
Happy reading..
Hingga sekarang Naya tidak pernah mengetahui bahwa pria yang menyewanya malam itu adalah Heru, menantu laki-laki dari Putri Keluarga Guinandra. Kakak ipar, Tuan mudanya. Dan tak pernah terbesit sedikit pun dalam pikiran Naya untuk mencari informasi, kenapa Tuannya itu sangat membencinya diawal pertemuan mereka.
Tapi, bagaimana juga reaksi Naya. Ketika mengetahui bahwa Narendra membeli dirinya dengan harga fantastik itu hanya untuk membalaskan dendam kakak perempuannya pada dirinya? Akan kah Naya membenci Narendra seumur hidupnya? Padahal dengan berjalannya waktu, benih-benih cinta itu mulai tumbuh di hati keduanya.
Setelah berbicara empat mata dengan Cempaka. Nayaka diperbolehkan untuk keluar ruangan itu. Lantas, Nayaka mengayunkan langkahnya ke arah dapur mengambil air minum memba_sahi tenggorokannya yang kering.
Entah pikirannya yang lagi kalut atau pandangannya yang tak fokus. Nayaka menyeret langkahnya sedikit malas menuju dapur.
Dari arah yang berlawanan ada sosok bertubuh tegap berjalan ke arahnya. Dua orang yang berjalan sama-sama tidak difokus dengan apa yang ada di depannya.
Bughh.
"Maaf, Tuan," kata Nayaka dengan menundukkan kepalanya.
"Siapa kamu?" Heru bertanya pada wanita yang baru saja menyenggol lengannya, dengan mengangkat dagu wanita yang berdiri gemetaran di depannya.
Sedikit memberontak dan melengos dari hadapan Heru, Nayaka membuang muka. Tapi cengkeraman Heru lebih kuat dan...
"Kamu..!"
Nayaka termangu. Begitu terkejutnya hingga kedua manik cokelat mudanya itu hampir copot dari posisinya.
Nayaka tidak menyangka akan bertemu kembali dengan pria yang ingin membeli kepe_rawanannya tempo lalu, di Mansion mewah milik Keluarga Guinandra. 'Ada hubungan apa pria itu dengan Keluarga Guinandra? Tidak mungkin jika dia kakak laki-laki dari Tuan Gapian?' monolog Nayaka dalam batinnya.
Wanita berusia dua puluh tahun itu menggerakkan kakinya kebelakang, dia mengambil ancang-ancang untuk kabur dari hadapan pria itu. Tapi, pikirannya mungkin sudah terbaca oleh Heru. Dengan cepat Heru menarik pergelangan Nayaka. Lalu, merengkuh tubuh wanita yang ada di depan nya.
"Kau sangat cantik sekali, sayang," Heru mendekatkan dahinya.
__ADS_1
Seketika Nayaka membuang wajahnya, menghindar dari wajah Heru yang semakin mengarah ke wajahnya.
"Kamu masih mempunyai hutang padaku, ja_lang kecil! Sebentar lagi kita akan melanjutkan permainan panas kita yang tertunda!" terdengar nafas berat Heru di rungu Nayaka.
"Lepaskan, Tuan!" Nayaka memukul da da Heru terus menerus, tapi meskipun wanita itu terus memberontak. Heru malah berani mulai menciumi wajah Nayaka. Otak Heru telah tertutup nafsu yang membuncah, dia tidak memikirkan, jika ada orang yang akan memergoki dirinya.
Napas Heru mulai terdengar terengah-engah. Satu tangannya sudah menyusup di balik pakaian Nayaka. Dengan sekuat tenaga Nayaka berusaha menginjak kaki Heru. Namun, pria yang sudah dipenuhi kabut has_r4t yang memuncak langsung mengunci pergerakan Nayaka.
"Diam kamu! Ingat urusan kita belum kelar! Atau kamu mau mengembalikan uangku, sekarang juga!" bentak Heru dengan mata yang telah berubah warna merah membara.
"Aku tidak sudi! Lepasin aku! Tolooong," teriak Nayaka sebelum akhirnya bibir itu disumpal dengan bibir Heru.
Nayaka hanya bisa menangis dan berdoa agar ada orang yang menyelamatkan nya.
Narendra yang mencurigai gerak gerik Heru sedari awal, lantas beranjak dari duduknya dan berpamitan sebentar pada Pengacara Firdaus.
Dalam pikiran Narendra saat ini, hanyalah keselamatan Nayaka dari terkaman si pencundang Heru.
Sekelebat Yudistira melihat bayangan Bosnya ke arah dapur dengan berlari. Untuk menjawab rasa penasarannya, Yudistira segera mengikuti pergerakan Bosnya yang mencurigakan.
Suara teriakan bercampur rintihan dari Nayaka semakin keras, membuat emosi Narendra mulai terbakar.
Melihat pandangan yang menyilaukan manik hitam Narendra, tanpa bisa dicegah, Narendra langsung menendang tubuh Heru sampai terpelanting tubuhnya menabrak wastafel.
Amarah Putra Guinandra meledak juga. Yudistira yang melihat kejadian itu berusaha melerai Bosnya.
Nayaka hanya bisa menangis terduduk di lantai dengan pakaian atasnya sudah robek oleh tangan Heru.
Yudistira bergegas melepas jaket yang dipakainya untuk menutupi tubuh atas Nayaka, lalu berlari kembali untuk melerai Bosnya yang semakin ingin membunuh Heru.
__ADS_1
"Berhenti Bos!" teriak Yudistira yang kualahan memisahkan kedua pria yang saling adu kekuatan itu.
"Aaahhh...! Pergi kalian! Jangan siksa aku! Toloong!" pekik Nayaka.
Ingatan Nayaka kembali dengan penyiksaannya waktu kecil. Ia meringkuk ketakutan duduk memeluk erat lututnya, lalu berpindah menutupi kedua telinganya dengan berderai air matanya.
"Hentikan!" suara Nayaka terdengar kembali. Karena menoleh ke arah sumber suara yang ada di belakangnya. Mendapatkan angin segar karena kelengahan Narendra. Pria yang sudah babak belur oleh tinju Narendra, akhirnya mengambil kesempatan itu dan membalas bogem ke arah wajah Narendra.
Bugh..
Bugh..
Narendra segera membalas dengan melayangkan kembali kepalan tangannya ke arah muka Heru yang sudah mengeluarkan cairan merah di kedua sudut bibirnya.
Mendengar suara ribut-ribut, Daneswara dan Cempaka berjalan tergesa-gesa ke arah dapur.
Sedangkan Yudistira yang sedari tadi mencoba melerainya, malah terkena bogeman dari Bosnya.
"Cukup Bos, jangan kotori tangan Bos dengan darah kotor pria pecundang ini!" pekik Yudistira kesal. Tapi tidak dihindakan oleh Narendra yang tertutup emosinya.
PLAK..
PLAK..
"BERHENTI KALIAN!" suara bariton Daneswara menghentikan perkelahian dua pria yang saling menghantam.
"MINTA MATI KALIAN!" bentak Daneswara pemilik Mansion mewah itu.
☘️☘️☘️☘️
__ADS_1