
Happy reading...
"Kamu beneran akan bekerja di cafe itu, Nayaka?" wanita muda yang seumuran dengan nya duduk sambil menopang dagu dan menatap intens ke arah sahabatnya. "Atau aku carikan lagi saja pekerjaan di mini market atau di restoran siap saji, Nay?" Andini masih ragu untuk memberikan sebuah pekerjaan untuk Nayaka di cafe Danau Biru itu. Karena untuk tidak terjamah oleh pria hidung belang di sana itu sangat mustahil bin mustajab.
Jika Nayaka bekerja sebagai koki, maka dia tidak akan berhubungan langsung dengan para pengunjung cafe itu. Tapi jika Nayaka bekerja sebagai pelayan, otomatis dia akan melayani pengunjung cafe.
Sedangkan orang kepercayaan bos pemilik cafe tersebut juga tidak bisa menjamin Nayaka tidak terjamah oleh pria hidung belang yang datang ke cafe itu.
Nayaka menatap ke arah Andini dengan tatapan sendu
"Please, Andini. Aku butuh pekerjaan saat ini, tidak mungkin aku membebankan semua kebutuhanku padamu. Ibu juga masih butuh uang yang banyak untuk pengobatannya," ucap Nayaka merayu Andini.
Andini mengangkat wajahnya melihat Nayaka, ragu.
"Apa kau sudah yakin dengan keputusan kamu ini?"
"Hanya itu solusinya, saat ini. Andini," ucap Nayaka dengan menghela nafas panjang.
"Bukan solusi terbaik baik, Nayaka!" Andini mendengus kesal dan penuh sesal pada keputusan sahabatnya itu.
"Kamu jangan khawatir berlebihan begitu, Andini. Aku kan bekerja sebagai pelayan biasa di cafe itu. Bukan melayani tamu yang khusus," ujar Nayaka terus memohon pada Andini agar meloloskan permintaannya kali ini.
"Tapi itu bukan satu jaminan?" mata Andini melotot ke arah Nayaka. "Bagaimana jika kamu nanti disuruh untuk berpakaian seksi? Pasti pria hidung belang di sana akan memaksamu untuk melayaninya dan mereka akan memberikan fee yang lebih banyak padamu! Bisakah kamu menolak itu semua?" Andini menatap tajam dengan bersedekap.
"Sudah aku katakan berulang kali padamu, Andini. Aku bukan menjual tubuhku. Ingat itu! Walaupun aku sudah tidak ----," Nayaka menjeda ucapannya.
Hampir saja dia keceplosan pada Andini, jika dirinya sudah tidak pera_wan lagi. Meskipun kesuciannya telah direnggut oleh Tuan Gapiannya, Nayaka tidak berniat untuk menjerumuskan dirinya kembali pada kubangan yang sama.
Tapi kali ini, keinginannya untuk bekerja di cafe itu hanya ingin mencari uang yang halal saja. Dia akan bekerja sebagai pelayan cafe yang biasa saja. Tidak melayani tamu di dalam kamar, apalagi menyuguhkan yang lainnya.
Merasa penasaran dengan perkataan Nayaka yang belum terselesaikan. Andini meminta Nayaka menjelaskan nya, tanpa ada yang ditutup tutupi darinya.
"Lanjutkan ucapanmu yang tadi! Atau aku tidak akan memberikan pekerjaan itu padamu!" ancam Andini dengan berkacak pinggang di depan Nayaka.
"Yang mana?" Nayaka mencoba menghindar dari pertanyaan Andini.
"Satu!"
"Dua!"
__ADS_1
"Tiga!"
Andini menghitung terus dengan bola matanya yang tidak mau lepas dari wajah Nayaka yang bergeming. Sehingga membuat wanita berusia dua puluh tahunan itu merasa gugup.
Tapi dengan cepat Nayaka melakukan negosiasi dengan sahabatnya itu.
"Kalau aku melanjutkan ucapanku tadi, kamu harus memperkenalkan aku dengan temanmu itu!?" tanya Nayaka dengan tatapan mengintimidasi pada Andini yang memonyongkan bibirnya.
"Hmm.. Ada yang membuat ancaman ini," Andini mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk. "Atau sebuah perintah yang tidak bisa ditolak lagi!" kening Andini berkerut dengan mata sedikit menyipit mendengar perkataan Nayaka.
"Ya, begitulah!" jawab Nayaka tegas dengan mengangkat kedua bahunya.
"Aku tegaskan lagi, Nayaka! Aku atau pun temanku tidak bisa menjamin kamu di sana tidak akan melayani tamu khusus? Aku tidak yakin itu, kamu dengar!" ucap Andini dengan lugas.
"CK! CK! Katanya orang kepercayaan! Orang yang berkuasa nomor dua di cafe itu! Masa mengatasi hal sepele begitu saja tidak mampu!" cibik Nayaka meremehkan teman Andini.
Pletak!!
Andini langsung mendaratkan jitakannya pada kening Nayaka.
"Aduh..! Sakit woi!" pekik Nayaka mendelik.
Wanita muda itu mengusap-usap dahinya yang masih menyisakan rasa panas akibat jitakan Andini.
"Makanya jadi orang jangan sok kuat dan bisa mengatasi permasalah sendiri!" cicit Andini yang tidak diterima lapang dada oleh Nayaka.
"Apa maksud nya? Kasih paham dulu akunya!" Nayaka tak terima dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu.
"Nggak mau!" tolak Andini kekeuh. "Kamu duluan yang harus lanjutkan ucapanmu yang tadi! Atau aku tidak akan memberikan pekerjaan itu padamu!" Andini mengancam balik pada Nayaka.
"Uuhh," Nayaka mendengus kesal sembari beranjak dari duduknya.
Andini membelalakkan matanya, melihat sahabatnya yang akan pergi meninggalkan perbincangan mereka yang belum terselesaikan.
"Duduk, Nayaka! Kamu mau ke mana?" seru Andini.
"Malas bicara sama kamu!"
"Beneran malas nih! Atau aku hubungi saja Tuan Narendra, sekarang juga. Biar kamu dijemput di sini," cerca Andini dengan membuka layar ponselnya.
__ADS_1
"Idiih..! Apaan sih kamu, Andini!" sewot Nayaka merebut ponsel Andini.
Secepat kilat Andini menyembunyikan ponselnya dari jangkauan Nayaka.
"Duduk dan lanjutkan yang tadi!" titah Andini.
"Hhmmmpph.." hanya itu yang keluar dari bibir Nayaka.
Hening sejenak.
"Aku cerita ke kamu, tapi jangan ditertawakan atau mencemooh aku," ujar Nayaka dengan tatapan miris.
"Kalau tidak mau bercerita ya sudah. Lebih baik tak usah! Aku tidak mau memaksamu," ucap Andini melihat keraguan di manik cokelat muda milik Nayaka.
"Aku sudah tidak suci lagi, Andini," ucap Nayaka tercekat. Tenggorokannya seolah tercekik setelah dia mengucapkan kata-kata itu.
Andini menganga tak percaya dengan mata membulat sempurna.
"Apa itu perbuatan Tuan Narendra?"
"Iya," jawab Nayaka lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
Andini langsung memeluk tubuh Nayaka. "Maafkan aku, Nayaka," lirih Andini dengan suara tangisan yang mulai terdengar.
Nayaka berusaha terlihat tegar di hadapan sahabat nya itu.
"Hai, kenapa kamu yang nangis, Andini!" Nayaka melepaskan pelukan Andini dan menatap ke arahnya. "Aku baik-baik saja! Itu sudah konsekuensi nya, bukan! Kenapa harus disesali!" Nayaka berusaha menghibur dirinya, agar tidak membebani pikiran sahabatnya.
"Tapi itu semua karena aku, Nayaka," sesal Andini. Dengan apa yang menimpa sahabatnya itu.
"Tidak ada yang perlu disesali, Andini! Semua sudah ada jalan hidupnya masing-masing. Kita tidak perlu menangisi takdir hidup kita! Tapi kita tidak bisa hanya berpasrah begitu saja! Kita harus bangkit dari keterpurukan ini. Hari-hari kemarin biarkan saja berlalu tanpa harus disesali. Tapi tidak untuk diulangi lagi. Kita harus bisa menjadi lebih baik ke depannya, jangan meratapi nasib kita terlalu lama," ucap Nayaka.
Wanita muda itu mengambil oksigen banyak-banyak untuk mengisi rongga yang kosong lalu menghembuskan perlahan.
"Kita bisa, Andini! Pasti bisa! Dan harus bisa melangkah dengan semangat, tanpa harus merendahkan harga diri kita lagi!" bibir Nayaka bergetar dan buliran kristal mulai merembes di pipinya.
Hanya isak tangis yang terdengar di ruangan sempit itu.
☘️☘️☘️☘️
__ADS_1