
Happy reading..
Narendra mulai tidak sabar menunggu kabar dari informannya. Dirinya tak bisa membiarkan Gendhis bebas di luaran sana.
Pak Sugik memutar setir mobil setelah mendapatkan perintah dari Tuannya. Narendra ingin membuktikan sendiri bahwa Nayaka benar-benar masih memiliki seorang Ibu dan sedang dirawat di rumah sakit.
"Kita ke rumah sakit mana, Tuan?" tanya Pak sugik dan menunggu jawaban dari Tuannya, dia sedikit memperlambat laju kendaraan yang dikemudikan.
Narendra belum juga memberikan perintahnya lagi, namun di saat dirinya akan mengambil ponsel pintar nya dalam saku celana yang dipakainya. Tiba-tiba ponselnya berdering, segera dia mengangkat panggilan di aplikasi yang berlogo gagang telepon itu.
Sekilas Narendra melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Untung kamu segera menelepon! Jika tidak bisa aku pastikan besok kamu tidak bisa berjalan!" suara Narendra terdengar rendah namun penuh dengan penekanan yang tajam.
"Iya, ada apa?" tegas Narendra.
Seorang informan yang ditugaskan oleh Narendra menguntit Gendhis memberikan kabar bahwa wanita yang diikuti sejak tadi benar-benar menuju Premier Hospital.
"Ya sudah! Aku akan mengirim upahmu hari ini."
Narendra langsung memerintahkan sopir pribadi nya untuk menuju Premier Hospital, setelah memutuskan sambungan telepon nya .
****
Manik hitam milik Narendra menatap tajam ke arah wanita yang sedang berdiri seraya menaruh kedua tangannya tumpang tindih di atas meja panjang sebagai penyekat antara dirinya dengan wanita yang sedang duduk mengerjakan sesuatu.
Narendra memerhatikan Gendhis dari jauh, sudah hampir lima belas menit Gendhis mengurus biaya perawatan Ibunya di bagian administrasi.
"Totalnya berapa mbak?" Gendhis menanyakan keseluruhan biaya pengobatan Ibunya selama di rawat di Premier Hospital.
Wanita yang semula dengan posisi duduk itu, lantas berdiri dan menyodorkan beberapa lembar kertas pada Gendhis.
__ADS_1
Setelah membaca dan meneliti satu persatu ketikan yang ada di kertas itu, kemudian Gendhis mengambil sesuatu dari dalam tas selempang nya. Lalu menyerahkan benda kecil berwarna hitam pada karyawan bagian administrasi itu.
Setelah menyelesaikan semuanya, Gendhis kembali lagi ke ruang inap Ibunya.
Narendra juga mengayunkan langkahnya untuk membuntuti Gendhis dari jarak yang tidak jauh agar tidak kehilangan jejak Gendhis, karena Narendra belum mengetahui letak ruang inap Ibunya Gendhis. Tapi, ada sedikit halangan yang membuat Narendra geram melihat barisan ibu-ibu yang akan membesuk pasien lainnya menghalangi jalannya. Mereka memenuhi koridor dengan berjalan santai sambil berghibah.
Tiba-tiba ada suara ibu-ibu yang nyolot, gegara lengan kokoh Narendra menyenggol bahunya dan hampir saja dia tersedak dengan makanan yang sedang dikunyahnya.
"Aduh.. Woii, jalan itu pakai mata!" bentak Ibu yang berbadan agak tambun, seraya melotot ke arah Narendra.
"Maaf, Ibu. Saya buru-buru," kata Narendra meminta maaf dan menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Untung ganteng!" timpal Ibu satunya lagi yang memakai baju dress panjang bercorak kembang-kembang.
"Iya, ganteng juga," senyum Ibu yang berbadan tambun tadi dengan nada yang genit.
'Uppsst.. Radak-radak nih geng ibu-ibu. Harus segera menyelamatkan diri sebelum terjebak dalam segitiga bermuda,' kekehnya dalam batin.
Tapi, belum juga Narendra melangkah, terdengar kembali suara di belakangnya. "Buru-buru amat, ganteng."
"Maaf, Ibu mertua dan istri saya sudah menunggu di sana," seru Narendra menyelamatkan diri.
"Ohh, sudah punya istri toh," suara koor ibu-ibu PKK tanpa dikomando.
'Sial! Jadi kehilangan jejak Si Naya!' kesalnya.
Tapi seingatnya tadi, dia melihat sekelebat Gendhis berbelok ke arah kiri. Narendra pun melajukan kembali kakinya menuju ruangan yang ada di depannya.
Di persimpangan jalan Narendra bingung, harus berbelok ke mana lagi. Dia bingung antara belok ke kiri atau ke kanan, bahkan ada jalan lurus juga di depan nya. Namun, nasib baik masih ada di pihaknya. Dia melihat sekelebat bayangan wanita yang mirip Gendhis. Narendra memajukan langkanya lagi, hingga dia menghentikan paksa kedua kakinya.
__ADS_1
Ada seorang wanita yang berdiri di depan pintu bercat coklat sedang berbicara dengan seorang pria yang memakai jas putih.
Narendra mengepalkan kedua tangannya, lalu meninjukan kepalan tangan kanannya ke dinding rumah sakit yang ada di sampingnya. Buku-buku jarinya terasa ngilu, tapi itu semua tak dirasa oleh Narendra karena hal yang dilakukan itu tidak juga menyusutkan amarah di hatinya.
'Berani-beraninya, Nayaka membohongi aku, dengan alasan akan menengok ibunya, tapi apa ini! Dia malah asik mengobrol dengan dokter pria! Apa seperti ini kelakuan Nayaka sebelum mengenalku? Dia selalu menjerat mangsanya dengan wajah kalem dan lugunya,' lagi-lagi Narendra bermonolog sendiri.
Narendra tiba-tiba berdiri di belakang Gendhis dan membisikkan sesuatu. "Tunggu hukuman dari aku!"
Terkejut dengan suara yang tiba-tiba terdengar di rungunya. Refleks Gendhis memutar kepalanya ke belakang dan alangkah terkejutnya manik Gendhis menatap sosok pria yang menatapnya dengan tatapan tajam menghunus.
Antara kaget juga takut ditambah rasa canggung yang bercampur jadi satu, seketika membuat lidah Gendhis kelu. Dia tak bisa berkata-kata lagi, rasanya tenggorokan yang barusan teraliri salivanya, mendadak kering kembali.
"Hmm.. Bagus!" suara bariton Narendra menggema.
"Eehh, Tu--," kalimat Gendhis belum selesai, tapi Narendra telah menyambarnya terlebih dahulu.
"Bagaimana kabar Ibu, Sayang?" ucap Narendra mengintimidasi Gendhis, lengan kekarnya langsung bertengger di pundak Gendhis. Seolah-olah dia mengklaim wanita yang berdiri di sampingnya sekarang adalah miliknya.
Miliknya? Ya, Narendra berhak mengklaim Gendhis adalah miliknya. Karena laki-laki itu sudah membeli Gendhis senilai dua milyar. Harga yang sangat fantastik.
Sementara itu, pria yang berdiri di depan pasangan ala-ala romantis itu memandang ke arah Gendhis dan Narendra bergantian, dirinya masih belum bisa mencerna ucapan pria yang mendeklarasikan bahwa wanita yang berada di antara mereka itu telah dimiliki seorang pria yang mengulas senyum kemenangan.
Tanpa diduga Gendhis, pria yang berdiri di samping nya itu, menurunkan lengannya yang berada di pundaknya, Gendhis merasa lega. Tapi, rasa kelegaan Gendhis hanya sementara. Narendra menggerakkan jari jemarinya ke jemari lentik milik Gendhis, lalu melilitkan jemarinya.
Gendhis mengerutkan keningnya, menoleh sekilas ke arah sang Tuannya dengan berusaha melepaskan jari-jari kokoh Narendra, tapi genggaman itu terlalu kuat.
"Maaf, kalau boleh saya tahu, apa Dokter Darius yang menangani calon Ibu mertua saya?" ujar Narendra penuh penekanan. Dan darimana seorang Narendra mengetahui bahwa pria berjas putih itu bernama Dokter Darius. Ya, dari tag nn yang tertera di jas putih yang dipakainya sekarang.
Debaran Gendhis semakin kencang, ketika Sang Tuan mengucapkan kalimat aneh itu pada Dokter Darius. 'Rencana apa lagi yang ada pikiranmu Tuan Gapian,' gerutu Gendhis dalam batin.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁