
Happy reading...
Dugg..
"Aduh!" pekik Narendra saat mendapati kepalanya kejedot pintu ruang kerjanya.
Pria yang berjalan tanpa memperhatikan apa yang ada di depannya itu mengumpat kesal dan mengelus kepalanya yang terasa ngilu.
"Sialan! Kenapa kau tidak bilang kalau sedang posisi tertutup! Dasar pintu tak punya mulut!" umpat Narendra kesal. Ia membanting daun pintu ke dinding untuk melupakan emosinya.
Nayaka berbalik arah, saat mendengar suara keras dari arah ruang kerja Narendra. Ia memicingkan sebelah matanya, lantas geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd bosnya. 'Sudah tahu pintu tidak punya mulut, mana bisa dia bicara untuk memperingatkan Bos aneh itu,' Nayaka bermonolog sendiri sambil berjalan kembali ke arah ruang makan.
Setengah jam lalu, ketiganya telah selesai sarapan pagi. Dan Nayaka pun kembali ke kamarnya setelah membersihkan peralatan makan yang kotor.
Nayaka duduk di pinggir ranjang sambil menompang dagunya dengan kedua tangan, ia bertahan di dalam kamarnya, guna menghindari ajakan Narendra ke mansion utama milik Keluarga Guinandra. Bukan tanpa alasan Nayaka menolak secara halus ajakan Tuannya Itu, melainkan dia ragu dan takut untuk bertemu kedua orang tua Bosnya. Ia tahu diri, di rumah mewah itu, dia hanyalah seorang wanita yang dibeli oleh Tuannya untuk dijadikan pelayan. Ingat! Hanya seorang pelayan, tidak lebih.
Disaat Nayaka tengah bergelut dengan pikirannya, suara bariton Narendra terus terdengar nyaring di depan pintu kamar Nayaka.
"Apa sih maunya Tuan Gapian! Apa ingin mempermalukan aku? Apa pulah rencana yang ada di otaknya, sekarang ini?" Nayaka menyeret kakinya menuju pintu, tapi tidak langsung membukakan nya. Ia menempelkan daun telinganya di sana. "Berhenti kah? Sudah capek berteriak terus?'
Nayaka menunggu lima menit, dan dirasa sudah aman. Ia baru berani menarik handle pintu kamarnya dan membuka sedikit daun pintu bercat coklat itu.
Tapi tidak sesuai dengan perkiraan Nayaka. Ia terkejut dan langsung menutup kembali pintu kamarnya. Namun belum terlaksanakan, Narendra sudah bisa membaca pikiran wanita yang akan mendorong daun pintu tersebut. Dengan cepat Narendra mengganjal celah pintu dengan menyelipkan kaki kanannya.
__ADS_1
"Mau jadi pemberontak lagi? Mau dihukum?" nada suara Narendra tidak ada penekanan, tapi tersirat makna pengingat dalam kalimat tersebut.
"Maaf!" ucap Nayaka masih berdiri di depan pintu dengan menundukkan kepalanya.
"Pakai ini! Aku tunggu lima menit!" titah Narendra sembari memberikan paper bag pada Nayaka dengan tatapan mengintimidasi.
"Lima belas menit!" tawar Nayaka.
"Emang cabe rawit ditawar!" sahut Narendra tanpa melihat ke arah Nayaka yang mencebikkan bibirnya.
"Pokoknya lima belas menit! Titik komanya tidak dipakai!" Nayaka membanting pintunya keras.
BRAKK..
Sepanjang perjalanan menuju ke mansion utama tidak ada percakapan di dalam mobil SUV hitam metalik itu. Nayaka merasa kikuk harus memulai obrolan bersama kedua pria yang fokus masing-masing. Nayaka juga jarang berbincang dengan asisten bosnya itu, yang duduk di balik stang bundar. Ia hanya melirik Narendra dan Nayaka dari spion tengah.
Tapi, hingga akhirnya Nayaka memecah kesunyian selama beberapa saat untuk menghilangkan rasa kekhawatirannya tentang apa yang akan dihadapinya nanti di mansion utama.
Nayaka memberanikan diri melemparkan pertanyaan pada Yudistira.
"Kak Yudis, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu tentang--?" belum juga selesai Nayaka bertanya pada Yudistira. Pria yang duduk bersebelahan dengan dirinya di kursi penumpang sudah melirik sewot ke arahnya.
Tapi Yudistira pura-pura tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Bosnya. Malah dia meneruskan pertanyaan Nayaka yang dilemparkan padanya. "Apa yang mau kamu tanyakan padaku, Nona Naya?" ujar Yudistira menoleh ke arah Nayaka sesaat.
__ADS_1
"Aiss, jangan panggil aku Nona Naya. Panggil saja Naya! Naya tak pakai Nona, kak Yudis!" pinta Nayaka pada Yudistira seolah suara yang didengar oleh Narendra sangat manja.
"Lebay!" bentak Narendra mendelik ke arah Nayaka.
Nayaka merasa bingung dengan apa yang barusan dilontarkan oleh Narendra.
"Tuan Gapian bicara sama siapa?" tanya Nayaka dengan kening berkerut dalam. Kedua alis wajah cantiknya terangkat.
"Biarkan saja, Bos seperti itu. Dia lagi meluapkan segala kesal di dalam pikirannya," ucap Yudistira yang langsung menimbulkan pikiran ambigu pada Nayaka.
"Meluapkan apa? Siapa yang membuatnya kesal?" tanya Nayaka penuh selidik. Ia ingin tahu apa yang disembunyikan oleh pria tampan yang duduk di sampingnya ini.
Tetap dengan memandang ke jalan di depannya, Yudistira berkata lagi. "Tidak usah terlalu dipikirkan, nanti lambat laun kau juga akan tahu. Rahasia apa yang ada di dalam pria yang sedang melotot itu," Yudistira menahan ketawanya.
"Bicara lagi, aku skors kamu!" Narendra mengancam Yudistira.
"Emangnya kak Yudis sekolah lagi, kok diskors?" pertanyaan Nayaka membuat kedua pria itu menutup bibirnya masing-masing.
"Ahh, kalian kenapa sih. Pakai main kode-kode begitu! Tak asik!" bibir Nayaka mengerucut.
"Karena kamu yang bisa merubah pandangannya tentang 'CINTA dan WANITA'. Tentang sesuatu hal yang masih membekas dan menyakitkan dalam masa lalunya," ungkap Yudistira tanpa adanya ancaman lagi dari Narendra.
☘️☘️☘️☘️
__ADS_1