arzaquna.
Nama itu tercetak jelas di kertas putih yang kini dibaca oleh Narendra.
"Beraninya dia bermain-main dengan aku! Belum tahu siapa Narendra Arjuna Guinandra! Akan ku buat perhitungan kau malam ini!" Narendra mengumpat penuh emosi.
Yudistira belum membuka suaranya, dia masih menunggu komando dari sang Tuannya.
"Ada lagi?" tanya Narendra dengan kepala yang masih penuh dengan emosi.
"Tuan Heru belum sempat merenggut kepera_wanan gadis itu," Yudistira memberikan informasi terpentingnya. "Karena, Tuan Heru telah dipergoki Nyonya Nindy terlebih dahulu, sebelum melakukan itu," tambah Yudistira.
"Lanjutkan!"
"Informasi yang saya dapat lagi tentang Tuan Heru sekarang ini dia sedang menjalin hubungan dengan wanita bernama Keyla."
"Oke, kamu bisa tinggalkan aku sendiri!" titah Narendra pada Yudistira.
Yudistira pun pergi meninggalkan ruang kerja Narendra. Dari kode tangan sang Tuannya saja, Yudistira sudah bisa membacanya. Bahwa dia diusir secara halus.
Kini hanya tinggal Narendra sendiri dengan amarah yang menguasai. Ia mengepalkan tangannya di kedua sisi.
"Tunggu pembalasan aku, Heru! Kau akan jadi gelandang di luar sana! Dan kamu Nayaka, apa kau memang masih suci? Dia pikir aku nggak bisa berbuat tega sama dia!" umpatnya kesal. "Berani kau sakiti kakak perempuanku, berani kau berhadapan dengan ku!" Narendra memicingkan mata penuh guratan emosi. Ia sedang tidak baik-baik saja, saat ini.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁