
Happy reading...
Salahkah aku jika ingin memilikinya? Jika diri mulai mendambanya. Tetapi aku tidak mau menjadi pungguk merindukan sang bulan. Tidak mungkin dan sangat mustahil pria sesempurna Narendra akan melirik atau bahkan tertambat hatinya pada wanita hina seperti 'aku'! Rasanya seperti menggapai bintang di langit, namun percuma saja jika akhir nya terjun bebas ke dasar jurang karena tangan kosong yang memaksakan untuk terbang.
Nayaka menepuk kedua pipinya mengembalikan kesadarannya agar tidak semakin terjebak dalam lamunan sebatas kamuflase saja. Namun, semakin lama semakin bayang pria tampan yang memilik rahang tegas dengan bulu-bulu tipis yang menempati dagunya itu, semakin menari-nari dalam pikirannya, saat ini.
Ya, Tuan Gapian nya memang telah berhasil memikat hatinya, memenjarakan cintanya pada angan-angan yang tak mungkin dapat terealisasikan.
Logikanya mulai ekstrim memberondong pertanyaan yang panjang dan rumit. Entah, Nayaka mampu tuk menjawab semuanya tentang perasaannya sendiri.
Meskipun terkadang kesan pertama selalu saja berhasil mencetak sebuah rekam kenangan terindah. Bahkan untuk menekan kata 'delete' dalam otaknya saja takkan mampu. Bahkan hal itu semakin membekas kuat dalam ingatan dan tertancap dalam relung hati. Walaupun pertemuan itu hanya bermula dari sebuah kata 'balas dendam' semata. Tapi lain di bibir, lain pulak di hati. Itulah faktanya! Karena manusia hanya sekedar berencana. Namun, semua keputusan akhir ada di tangan Sang Pencipta-Nya.
"Sadar, Nayaka! Tidak semudah yang kau bayangkan. Seorang Narendra Arjuna Guinandra jatuh hati di atas dendam membara sang kakak perempuan nya," Nayaka mencoba menyangkal semua kenyataan yang ada di depan matanya. Tapi jerit hatinya semakin memuja pria tampan yang telah memikat hatinya.
Berulang kali wanita muda itu menggelengkan kepalanya untuk menyakinkan diri. Bahwa khayalannya terlalu tinggi tuk diabadikan.
"Kamu bukan peri dengan tongkatnya, Nayaka! Sekali kejap, langsung merubah semua keinginan kamu! Kamu hanya seorang wanita yang dengan mudah menjual tubuhnya untuk kenikmatan sesaat!" suara hatinya yang lain menyadarkan ingatan Nayaka. "Bukan!" teriak sebelah sisi hatinya spontan. "Semua yang kulakukan bukan untuk kenikmatan sesaat! Tapi, aku melakukan itu semua demi 'Ibu' ku! Malaikat nyataku, yang telah mempertaruhkan nyawanya demi aku!" hardiknya pada sisi hati yang menyeringai sinis ada dirinya.
'Ingat Nayaka! Perhatian dan sikap manis yang diberikan Narendra padamu kemarin hanya sebuah trik saja! Semua itu bukan benar-benar dari hatinya! Jangan terlena dengan sikap manisnya. Dasar wanita bodoh!' wanita berusia memasuki angka dua puluh tahun merutuki dirinya sendiri dan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang hanya berukuran 5x10 m itu.
*****
Apakah aku terlihat seperti pria yang sedang mengemis cinta pada wanita muda yang kabur dari rumahku?
Narendra menggeleng cepat.
__ADS_1
Pria itu melajukan kuda besinya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat dirawat nya Ibu Nayaka, dengan pikiran tak tentu arah. Tapi Narendra tiba-tiba menghentikan laju kendaraan mewahnya ketika bola matanya melihat ke arah lampu lalu lintas tepat di perempatan jalan yang menyala merah.
Tatapan manik matanya seolah terfokus ke depan, tapi tidak sinkron dengan pikirannya sekarang ini yang melanglang buana.
"Aaarrggghh!!!"
Teriak Narendra sangat keras hingga mengagetkan Yudistira yang duduk di kursi di sebelahnya.
"Bos, baik-baik saja?" tatap Yudistira curiga pada mental bosnya.
Sedangkan pria yang duduk di belakang kemudi itu mengacuhkan pertanyaan yang dikeluarkan oleh sang assisten.
Narendra mengedarkan pandangannya ke segala arah di hadapannya.
Sungguh, cinta yang rumit! Berulang kali pria tampan itu memijat pelipisnya yang terasa pening. Dampak besar dari kata balas dendam dan berakhir pada masalah hati hingga menyesakkan dada. Dan yang lebih parahnya lagi, dia telah menyakiti hati wanita muda yang tanpa Narendra sadari, sosok Nayaka yang hadir di hidupnya. Kini, mulai merasuk ke dalam relung jiwanya.
"Maafkan aku, Nayaka. Karena sebuah balas dendam yang belum jelas kebenaran ceritanya, hingga membuatmu terluka, bahkan membenciku! Semua ini salahku, Nayaka?" tanpa Narendra sadari ia berucap lirih dan menggenggam erat setir bundarnya, lalu membenturkan kepalanya pada kaca jendela mobil di sampingnya.
Melihat gelagat yang semakin aneh pada bosnya, Yudistira memberanikan diri.
"Bos, biar saya saja yang mengemudikan mobilnya. Saya masih perjaka tulen, bos. Belum pernah merasakan pengadonan," ujar Yudistira sembari mengurut dadanya.
"Yang sabar bos. Orang baik pasti diberikan jalan untuk menyelesaikan masalahnya dengan cepat, bos. Tetap kuat dan saya hanya memberikan doa terbaik buat bos," tambah Yudistira yang merasa iba melihat kondisi Narendra saat ini. Tapi dia juga tidak ingin mencampuri urusan yang sangat pelik yang sedang dihadapi bos nya itu. Biar lah suatu saat nanti pria tampan yang duduk di sebelah nya itu mengungkapkan segala nya dengan sendirinya padanya.
"Beneran kamu masih perjaka tulen, Yud?" tanya Narendra memicingkan mata tak percaya sambil menunggu jawaban dari Yudistira.
__ADS_1
"Masih sampai detik ini, bos," kata Yudistira penuh dengan keyakinan.
Narendra tersenyum tipis, lalu. "Keren!" pujinya. "Jaman sudah serba gadget begini masih bisa mempertahankan keperjakaan, Yud? Apa kamu tidak pernah jatuh cinta?" tanya Narendra penuh hati-hati takut menyingung perasaan sang asisten.
Yudistira tersenyum geli, sambil mengingat sesuatu. Lantas menanggapi pertanyaan yang dilontarkan bosnya barusan.
"Jatuh cinta? Sudah pernah bos. Tapi mencintai dan dicintai orang yang tepat dan di waktu yang pas belum pernah, bos," jelas Yudistira yang langsung mendapatkan acungan jempol dari sang bos.
"Jujur sekali, kamu!" Narendra tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepala, berdecak kagum pada Yudistira.
"Tapi kamu normalkan, Yud?" pertanyaan Narendra sedikit melenceng dari pembahasan awal.
"Hahaha, bos ini lucu. Ya sudah pasti saya normal bos, tidak perlu diragukan lagi. Melihat cewek cantik memakai gaun setipis saringan tahu saja, langsung on fire antena radar saya, bos," kekeh Yudistira yang memenuhi mobil mewah milik bos nya itu.
Kini giliran Yudistira yang mengajukan pertanyaan pada bos nya. "Apa bos saat ini sedang merasakan sesuatu hingga membuat gundah gulana hati dan pikiran bos Narendra."
Pertanyaan yang diajukan oleh Yudistira membuat bingung Narendra menjawabnya.
Narendra seketika menatap Yudistira dengan kening berkerut.
"Yang bisa merasakan dan menemukan jawabannya hanya ini, bos," ucap Yudistira dengan meletakkan kedua tangannya di dada. "Mungkin nama nona Nayaka saat ini telah meratui hati bos Narendra," simpul Yudistira kemudian. "Karena cinta dan kagum itu sangat beda tipis, bahkan cenderung ke kata 'kasihan'. Dan juga jika hanya ada cinta tapi tidak ada kenyamanan, mungkin dia hanya singgah dan tak ingin menetap," tambah Yudistira.
Narendra bingung mendeskripsikan apa yang ada di hatinya, saat ini. Ia menyandarkan lengannya dan menyangga dagu di jendela mobil.
"Ya, beda tipis! Setipis kesadaranku yang tidak bisa membedakan dendam dan cinta!" ucap Narendra dengan menatap jauh ke depan.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️