Gara-gara Sebuah Mimpi

Gara-gara Sebuah Mimpi
Part 20. Hal yang Sulit


__ADS_3

Lalu ketika mereka sampai di rumah, mereka langsung mempersiapkan apa yang mereka butuhkan. Dia melihat adiknya menangis seraya memasukkan satu demi satu pakaiannya juga pakaian ibunya ke dalam tas. Lalu anak itu mendekatinya untuk menguatkannya.


"Jangan menangis lagi. Ibumu pasti segera sembuh."


"Iya kak. Tapi aku juga merasa bersalah sama kakak. Gara-gara aku, kakak disekap dan disakiti oleh ibu. Aku masih tidak habis pikir kenapa ibu tega melakukakannya. Kakak sama sekali tidak membawa pengaruh buruk untukku."


"Sudahlah. Ibumu melakukan itu karena sangat sayang padamu. Dia tidak mau kehilanganmu. Makanya dia menjauhkan kakak darimu."


"Tapi ka."


"Sudahlah. Lupakan saja. Lebih baik kita jangan bicarakan itu. Emosimu akan terkuras dan tenagamu hilang. Sekarang kamu fokus saja merawat ibumu. Aku tidak mau kamu terbebani karena memikirkan kakak. Kau harus tabah yah."


Lalu setelah dia selesai memasukkan apa yang dia butuhkan ke dalam tas, dia berkata lagi pada anak laki-laki itu,


"Kak, aku sangat lapar. Sejak tadi siang aku belum makan apapun. Ibu selalu berteriak histeris dan aku sangat takut meninggalkannya. Makanya aku selalu berdiri di depan kamar melihat para perawat mengendalikan dan menenangkannya. Dia seperti orang gila dan aku takut sekali. Sekarang sudah jam 10 malam. Mungkin tidak ada lagi yang menjual makanan di luar."


"Jangan khawatir. Kakak akan masak sesuatu untukmu."


Maka dia segera pergi ke dapur dan mencari-cari sesuatu yang bisa dia masak. Tapi dia tidak menemukan apapun selain sebungkus mie instan.


"Kasihan sekali kalian. Sekarang kalian harus hidup susah seperti ini. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar pun sulit. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian menderita. Walaupun wanita itu tidak menyukai kehadiranku, tapi aku akan tetap mengasihinya demi adikku Christine." Ujarnya sambil merebus mie instan itu.

__ADS_1


Lalu setelah itu matang, dia cepat-cepat membawanya kepada adiknya dan melihatnya makan dengan lahap. Hatinya pun semakin sedih melihat kehidupannya yang tadinya nyaman sekarang berakhir menyedihkan.


Lalu malam itu juga mereka langsung pergi ke rumah sakit setelah melengkapi semuanya. Mereka mencari-cari taksi karena tak ada lagi bis yang beroperasi.


Ketika mereka sampai di sana, Christine langsung berlari ke kamar ibunya karena mendengar ibunya menjerit histeris lagi. Dia melihat para perawat sibuk mengerahkan tenaga untuk mengendalikan amarah wanita itu. Tapi karena dia semakin tidak terkontrol, salah satu perawat terpaksa menyuntikkan obat penenang padanya hingga akhirnya wanita itu tertidur.


Christine yang melihat kondisi ibunya melalui celah kaca pintu, yang semakin memprihatinkan, tak kuasa menahan tangisnya. Membuat anak laki-laki itu juga turut menangis. Meski begitu dia berupaya tetap kuat agar bisa menguatkan adiknya.


**********


Lalu belakangan ketika wanita itu sadar dan merasa tenang, dia melihat anak laki-laki itu duduk di sebelahnya bersama Christine. Wanita itu pun langsung membuang mukanya karena merasa jijik. Tapi Christine bangkit dan berkata lembut pada ibunya,


Tapi bukannya luluh, wanita itu malah semakin membenci anak laki-laki itu. Karena dia berpikir kalau anak itu sudah mencuci otak Christine sehingga melawannya dan tidak menuruti perkataannya.


Wanita itu marah dan berteriak memaki anak laki-laki itu. Dia mengusirnya dengan kasar. Dia bangkit dari tempat tidurnya, menarik tangan anak itu dan mendorongnya keluar hingga jatuh.


"Pergi kau dari sini! Jangan merasa kasihan kepadaku. Kau senangkan karena sekarang aku sakit? Kau menertawakanku kan? Pergi! Pergi.....!" Teriaknya kencang.


Setelah mengusir anak itu, wanita itu membanting pintu dan menguncinya. Lalu berkata lagi pada Christine,


"Kenapa kau bawa dia kesini? Apa kalian mau membunuh ibu? Apa kau mau membalas sakit hatimu karena ibu sudah melukai kakakmu? Begitu?"

__ADS_1


"Tidak bu. Aku tidak bermaksud begitu. Aku dan kakak sangat menyayangi ibu."


"Tidak! Kau tahu kan ibu hancur karena seorang laki-laki? Kau juga tahu kan ibu sangat membenci laki-laki? Tapi kenapa kau menyakiti hati ibu? Ibu kehilangan anak ibu karena laki-laki jahat itu. Ibu juga kehilangan perusahaan ibu karena laki-laki jahat pesaing ibu."


"Aku tahu itu bu."


"Kalau tahu kenapa kau lakukan?"


"Tapi kakak tidak begitu bu. Coba ibu pikirkan. Ibu sudah menyakiti kakak. Tapi kakak tidak membalasnya. Waktu tahu ibu sakit, dia tetap datang ke sini untuk melihat ibu. Bahkan kakak membantuku dan menemaniku datang ke sini, malam-malam begini. Kalau kakak tidak ada, aku pasti sudah terpuruk juga. Aku tidak sanggup menghadapi semua ini sendirian. Kakaklah yang terus menyemangatiku. Bu, tolonglah. Yang bersalah adalah suami dan pesaing ibu. Tapi kakak tidak."


Seraya Christine mengutarakan seluruh perasaannya, anak laki-laki itu tetap berdiri di luar karena ingin tahu reaksi wanita itu. Selama mereka berbicara, dia bisa melihat dari celah kaca pintu.


Tapi wanita yang kesehatan mentalnya terganggu itu tidak tahu harus menjawab kata-kata putrinya seperti apa. Dia hanya diam lalu pergi ke tempat tidurnya dan berbaring membelakangi putrinya sambil meneteskan airmata.


Maka karena melihat tak ada jawaban, hati anak laki-laki itu pun semakin hancur. Dia sangat sedih lalu berlari ke sudut ruangan dan menangis di sana.


**********


Hari demi hari berlalu, dan selama wanita itu dirawat di rumah sakit, anak laki-laki itu lah yang bekerja keras membantu adiknya mengurus ibunya. Dia bekerja keras siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Karena uang yang wanita itu dulu simpan sudah habis untuk biaya rumah sakit.


Namun tak hanya itu, anak laki-laki itu juga senantiasa mendoakan kesembuhan wanita itu. Dia tidak mengingat sedikit pun perbuatan buruk wanita itu. Juga dalam doanya, dia juga berharap agar wanita itu bisa menerimanya sebagai bagian dari keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2