Ganteng Tapi Aneh

Ganteng Tapi Aneh
Lewat tanpa permisi


__ADS_3

Happy reading...


Cekiittt...


Brakkk..


Kook.. Kook..


Suara ay4m berlarian mengepakkan sayapnya di atas kaca depan mobil yang sedang dilajukan oleh Yudistira.


Duggg..


"Aww.." pekik keras bersumber dari jok belakang.


Narendra mengusap-usap keningnya yang membentur belakang jok mobil yang diduduki Yudistira di belakang kemudi.


"Kamu mau bunuh diri jangan ajak aku, Yud! Aku masih ingin hidup lebih lama! Belum bosan aku! Sialan kamu, Yudistira!" omel Narendra ketus pada sang assisten yang mendadak menginjak pedal rem.


"Maaf bos, tiba-tiba saja ada ay4m lewat tanpa permisi dulu," jawab Yudistira menerangkan kronologi nya pada sang bos. Kenapa dia harus mengerem mendadak.


Mendengar penjelasan Yudistira membuat kening Narendra berkerut.


"Apa hubungannya ay4m dengan rem mendadak kamu, Yudistira?"


Di saat genting seperti itu assisten nya masih bisa membuat sang bos tertawa tak jelas. Narendra menahan tertawa gelinya saat ini, mendengar alasan dari sang asisten.


Dua pria tampan yang berbeda status jabatannya yang berada dalam mobil sedang mendebat kan seekor ay4m yang terbang dari mana, tapi tiba-tiba mendarat tepat di kaca depan mobil.


"Beneran sialan ini! Jadi menghambat perjalanan saja!" dongkol Narendra seraya mengusap wajahnya frustasi.


Tok.. Tok.. Tok..

__ADS_1


Kaca mobil samping Yudistira terdengar diketok dari luar. Pria tampan itu seketika memutar kepalanya ke arah sumber suara berada.


Nampak wanita setengah baya dengan tubuh agak tambun memakai daster bunga-bunga dengan berkaca pinggang seraya mengendong ay4m yang terbang tadi mendarat di kaca depan mobil yang dikendarai oleh Yudistira.


"Buka kaca nya!" teriak wanita tambun itu dengan wajah yang terlihat garang dan terus mengetok kaca mobil.


Bola mata Narendra beralih ke wanita tambun yang berdiri di samping mobilnya dengan kening berkerut.


"Kenapa wanita itu ngomel-ngomel nggak jelas, Yud?" tanya Narendra pada Yudistira.


"Tidak tahu, bos," jawab singkat Yudistira.


"Segera atasi wanita itu! Buat semakin badmood!" Narendra menimpali.


Yudistira bukan hanya membuka kaca mobilnya, melainkan dia juga langsung turun untuk menghampiri ke wanita setengah baya yang berdaster itu.


"Maaf, ada apa ya, Bu?" tanya Yudistira dengan santun dan mengatupkan kedua tangan di depan dada.


"Ada apa.. Ada apa! Lihat ini, ay4m saya jadi syok. Gara-gara ketabrak mobil kamu yang ngebut di jalan sempit ini! Dikira sirkuit balap mobil kali!" omel wanita itu dengan panjang dan lugas tanpa memberi jeda sedikit pun pada Yudistira untuk berbicara.


"Maksudnya, ibu? Saya tidak menabrak ay4m ibu. Tapi ay4m ibu yang tida-tiba mendarat di kaca mobil," jawab Yudistira sebagai pembelaan diri sembari menggaruk lehernya yang tidak kenapa-kenapa.


Namun ibu yang berbadan tambun berdaster itu, semakin sewot dan kencang suaranya. Hingga mengundang ibu-ibu lainnya yang sedang duduk santai di teras rumah salah satu warga kampung yang dilewati mobil mewah milik Narendra.


Datang lagi satu wanita berusia sekitar 35 tahun agak kurusan, mendekat pada Yudistira dan wanita yang berbadan tambun yang sedang berselisih hanya gara-gara seekor ay4m yang tak berakhlak.


"Ada apa Bu Tri?" tanya wanita yang barusan datang pada wanita yang berbadan tambun yang bernama Bu Tri tersebut.


"Ini lho, Bu Nanik. Ay4m saya habis ketabrak mobil mas nya yang ngebut dan sekarang menjadi syok, stress berat ini," jawab Bu Tri ketus


Seolah ada bala sekutuu nya, Bu Tri semakin semangat menyerang Yudistira dan memojookkannya hingga seakan-akan menjadi tersangka dalam tragedi penabrakan sang ay4m.

__ADS_1


"Itu kan Ay4m Bu Tri yang mau bertelur? Waduh.. Bisa gagal bertelur nanti itu ay4m nya Bu Tri, kalau syok begitu. Dan biasanya mengalami stres tambah wanita yang berusia 35 tahun dan berbadan kurusan itu, semakin menjadi kompor meleduk.


'Astaga! Ada-ada aja dua ibu-ibu ini! Ini bukan membahas perhewanan! Ay4m juga bisa stress toh, ya?' batin Yudistira tidak faham masalah peray4man dan perteluran.


Melihat kondisi tidak kondusif dan setelah melirik benda bundar yang bertengger di tangan kanannya. Narendra berinisiatif keluar dari mobilnya. Guna segera menyelesaikan perdebatan yang tak berfaedah antara sang asisten dengan dua ibu-ibu yang perlu disumpal mulutnya dengan lima lembar pecahan yang berwarna merah. Pikir Narendra agar cepat terselesaikan urusannya. Karena baginya yang lebih penting saat ini adalah mengejar cintanya yang sedang merajuk dan kabur darinya.


"Permisi, ada apa ya. Ibu-ibu yang baik hati dan tidak suka menggibah?" Narendra mengehentikan perselisihan itu.


Wanita berbadan tambun itu langsung menajamkan tatapan matanya pada pria tampan yang barusan keluar dari mobil mahal itu.


Melihat pria tampan satu lagi yang berdiri di hadapannya, wanita tambun itu mulai pasang aksi.


'Waw.. Tampan sekali pria muda ini. Seperti aktor-aktor tampan nan gagah juga bercambang. Idola banget ini,' gumam wanita tambun itu seketika memuji ketampanan Narendra dan bernarsis ria di hadapan Narendra. Tapi akap sehatnya segera menyadarkan wanita itu kembali. 'Stop Tri! Sekarang bukan waktunya untuk memuji ketampanan pria muda itu! Tapi kamu harus tetap bersikap garang dan ketus di depan pria tampan itu, agar tidak merugi dirimu! Biar kamu dapat ganti rugi yang besar. Lumayan buat dapurmu biar bisa mengebul terus! Nanti baru kamu bersikap manis, kalau sudah dapat ganti rugi!' monolog Bu Tri dalam batinnya. Mumpung masih ada kesempatan di balik tragedi ay4m terbang.


"Supir mas nya itu sudah menabrak ay4m saya! Lihat sekarang jadi syok begini ay4m saya!" Bu Tri memperlihatkan ay4mnya yang sedari tadi digendongnya ke arah wajah Narendra.


'Uupsst..!' Narendra spontan memundurkan langkahnya menghindari Bu Tri.


Tanpa berbasa-basi sepanjang rel kereta jakarta Surabaya. Narendra segera mengambil uang berwarna merah sejumlah lima lembar lalu menyodorkan pada Bu Tri.


"Maafkan keteledoran supir saya, ibu-ibu yang baik hati dan tidak suka mengomel tak jelas," ujar Narendra sembari menyerahkan uang itu pada Bu Tri.


Seketika kedua matanya langsung berbinar cerah, melihat uang yang disodorkan oleh Narendra barusan.


"Ehh, terimakasih mas ganteng. Tapi ini kebanyakan," tolak halus Bu Tri, tapi tetap saja diterima uangnya dan langsung dikekepin biat tidak mabur uangnya.


"Tidak apa-apa, Bu. Anggap saja rejeki dari Alloh. Meskipun sedikit ngotot berdoanya," sindir Narendra dengan senyum sinis.


'Tapi itu kan yang kami mau Bu! Dasar ibu-ibu tukang malak orang!' gumam Narendra jengkel karena menghadang perjalanan nya.


Setelah menyelesaikan permasalahan kecil itu. Kini Yudistira melajukan kembali mobilnya di atas aspal hitam.

__ADS_1


"Kamu kalau cari jalan alternatif dilihat lihat dulu peta Dora nya, Yud! Jangan asal memutar setor bundar, kamu masuk di jalanan sempit begitu! Jadi menghambat perjalanan saya!" Narendra memberikan wejangan pada asistennya.


☘️☘️☘️☘️


__ADS_2