
Happy reading..
Satu bulan berlalu..
Pagi-pagi Nayaka sudah bangun dari lelapnya, dengan bersenandung kecil. Ia bergegas menuju kamar mandi. Rumah kontrakan yang tidak begitu luas, yang kini menjadi tempat berteduhnya dari panas matahari dan guyuran air hujan.
Hanya terdapat satu kamar tidur, ruang makan yang menjadi satu dengan ruang tamu dan juga dapur mini yang lurus dengan kamar mandi ala kadarnya. Tidak ada shower ataupun bathtub untuk berendam meluruskan otot-otot tubuhnya dikala capek melanda saat pulang setelah berkerja sehari-hari sebagai rutinitas wajibnya, agar tetap mengepul asap di dapur dan membayar uang sewa rumah agar tidak diusir oleh sang nyonya rumah yang galaknya mengalahkan Ibukota.
Menyambar handuk lalu disampirkan di leher jenjangnya sembari mencepol rambut hitamnya ke atas agar tidak bas4h disaat ia mengguyurkan air dari gayung ke tubuhnya yang tetap ramping, malah lebih terlihat tulang di kedua bahunya.
Lima belas menit berlalu, kini Nayaka sudah menyalakan kompor tungku satu di dapur untuk membuat sarapan pagi buat dirinya dan juga sang ibu, yang sudah ada perkembangan kesehatan nya.
Nasi putih sudah mengepul asapnya dari sebuah benda ajaib yang teronggok manis di atas meja. Ya, Nayaka sangat berterimakasih dengan adanya benda tersebut, karena dia. Nayaka cepat menanak nasi tanpa harus melalui tahap berkali-kali untuk memasak nya.
Semua hidangan sudah selesai ditata rapi di atas meja makan yang tidak seberapa besar dan diletakkan di poj0kkan ruang makan tersambung dengan ruang tamu.
"Finish!" ucapnya seraya bertepuk tangan. "Yes.. Yes.. Tinggal sarapan, kemudian berangkat kerja."
Lantas, Nayaka menyeret kan kakinya ke arah teras rumah yang hanya terdapat bangku berbahan dari bambu untuk sang ibu duduk santai menghirup udara segar sambil melihat keramaian lalu lalang orang beraktivitas setiap hari, agar sang ibu tidak merasa jenuh.
"Waktunya sarapan," peluk Nayaka dari arah belakang, lalu menempelkan dagunya di atas pundak sang ibu.
__ADS_1
Wanita setengah baya itu memutar kepalanya ke arah putri kesayangannya.
"Hmm.." hanya itu yang terdengar dari bibir sang ibu.
Wanita muda itu mencium pipi kanan ibunya sembari berkata. "Jangan bilang sarapannya nanti saja," protes Nayaka menyemberutkan bibirnya tanda tidak menyetujui permintaan wanita yang sedang merayunya.
"Itu sudah tahu jawabannya," senyum tipis menghiasi bibir ibu Nayaka.
"Kali ini. Tidak! No.. No..! Naya tidak bakalan loloskan!" ujarnya dengan cepat wanita muda itu memindah posisi sang ibu dari duduk jadi berdiri.
Tapi wanita setengah baya itu melawan kekuatan sang putri. "Naya, jangan jadi anak Durham pada ibu!" manik coklat muda milik Nayaka seketika melotot sempurna ke arah ibunya.
"Yuk, anak pintar tidak boleh melawan ya. Sekarang adalah waktunya sarapan pagi. Setelah itu harus minum obat sesuai anjuran dari dokter," ujar Nayaka lagi, sambil menggerakkan tangannya ke arah pinggan sang ibu, yang hendak digendongnya.
"Jangan aneh-aneh, Nayaka!" seru wanita setengah baya itu, seraya memukuli pelan pundak Nayaka. "Yang ada kita terjungkal berdua di lantai!" omel sang ibu.
"Gini-gini, Nayaka kuat lho, Bu," Nayaka memperlihatkan otot-otot lengan nya yang tidak nampak sama sekali.
"Hahaha..." Wanita yang mulai memasuki usia senjanya itu tertawa lepas, akibat kelakuan konyol sang putri yang selalu saja bisa menghibur wanita yang telah melahirkannya di dunia ini.
"Gendong apa dorong?" Nayaka memberikan tawaran pada sang ibu dengan menaik turunkan alisnya. Tapi lagi-lagi ibunya menonyor kening Nayaka.
__ADS_1
"Beneran mau jadi jambu monyet nih, anak!" sarkas sang ibu, lalu berdiri dari duduknya.
"Nayaka tak mau jadi jambu monyet, ibu," sanggahnya.
"Kalau sudah bosan merawat ibu, bilang saja! jangan pakai acara mau dorong ibu, segala," ujar sang ibu dengan melengos membuang muka Dar sang putri.
"Idih.. Idih.. Ada yang ngambek di pagi-pagi. Uluh.. Uluh minta digendong rupanya sang bayi," goda Nayaka seraya memeluk tubuh Ibunya.
"Nayaka tak akan pernah bosan untuk merawat ibu," dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu menghela nafas berat. "Karena Nayaka tidak akan pernah bisa membalas semua apa yang telah ibu perjuangan buat hidup Nayaka. Apa yang Nayaka lakukan selama ini. Itu semua belum seberapa, Bu. Belum ada apa-apa nya dengan sebuah pengorbanan seorang ibu. Nyawa Ibu, sebagai taruhannya," lirih Nayaka dengan mempertahankan buliran bening itu tak merembes di pipinya.
"Bagi Nayaka, ibu bukan sebuah beban dalam hidup Nayaka. Tapi ibu adalah anugerah terindah yang Alloh berikan pada hidup Nayaka," ujarnya lagi dengan buliran kristal yang tiba-tiba mendarat di pipinya.
"Nayaka mohon, jangan pernah ibu mengatakan hal itu lagi. Karena ibu adalah 'Surga' Nayaka," wanita setengah baya itu langsung mendekap erat tubuh sang putri yang mulai terisak dan bergetar hebat.
"Maafkan ibu, sayang," lembut sang ibu sembari memberikan kecupan hangat di pucuk kepala sang putri.
Nayaka menimpali ucapan sang ibu. "Ibu tidak mempunyai kesalahan pada Nayaka, kenapa harus meminta maaf. Seharusnya yang lebih pantas meminta maaf dan pengampunan besar pada ibu adalah Nayaka. Nayaka yang punya salah besar pada ibu," isakan semakin kencang.
Seketika bayangan wajah tampan sang Tuan Gapiannya menari-nari menggoda dalam pikirannya, sekarang ini.
'Ngapain kamu senyum-senyum kayak orang ganteng saja!' pekiknya dalam batin. memakai pria tampan yang telah merenggut kesucian nya. 'Dasar orang ganteng tapi aneh! satu detik jadi malaikat penolong, tapi sedetik kemudian berubah menjadi ibl1s yang memakai topeng wajan manusia yang kalem dan baik hati!' omelnya lagi dalam batin.
__ADS_1