Ganteng Tapi Aneh

Ganteng Tapi Aneh
Bantal Guling


__ADS_3

Happy reading...


Satu minggu berlalu.


Malam ini, Narendra benar-benar tidak bisa tidur dengan lelap. Pikiran dan hatinya tidak tenang harus berpisah berkilo-kilo jauhnya dengan Nayaka. Dirinya telah mencoba untuk menutup mata rapat-rapat, lampu penerangan dalam kamarnya pun sudah berganti dengan lampu tidur di atas nakas samping ranjangnya. Hingga Narendra harus menggunakan penutup mata, agar bisa segera menghantarkan dirinya ke pulau mimpi, tapi alhasil tetap saja tidak bisa menghilangkan bayangan tentang wajah Nayaka, wanita yang telah meratui hatinya. Apalagi disaat wajah Nayaka hadir di pelupuk mata Narendra dengan senyum mempesonanya.


"Astaga, aku bisa gila!" pekik Narendra.


Bantal guling pun sudah menjadi korban amukan Narendra. Beberapa detik yang lalu, benda mati itu sudah masuk dalam pelukannya untuk kesekian kali. Kemudian terhempas kan begitu saja ke lantai. Dan detik berikutnya bantal guling sudah ada di atas kepalanya kembali sebagai tumpuan kepalanya.


"Ya, Tuhan. Magi apa yang dipakai oleh Nayaka! Bisa menembus berkilo-kilo jauhnya!" gerutu Narendra, sembari mengganti posisinya dengan menaruh bantal di bawah tubuhnya, sedangkan kedua tangannya dijadikan sebagai bantalan kepalanya pengganti bantal.


"Otakku, lama-lama bergeser tempatnya! Kenapa di setiap sudut otakku hanya merekam bayang wajah Nayaka. Sedangkan di pelupuk mataku, yang ada hanya senyuman cerah dari bibir mungil yang selalu menjadi canduku dan di dalam kamar ini. Di setiap penjuru hanya tergambar diri Nayaka yang sedang berdiri dengan memamerkan lengkuk tubuhnya yang indah," Narendra berbicara sendiri.


Hingga jarum jam menunjukkan pukul dua pagi, Narendra belum juga dapat memejamkan matanya barang sejenak. Narendra masih saja memikirkan tentang Nayaka.

__ADS_1


Sudah hampir puluhan kali, Narendra mondar-mandir dalam kamarnya seraya mengacak-acak rambutnya frustasi, karena sudah tiga puluh menit yang lalu sambungan telepon nya tak kunjung diterima oleh wanita yang telah menari-nari dalam otaknya.


Kakinya sudah terasa lelah mengukur lebar dan panjang hunian kamarnya, namun bola matanya juga belum bisa terpejam juga. Dengan kesal Narendra menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuk, lalu meraup kasar wajahnya. "Aarrgghhht! Kenapa kamu sekarang menjadi cenayang dalam otakku, Nayaka!" teriak Narendra sebagai pelampiasan hatinya.


Tanpa sepengetahuan Bosnya, sang asisten kepercayaannya telah mengatur semua untuk memberikan sebuah kejutan di pagi hari untuk Bosnya.


Yudistira dapat membaca gelagat Bosnya itu yang sedang merindukan Nayaka. Tanpa membuang waktu, Yudistira memberikan perintah pada sopir pribadi sekaligus bodyguard yang biasa menjaga Nayaka untuk mengantar wanita itu menyusul sang Bos di kota J.


Dan kini, Nayaka merebahkan diri di atas ranjang besar bersama Narendra yang telah terlelap. Tuan mudanya itu tidak menyadari kedatangan Nayaka di sampingnya, dengan sangat pelan Nayaka membaringkan tubuhnya di samping Narendra dengan memakai gaun favorit Sang Tuan mudanya. Gaun tipis berwarna merah maroon dengan tali spaghetti yang melingkar di bahunya yang mulus. Nayaka merasa geli sendiri melihat tubuhnya sesaat. 'Sama aja kayak bertelanjang, tapi bagaimana lagi. Ini kan yang dimau Tuan Gapian, aku harus tahu diri. Tugasku adalah menyenangkan Tuan muda!' Nayaka bermonolog sendiri, lantas menelusup kan tubuhnya dalam satu selimut dengan Narendra. 'Kutunggu reaksimu besok pagi, Tuan Gapian!' Nayaka mengecup bibir Narendra sekejap.


Untuk segera menjawab rasa penasarannya, pria itu langsung menyibakkan selimut tebal yang menutup tubuhnya. Seketika bola matanya terbuka sempurna, ia tersentak dan langsung melompat dari atas ranjang.


Otaknya serasa berhenti. Manik hitamnya di arahkan pada tubuh yang tertutup selimut sebagian saja. Jantungnya berdetak kencang.


"Astaga!" pekiknya. "Siapa kamu! Berani-beraninya naik ke atas ranjang ku! Lancang!" hardik Narendra saking kagetnya.

__ADS_1


Tapi, meskipun suara bariton Narendra memekat telinga, wanita yang masih terlelap dengan wajah yang tertutup rambut hitamnya itu tak terusik sama sekali.


Masih dengan jantung yang berdebar-debar, Narendra menundukkan kepala, mendekatkan pada wajah wanita di depannya.


Sementara di atas ranjang, seseorang tengah berseringai dengan mata tertutup rapat, tapi kesadarannya telah terkumpul. Ia tahu apa yang sedang dilakukan Tuan mudanya.


Narendra mencium aroma wangi bunga lili di tubuh wanita yang sedang mengeram dengan bibir menahan senyum. Rupanya Nayaka sedang menikmati situasi itu lebih lama.


Jari jemari panjang milik Narendra mulai menyibakkan rambut hitam milik Nayaka dari wajahnya, hingga menampilkan sepasang manik cokelat muda yang langsung menatap ke arah Narendra.


"Pagiku di sini, Tuan Gapian," ucap Nayaka senyum manis yang mengembang untuk menggoda sang Tuan mudanya.


Narendra mendesah panjang. Ia melayangkan tangan ke udara sambil memutar bola mata. Lalu, "You are mine," ucap Narendra dengan suara berat sembari mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Nayaka. Ia segera menye4p bibir merah muda yang telah menjadi candunya.


Kini, pria dan wanita di atas ranjang empuk itu sedang beraktivitas olah lidah di pagi hari. Saling membelit, saling bertukar saliva hingga mengering tenggorokan nya.

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️


__ADS_2