Ganteng Tapi Aneh

Ganteng Tapi Aneh
Tidak sadarkan diri


__ADS_3

Happy reading...


Andini memarkirkan motornya di bawah pohon mangga di halaman rumah Nayaka. Setelah mengunci dengan aman motornya, barulah ia mengayunkan langkahnya masuk ke dalam rumah yang sederhana namun sangat asri. Banyak tanaman yang menghiasi teras rumah Nayaka.


"Assalamualaikum," Andini membuka pintu bercat cokelat muda itu seraya memasukkan kepala nya ke dalam celah pintu yang belum terbuka lebar. Namun sepi dan tidak ada balasan dari dalam rumah.


Andini semakin ke dalam menyeret langkah nya ke arah ruang tengah rumah sahabat nya itu. Wanita sepantaran Nayaka itu sudah terbiasa keluar masuk di rumah Nayaka, karena sudah dianggap seperti keluarga sendiri.


Sedangkan wanita setengah baya yang duduk di kursi ruang tengah itu sedang melamun, hingga tidak mendengar ada Andini yang masuk ke dalam rumah nya.


"Assalamualaikum, Ibu," Andini memberikan salam kembali pada wanita setengah baya yang tidak fokus dengan pandangan nya dan tersentak dari lamunannya, saat jari jemari Andini menyentuh tangan Ibu sahabat nya itu.


"Astaghfirullah, Andini!" pekik Ibu Nayaka benar-benar terkejut.


"Ya Alloh, Ibu. Maafin Andini," jawab Andini dengan meraih tangan wanita paruh baya itu, lalu menciumnya dengan takzim.


"Ibu kenapa?" Andini langsung bertanya pada wanita setengah baya yang duduk di sebelahnya itu dengan mengusap lembut punggungnya.


Belum ada jawaban dari wanita itu. Andini sudah bertanya kembali. "Ibu baik-baik saja? Ibu sudah minum obatnya? Wajah ibu pucat sekali, Andini bawa ke rumah sakit, ya?" ucap Andini dengan menatap ibu sahabat nya itu dengan intens.


Dia takut sesuatu terjadi pada ibu Nayaka. Andini mengusap tangan wanita yang duduk bersebelahan dengan nya.


"Tidak usah, Andini. Nanti ibu buat tidur saja, pasti bangunnya sudah lebih segar lagi," jawab wanita itu dengan wajah sendu.


Tanpa sengaja bola mata Andini melihat ponsel ibu di atas meja tak jauh dari duduknya, sekarang.


"Apa ibu habis bertelepon dengan Nayaka?" tatapan Andini menelisik dalam manik wanita setengah baya itu, saat melemparkan pertanyaan yang langsung merubah raut wajah wanita setengah baya yang duduk bersebelahan dengan nya, yang nampak gusar.


"Nayaka lagi belanja," sahut nya, lalu menghela nafas. "Tadi yang menerima telepon Bosnya Nayaka," wanita itu meneruskan kembali kalimatnya dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Tapi beberapa detik kemudian, wanita itu beranjak dari duduknya setelah menghela nafas panjang. "Nanti setelah pulang dari belanja, pasti Nayaka mengabari ibu, kok. Andini. Itu tadi yang dibilang Bos nya."


Baru beberapa langkah Ibu Nayaka menyeret kakinya, tiba-tiba wanita itu memegangi dadanya yang terasa sakit dan nyaris terhuyung ke belakang.

__ADS_1


"Ibu," pekik Andini. Spontan melihat Ibu Nayaka yang hampir jatuh ke lantai ubin. Untungnya ia langsung meraih tubuh lemah ibu sahabat nya itu.


Tidak mau ada hal buruk menimpa wanita setengah baya itu, yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Andini bergegas mengambil ponsel dalam sakunya dan langsung memesan taksi online untuk membawa Ibu Nayaka ke rumah sakit agar mendapatkan pertolongan dengan segera.


-


-


-


Sementara keadaan di rumah sakit kota J.


"Iya, Tuan. Istri anda menghisap alergi akut. Apakah anda tidak pernah mengetahuinya, jika istri anda alergi terhadap lobster atau udang dan sejenisnya."


Narendra tercengang.


"Tidak," Narendra menggelengkan kepalanya pelan. "Saya baru menikah dengan istri saya dan baru mengenalnya juga," Narendra memberikan alasan nya pada dokter wanita itu. Jawaban yang sangat pas untuk ketidak tahuannya tentang Nayaka yang memiliki alergi hewan bungkuk itu.


Tapi siapa yang sengaja mencampurkan udang dalam makanan Nayaka? Padahal tadi dia sedang memakan nasi goreng ayam dan sosis, makanan yang sangat sederhana.


Berbeda dengan pikiran dokter wanita yang duduk berhadapan dengan Narendra. 'Ganteng-ganteng nikahnya masih dijodohkan juga, tapi istrinya cantik juga,' monolog absurd dokter wanita yang masih muda itu.


"Bagaimana dengan kondisi istri saya, saat ini. Dokter? Apa harus dirawat intensif?" berondong Narendra dengan pertanyaan untuk dokter wanita yang duduk dihadapannya.


"Untung nya istri anda segera mendapatkan penangan khusus di rumah sakit ini, Tuan. Takutnya reaksi alergi istri anda cukup serius, dan tadi istri anda sempat mengalami stres pernapasan. Meskipun tidak sampai merenggut nyawa istri anda dan sementara waktu istri anda perlu observasi dulu," Dokter itu memberikan penjelasan pada Narendra dan Yudistira.


Mau tidak mau, Narendra harus mematuhi saran yang dianjurkan dokter wanita itu, untuk kebaikan Nayaka. Lagi pula, saat ini kondisi Nayaka masih sangat lemah.Tidak mungkin Narendra membawa paksa pulang.


Setelah berkonsultasi dengan dokter yang menangani Nayaka, ia langsung memberikan perintah pada Yudistira untuk memesankan kamar perawatan VVIP untuk Nayaka.


Terdengar helaan nafas lega, walaupun tetap teriring rasa berat melihat wanita berusia muda yang telah menawan hatinya itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Kini, Narendra dan Yudistira duduk di sofa yang ada di dalam ruang perawatan Nayaka. Pandangan nya fokus pada wanita yang sedang memejamkan kedua matanya terbaring lemah dengan selang infus yang menempel di punggung tangan kanan nya, sedangkan ujung hidung mancungnya terhubung selang oksigen.

__ADS_1


"Segera selidiki orang yang hendak mencelakai Nayaka! Periksa semua CCTV hotel itu! Atau aku akan memutuskan kontrak kerja dengan si pemilik hotel itu, sekarang juga!" titah Narendra dengan tatapan menghunus tajam bak pisau bermata dua.


Perintah dari sang Bos yang tidak bisa dibantah oleh Yudistira, sang asisten kepercayaannya. Yudistira sangat hafal betul dengan sifat bosnya. Siapa yang berani mengusik ketenangan nya, dia akan menghabiskan orang itu hingga ke akar-akarnya. Wanita maupun pria, yang sebagai dalangnya. Narendra tidak pandang bulu, dia tetap akan membabat habis musuhnya. Apalagi menyangkut orang yang sangat dicintai dan disayangi nya.


Kembali hening


Dua pria yang sama-sama fokus dengan pikiran masing-masing itu, dikagetkan dengan suara ponsel yang berdering dari dalam saku Narendra. Bola mata Narendra langsung menatap pada layar ponsel yang baru saja dipegangnya. 'Ibu Nayaka?' gumamnya dengan dahi berkerut dalam. 'Ada apa?' dia bertanya dalam batinnya.


Narendra segera menjawab panggilan masuk itu.


"Halo," sapa Narendra dengan nada suara biasa.


"Tuan Narendra?" Andini bertanya dengan menampilkan guratan lurus di dahinya. "Dimana Nayaka? Ibu masuk rumah sakit, saat ini!" suara wanita muda terdengar tergesa-gesa di sebrang sana


"Halo, dengan siapa ini?" tanya Narendra dengan wajah panik, tiba-tiba.


"Andini, Tuan Narendra. Tolong antar Nayaka ke sini, sekarang. Saya takut ada apa-apa dengan ibu," suara Andini bergetar hebat.


Hening seketika.


"Andini, cepat. Ibu, anfal lagi," suara laki-laki memanggil Andini.


Lalu,


Tut.. Tut.. Tut .


Sambungan terputus, Narendra belum sempat menanyakan di rumah sakit mana Ibu Nayaka di rawat, saat ini.


"Bos," Yudistira memanggil Narendra yang sedang terbengong. Ia melihat ada sesuatu yang terjadi di sebrang sana.


Narendra memutar poros lehernya dengan cepat ke arah Yudistira.


"Ibu Nayaka, tidak sadarkan diri!"

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️


__ADS_2