Ganteng Tapi Aneh

Ganteng Tapi Aneh
Kesal


__ADS_3

Happy reading..


Tanpa sepengetahuan dua pria yang berada di dalam ruangan tertutup itu. Di balik dinding, Nayaka menyandarkan punggungnya sudah hampir lima belas menit. Tapi kepalan tangannya ragu untuk mengetuk pintu yang bercat warna coklat tersebut. Hingga akhirnya Nayaka membulatkan keberaniannya untuk mengayunkan kembali kepalan tangannya pada pintu yang tertutup rapat di depannya.


Tok..


Tok..


Tok..


Nayaka mengetuk pintu ruang kerja pribadi Narendra sebanyak tiga kali dengan hati-hati. Sejak kedatangan sang asisten, Tuannya itu belum keluar dari ruang itu. Pasti ada hal yang sangat penting sedang dibahas bersama tangan kanan kepercayaannya.


Nayaka masih menunggu untuk dibukakan pintu. Wanita itu berdiri tepat di depan pintu, kakinya sudah merasa kesemutan. Ia menempelkan telinga pada daun pintu, berharap bisa mendengar langkah seseorang mendekat ke arah pintu.


"Hah, dikira menunggu itu enak kali!" Nayaka ngomel sendiri. "Kaki rasanya pegel, diketok dari tadi nggak dibukain pintu! Ya sudah, nggak usah sarapan sekalian! Sudah capek-capek masak, masih disuruh menunggu! Kalau sakit baru tahu rasa!" Nayaka yang mengomel dan mengumpat membelakangi pintu tidak menyadari bahwa sudah beberapa detik yang lalu pintu bercat coklat itu dibuka seseorang dari dalam.


"Siraman rohaninya masih berlanjut apa tidak?" bisik seseorang di telinga Nayaka. "Pakai nyumpahin orang segala. Atau memang itu yang kau harapkan padaku agar terjadi hal buruk, pagi ini?"

__ADS_1


Nayaka meringis. Dengan cepat dia membalikan tubuhnya. Namun, tanpa diduga pria tampan bertubuh tegap yang semula berdiri diam di belakangnya tiba-tiba mengayunkan langkahnya ke depan.


Brukk..


Jelas hal itu membuat kaget dan nyaris membuat tubuh Nayaka ambruk ke belakang. Untungnya dengan sigap, Narendra menangkap pinggang ramping Nayaka.


"Auww..," pekik Nayaka dengan reflek kedua tangannya melingkar di leher kokoh Narendra dengan kedua manik lentiknya tertutup rapat.


"Kenapa tubuhku melayang? Perasaan tadi tubuhku mau terjengkang ke belakang," gumam Nayaka yang didengar oleh Narendra.


"Mau dijatuhkan kembali?" bisik Narendra lagi.


"Hmm.. Ada yang ambil kesempatan dalam kejungkalan kalau begini ceritanya," goda Narendra.


Nayaka langsung melepaskan tangannya dari leher Narendra sambil mendengus.


Bingung atau kesal?

__ADS_1


Nayaka mengerucutkan bibirnya. Terkadang dirinya dibuat kesal oleh kata-kata Tuan Gapiannya itu. Tapi terkadang kata-kata nya mengundang rona merah di wajah cantik Nayaka.


Di hati kecil Nayaka terkadang bingung menghadapi kelakuan Tuannya yang satu ini. Harus melihat arah mata angin dulu kali ya. Kadang baik, kadang menjengkelkan. Memang Si pewaris tahta Keluarga Guinandra ini kelakuannya kadang-kadang.


Tapi meskipun kelakuan nya yang kadang-kadang itu semakin membuat Nayaka terperosok pada kelakuan kadang-kadang Narendra hingga mampu melunturkan kata-kata persetaan dengan 'CINTA' yang dibenci oleh Nayaka.


"Jadi sarapan atau nggak?" gerutunya seraya berbalik arah.


"Jadilah, rugi dong kalau nggak jadi sarapan! Tapi ngomong-ngomong sarapannya masak sendiri atau beli di gofood?" goda Narendra menunggu reaksi dari wanita yang sedang memanyunkan bibirnya.


Manik coklatnya seketika membulat mendengar pertanyaan konyol dari Tuannya.


"Ihhh.. Minta digeprek ini namanya!" jari jemari Nayaka mengepal seketika dan hendak terayun ke arah Narendra.


"Uuppsst.. Tidak bisa," kekehan Narendra sambil menangkis ayunan tangan Nayaka.


"Terserah!" ucap Nayaka sambil berbalik arah, tapi sebelum melangkahkan kakinya dia berkata kembali. "Setelah sarapan, ditunggu Nyonya Cempaka di mansion utama."

__ADS_1


Glek!


☘️☘️☘️☘️


__ADS_2