Ganteng Tapi Aneh

Ganteng Tapi Aneh
Di ambang kematian


__ADS_3

Happy reading...


Nayaka menarik bibirnya berbentuk senyum simpul, lalu menjawab ucapan Narendra. "Iya, nanti aku tunggu di kamar hotel saja."


Narendra tersenyum lebar. "Salah siapa datang ke sini nggak bilang! Nanti setelah meeting ku selesai, aku akan mengajakmu ke tempat-tempat yang lebih indah. Kira akan menghabiskan hari berdua saja," ujar Narendra.


Nayaka hanya merespon dengan senyuman. Entah kenapa sejak kemarin hatinya gelisah. Meskipun hari ini dia sedang bersama Narendra, tetap saja ada yang menggangu pikiran Nayaka sejak kemarin. Sebenarnya dia tidak ingin menyusul Narendra di kota J. Tapi Nayaka tidak ada keberanian untuk membantah perintah sang Tuan Mudanya. Sejak tadi wajah ibunya terus melintas di pikirannya. Wajah sayu sang ibu yang duduk di teras menunggu kedatangan nya. Nayaka tidak bisa berpura-pura mengabaikan wajah sang Ibu.


Nayaka mengumpulkan keberaniannya untuk mengajukan keinginannya untuk bertemu dengan Sang Ibunya.


"Bolehkah aku menjenguk ibuku setelah pulang dari sini?" tanya Nayaka dengan menatap sendu wajah Narendra.


Tanpa berpikir panjang Narendra langsung menimpali ucapan Nayaka. "Boleh."


Ekspresi wajah Nayaka seketika sumringah. Tapi rasa kegembiraan Nayaka itu hanya sementara saja. Saat Narendra kembali berkata. "Tidak boleh sendiri!"


"Kenapa?"


Senyum bahagia tak lagi tersungging di bibir Nayaka.


Narendra menahan tawanya melihat mimik wajah Nayaka yang lagi cemberut. Dia pun menggenggam tangan Nayaka dengan lembut dia mengatakan.


"Kita akan pergi bersama ke rumah Ibumu, setelah aku menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu."


Mendengar ucapan Narendra barusan, kebahagiaan Nayaka muncul kembali. Spontan Nayaka bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh Narendra dan memberikan hadiah kecupan di pipinya.


Bibir Narendra melongo melihat sikap agresif Nayaka tanpa diduganya. "Auh.. Auh.. Terimakasih, Savory sweet. Banyak kejutan di pagi ini," kekeh Narendra. Dengan lembut jemari panjangnya membelai rambut Nayaka, lalu menyelipkan anak rambut itu di belakang telinga.


Hampir seperkian detik Narendra tidak berkedip sedikitpun memandangi wajah cantik Nayaka yang duduk di depannya terhalang meja. "Kenapa hanya bertemu dengan ibunya saja, dia sudah sebahagia itu? Begitu sayangnya Nayaka dengan wanita yang dia sebut 'Ibu'. Sebegitu besarnya perjuanganmu untuk bisa membuat ibumu sehat kembali. Dan melihat kembali senyum yang terbit di bibirnya. Meskipun kau pertaruhkan tubuhmu sebagai gantinya, untuk mendapatkan uang demi pengobatan wanita yang telah melahirkanmu. Karena bagimu, Ibu adalah segala-galanya. Malaikat yang terlihat, cahaya penerang hidupmu,"


Narendra menghela nafas panjang dan bergumam kembali dalam batin.


"Ternyata bahagiamu cukup sederhana, Nayaka. Dengan melihat ibumu tersenyum. Sedangkan aku? Aku hanya sesaat merasakan kasih sayang seorang ibu. Karena orang tuaku lebih memilih harta dari pada tumbuh kembang putra putrinya. Mamaku lebih memilih mendampingi Papa untuk memperluas bisnisnya dan membiarkan putra putrinya tumbuh bersama pengasuh setia mereka."


"Sayang.." panggil Nayaka lirih, seraya menautkan jemari lentiknya dengan jemari panjang milik Narendra.


Narendra mengernyit kaget, saat ia mendengar Nayaka memanggil sayang dengan begitu lembut dan terasa manja di pendengaran Narendra. Lalu ia memicingkan sebelah mata. "Apa, aku tidak mendengarnya."


Lagi-lagi Narendra dibuat terkejut dengan sikap dan ucapan Nayaka pagi ini. "Ada apa dengan sikap Nayaka hari ini? Atau hanya perasaanku saja yang berlebihan? Atau aku sedang jatuh cinta padanya, sekarang ini. Hingga apa yang diucapkan atau dilakukannya terasa lebih indah."

__ADS_1


"Tuan Gapian!" pekik Nayaka.


Kini, Narendra bereaksi dengan melototkan manik hitamnya ke arah Nayaka. "Kenapa panggil itu, lagi!" kata Narendra tak terima dengan sebutan Nayaka barusan.


"Terus, maunya apa?" goda Nayaka sambil menaik turunkan matanya genit.


"Yang tadi!" seru Narendra.


"Yang mana?" sahut Nayaka tersenyum menyeringai.


Nayaka semakin menggoda Narendra yang terlihat kesal ke arahnya. Berbeda dengan Nayaka. Pria itu pun, langsung menarik tangan Nayaka. Lalu membawanya untuk duduk di atas pangkuannya dan langsung mengecup bibir ranum Nayaka.


Wajah Nayaka seketika bersemu merah, ia tersipu malu, lantas menyembunyikan wajahnya dalam dada Narendra membuat mereka langsung berpelukan.


Tanpa mereka sadari, di tempat tak jauh dari mereka duduk. Ada sepasang mata yang mengepalkan tangannya melihat kebahagiaan mereka.


"Tunggu saja kehancuran kamu, Narendra!"


Beberapa menit kemudian.


Hampir dua belas menit berlalu, pelayan datang membawa makanan pesanan yang mereka pesan tadi. Narendra yang memang sudah lapar dari pagi membuka mata mendapat kejutan manis dari Nayaka, membuat penghuni lambungnya berdemo ingin segera berpesta dan melahapnya selagi disajikan panas. Tapi ia tertegun dan memberhentikan gerakan tangannya. Saat melihat Nayaka yang sedang berdoa sebelum menyantap hidangan di depannya.


"Aamiin Yaa Alloh," gumam Nayaka.


Wanita itu mengerutkan dahi saat menatap Narendra yang tersenyum ke arahnya. "Makan Tuan Gapian. Jangan tersenyum terus karena tersenyum juga butuh tenaga," kata Nayaka yang ditimpali dengan kekehan oleh Narendra.


"Haha.. Aku mengikutimu berdoa dulu sebelum makan," sahut Narendra.


"Sudah berdoanya?" tanya Nayaka yang dijawab anggukan dan senyuman oleh Narendra.


Nayaka mulai menyantap nasi goreng pesanannya, ia selalu memesan makanan favoritnya.


"Kenapa tidak mencoba makan lobster? Ini sangat lezat juga banyak gizi," ucap Narendra sambil mengambil piring berisi lobster kesukaannya.


Nayaka membulatkan mata sambil menatap Tuannya itu. "Hemm!" sahutnya.


Narendra tersenyum memamerkan gigi putihnya bak iklan pasta gigi. Saat melihat pipi bulat Nayaka yang mulai mengembang menahan makanan dalam mulutnya yang belum sempat ditelan.


Kali ini Nayaka tidak ingin mengorbankan dirinya, wanita itu terang-terangan menolak makanan yang disodorkan oleh Narendra. Meskipun nanti dia akan mendapatkan hukuman dari sang Tuannya. Dalam pikiran Nayaka, sekarang adalah lebih baik menerima hukuman dari Tuannya daripada dia harus menderita dan menyiksa dirinya sendiri, jika memakan makanan sejenis sea food. Dia alergi, apalagi dengan yang namanya udang, hewan yang berbadan bungkuk.

__ADS_1


Nayaka melanjutkan makannya tanpa mempunyai firasat apa pun. Tapi belum sampai ia menghabiskan nasi goreng nya. Tiba-tiba badannya terasa gatal dan Nayaka memegangi dadanya. Tampak jelas di wajahnya, dia kesulitan bernafas.


"Tu-Tuan.. Da-daku se-sak," ucap Nayaka tersengal-sengal karena kesulitan bernafas.


Melihat Nayaka sangat tersiksa, Narendra bangkit dari duduknya dan meraih tubuh Nayaka.


Wajah Nayaka berubah merah seperti kepiting rebus bercampur dengan buliran besar keringat yang telah membanjiri wajah mulus Nayaka.


Dalam kepanikannya, Narendra segera menghubungi Yudistira.


"Siap mobil untuk ke rumah sakit, sekarang!" perintahnya.


Setelah menutup ponselnya, Narendra langsung mengendong tubuh Nayaka yang semakin tersiksa ke dalam mobil.


Dada nya terasa sesak, dia memeluk erat leher Narendra dan memejamkan mata. Yang dilakukan Nayaka saat ini, hanyalah berdoa dan terus berdoa, seolah dirinya sudah di ambang kematian. Dan telah melihat malaikat pencabut nyawa ada di depan nya.


Jantung nya terpompa kencang, debaran dalam dadanya semakin lama semakin cepat, bahkan Narendra dapat mendengarkan nya.


"Bertahan, Sayang! Kamu pasti kuat, Nayaka!"


Di dalam mobil, mulut Narendra tak henti-hentinya memerintahkan pada Yudistira untuk melajukan mobilnya lebih cepat lagi agar segera sampai di rumah sakit.


Dada Narendra terasa tertusuk pedang yang tajam. Perih dan sakit! Melihat wanita yang biasanya tersenyum pada nya, kini pingsan di pangkuannya dengan tubuh yang lemah.


Sesaat memorinya kembali pada kakak perempuannya yang merenggangkan nyawa di pelukannya.


"Tidak!" pekiknya.


"Tuan, anda baik-baik saja," tanya Yudistira menoleh ke arah jok penumpang di belakang nya.


"Hufft.." hanya itu sahutan Narendra.


Sesampainya di rumah sakit, Narendra segera membawa Nayaka ke UGD.


"Dokter! Suster! Cepat tolong istriku!" teriak Narendra.


Yudistira yang berdiri di belakang Tuannya hanya bisa membelalakkan kedua bola matanya mendengar apa yang diucapkan Tuannya.


☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2