Gara-gara Sebuah Mimpi

Gara-gara Sebuah Mimpi
Part 11. Perubahan Pun Terjadi


__ADS_3

Tapi esok paginya, entah apa yang ada di pikirannya, Christine mendekati kakaknya dan mencegatnya pergi ke rumah majikanya. Dia juga berkata kalau dia ingin tinggal bersama wanita itu. Dia membujuk dan memohon agar kakaknya mengizinkannya tinggal bersama majikannya. Tapi anak laki-laki itu selalu menolak dan mengatakan bahwa majikannya adalah orang jahat.


Meski begitu Christine tidak peduli, Dia bahkan menangis sambil berlutut di kaki anak laki-laki itu.


"Kak, aku mohon tolong izinkan aku tinggal bersamanya.


Kalau kakak memang menyayangiku dan peduli padaku, maka izinkan. Aku sudah bosan hidup kekurangan seperti ini. Setiap hari aku tidur di tikar dan hanya pakai sarung. Tidak ada bantal. Setiap hari aku selalu kesepian. Kakak terlalu mengekangku. Di sini tidak ada hiburan. Dan lama-lama, aku bisa gila kak. Aku sangat jenuh. Kalau kakak memang ingin aku bahagia, izinkan aku tinggal bersama majikanmu. Toh kita bisa tetap bertemu kan?"


Seketika hati anak laki-laki itu pun hancur. Padahal baru semalam mereka mengarang rencana, tapi esoknya sudah berubah dengan cepat. Dia sangat sakit melihat adiknya lebih mementingkan kenyamanan yang akan dia dapat ketimbang kasihnya kepadanya.


Maka karena tak kuasa melihat adik kesayangannya begitu menderita, anak laki-laki itu terpaksa mengizinkannya pergi. Dia sangat menyesal sudah membawanya ke rumah majikannya. Bahkan kejadian buruk yang dia alami tak mengubah perasaannya adiknya.


Lalu setelah keadaan mereka tenang, mereka mulai bersiap-siap pergi ke rumah wanita itu. Christine membasuh wajahnya agar terlihat segar. Lalu begitu sampai disana, dia tidak sabar ingin menemui wanita itu dan mengatakan setuju untuk tinggal dengannya.


Sementara anak laki-laki itu membersihkan taman, meski hatinya terluka. Christine sibuk dengan perasaannya. Rasanya dia ingin cepat-cepat mengatakannya. Maka dia memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya berkali-kali. Tapi tidak ada yang menyahut.


Belakangan dia frustasi dan kecewa karena berpikir bahwa keinginannya itu pasti tidak akan terwujud. Dia akan selamanya tinggal di gubuk sempit itu.


Tapi kemudian, dia menyemangati dirinya dan kembali mengetuk pintu rumah itu. Akhirnya wanita paruh baya itu keluar menemuinya.


Lalu dengan girangnya Christine cepat-cepat mengatakan pada wanita itu bahwa dia setuju untuk tinggal bersamanya.


Wanita itu pun sangat senang mendengarnya. Karena apa yang dia inginkan selama ini akhirnya terwujud. Akhirnya dia memiliki seorang putri.


Tapi anak laki-laki itu tidak senang dan tidak tenang. Dia selalu mengingat hal buruk yang sudah menimpanya. Dan dia takut itu juga akan menimpa adiknya.


Wanita itu pun segera menyuruhnya masuk dan merayakannya. Sedangkan anak laki-laki itu dibiarkan tetap bekerja. Mereka berdua juga pergi ke pusat perbelanjaan. Wanita itu membelikan apapun yang Christine minta. Pakaian, tas, sepatu, juga album idolanya. Tapi dia lupa dengan kakaknya dan tidak membeli apapun untuknya.


Setelah dia merasa puas, mereka kembali ke rumah. Lalu wanita itu menemui anak laki-laki itu dan berkata,


"Nak, sekarang hari sudah sore.


Pergilah! Dan pulanglah!


Sedangkan Christine akan tinggal bersamaku."


Maka dengan wajah yang lusuh dan sangat sedih, anak laki-laki itu pergi dari rumah itu. Dan adiknya, sama sekali tidak melihatnya. Dia sibuk dengan barang-barang barunya.


Ketika anak laki-laki itu sudah jauh, dia menangis karena kini dia tinggal sendiri. Cepat sekali adiknya melupakannya. Kasih sayang yang dia curahkan selama ini tidak ada artinya. Kini kehidupannya kembali seperti sediakala. Sendiri dan tak ada teman.

__ADS_1


Malam itu, anak itu tidak bisa memejamkan matanya walau waktu sudah hampir menunjukkan dini hari. Hatinya selalu gusar karena selalu memikirkan keselamatan Christine di sana.


Maka keesokan paginya, dia cepat-cepat pergi karena ingin menemui adiknya. Matanya hitam dan berkantung. Wajahnya terlihat sangat lelah. Namun yang dia pikirkan hanyalah adiknya.


Ketika melihatnya, dia berkata,


"Apa kau bahagia tinggal di sini? Apa kau bisa tidur nyenyak semalaman?


Dan apa kau makan dengan baik di sini?"


"Aku baik-baik saja kak. Kakak yang terlihat tidak baik. Apa kakak tidak tidur semalam karena memikirkanku?


Tolonglah kak, Jangan membuatku merasa terbebani. Kalau kakak seperti ini, bagaimana aku bisa hidup tenang.


Bagaimana pun juga aku sudah berutang budi padamu kak.


Aku bisa terus hidup karena bantuan kakak. Kalau kakak tidak menolongku waktu itu, aku mungkin sudah jadi gelandangan. Tapi aku juga ingin berubah kak. Percayalah, suatu hari nanti aku akan membalas semua budi baik kakak.


Tapi sekarang, berhentilah menyusahkan dirimu kak.


Aku mungkin tak tinggal bersamamu seperti dulu. Tapi aku masih di sini kan? Kakak bisa melihatku setiap hari."


Tapi anak itu berusaha menghibur dirinya. Lalu dia berkata lagi,


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa dan sedih lagi.


Jaga dirimu baik-baik. Aku menyayangimu adikku. Dan akan selalu begitu."


Mereka berdua pun berpelukan sambil berurai airmata. Lalu anak itu pergi meninggalkan Christine dan dia tidak ingin lagi bekerja di sana.


Lalu tak lama kemudian, wanita itu datang menghampirinya dan bertanya,


"Hei, kenapa matamu merah? Apa kau baru saja menangis?


Ada apa nak? Ceritakan pada ibu.


Ingat! Mulai sekarang aku adalah ibumu. Dan kau adalah putriku. Putriku satu-satunya."


"Tidak ada apa-apa nyonya. Mataku hanya terkena debu saja"

__ADS_1


"Jangan panggil nyonya. Tapi panggil saya ibu. Seperti yang baru saja saya katakan."


"Baiklah bu."


"Yah sudah, lebih baik sekarang kita sarapan. Ibu sudah buatkan makanan enak untukmu. Ayo!"


Mereka pun segera pergi menuju meja makan. Dia melihat ada banyak makanan enak dan juga buah-buahan segar yang ibunya hidangkan. Tapi rasanya dia sulit untuk memakannya. Dia hanya duduk dan memandangi semua makanan itu.


Melihat itu, ibunya bertanya padanya,


"Nak, kenapa tidak dimakan? Kenapa hanya dilihatin saja?"


Tapi dia tidak menjawab. Dia berkata dalam hati,


"Bagaimana bisa aku makan makanan enak ini, sementara kakakku di sana tidak tahu akan makan apa. Dia pasti hanya akan makan nasi putih dan lauk sederhana. Seperti yang sering kami makan.


Aku tidak sanggup menikmati ini semua."


Tanpa terasa air matanya mulai jatuh. Ibunya menjadi khawatir dan cemas dengannya. Dia bertanya lagi,


"Nak, ada apa? Apa kau sakit?


Jangan buat ibu cemas seperti ini. Atau, apa makanannya kurang enak?"


"Tidak bu. Aku hanya memikirkan kakakku saja."


"Siapa kakakmu? Kemarin kau bilang kau tidak punya keluarga."


"Maafkan aku bu karena terpaksa berbohong padamu waktu itu. Anak laki-laki yang bekerja untukmu itu, adalah kakakku."


"Oh begitu. Jadi itu yang membuatmu sedih dari tadi? Ibu pikir ada hal yang lain. Yah sudah, tidak perlu dipikirkan. Nanti ibu akan urus. Yang penting kamu sekarang makan."


"Bu, apa dia boleh tinggal bersama kita?"


"Apa? Tidak!


Ibu tidak ingin punya anak laki-laki. Tidak boleh ada laki-laki tinggal di rumah ini. Sejak dulu laki-laki sudah sangat menyakiti ibu. Jadi sampai kapanpun, ibu tidak akan menerimanya tinggal di rumah ini".


Mendengar itu, Christine pun semakin sedih. Tampaknya dia akan semakin sulit untuk menemui kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2