
Dia juga tak menyangka ibunya akan melarangnya untuk bertemu dengan kakaknya. Ibunya bahkan mengatakan agar jangan terlalu mengasihi seorang pria sekalipun itu kakaknya sendiri. Dia mengutarakan itu dengan sangat geram. Seperti menyimpan kebencian yang besar pada laki-laki.
Tapi Christine mencoba memberankan diri untuk menanyakan apa alasannya. Tapi ibunya tidak menjawabnya. Dan hanya memberikan larangan keras.
**********
Beberapa hari berikutnya setelah anak laki-laki itu tak bekerja lagi di situ, dia datang menemui adiknya diam-diam. Dia sampai di jendela kamar Christine lalu memanggilnya pelan. Saat itu Christine sedang duduk termenung merindukan kakaknya. Apa yang dia miliki sekarang, tidak bisa membuatnya benar-benar bahagia.
Anak itu memanggilnya berulang kali sampai akhirnya Christine mendongak dan melihat kakaknya. Lalu dia cepat-cepat turun dari tempat tidurnya dan membuka jendela. Mereka berdua pun saling mengutarakan kerinduannya.
Memang Christine semakin hari semakin cantik sejak dia tinggal dengan ibunya. Tubuhnya semakin terawat dan lebih gemuk daripada yang dulu. Meski begitu dia tidak bahagia. Setiap hari ibunya selalu mengatakan larangan yang sama berulang kali yang membuat dia bosan dan tertekan. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa berharap kelak cara pandang ibunya berubah. Satu hal yang tak dia pahami adalah kenapa ibunya membenci laki-laki. Apa yang terjadi sebenarnya.
Mereka berdua terlihat asyik melepaskan rindu dan mengobrol bersama. Hingga tak menyadari bahwa ibunya melihat mereka dari kejauhan.
Tapi ibunya tetap diam dan tidak menghampiri mereka. Dia menunggu sampai anak itu pulang ke rumahnya.
Lalu setelah waktu berlalu cukup lama, anak laki-laki itu pun pamit pulang. Dia takut adiknya akan mendapat masalah jika ibunya melihatnya bersamanya.
Begitu anak itu kembali, Christine segera keluar dari kamarnya. Tapi ibunya sudah berdiri di sana sejak tadi. Dia pun kaget setengah mati dan takut. Dia berpikir, apakah mungkin ibunya tahu jika kakaknya datang? Maka dia hanya diam saja dan sangat gugup. Tapi ibunya malah berbicara dengan tenang kepadanya dan tidak menunjukkan kekesalannya. Lalu dia bertanya,
"Nak, kenapa kau tegang sekali? Wajahmu juga pucat. Apa kau sakit?"
"Tidak bu. Mungkin aku hanya lapar. Iya lapar. Sejak pagi aku belum makan apapun."
__ADS_1
"Sungguh? Kenapa?
Oh yah, tadi ibu dengar, sepertinya ada orang lain di kamarmu."
"Ah, tidak ada bu. Tidak ada siapa pun. Lihatlah! Mungkin yang ibu dengar itu suara TV."
"Begitu ya? Baiklah. Tapi nak, kau harus ingat satu hal. Ibu tidak akan mengampuni siapapun yang sudah berbohong. Ibu sangat membencinya. Kau paham kan?"
Dia tidak menjawabnya karena takut. Kemudian ibunya pergi meninggalkannya.
**********
Lalu suatu hari, dia mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya pada ibunya kenapa dia sangat membenci laki-laki. Dan kenapa ibunya juga ingin agar dia seperti itu. Rasanya tidak masuk akal.
Tapi karena rasa ingin tahunya yang besar, Christine tidak peduli dengan kemarahannya dan terus mendesak ibunya agar mengatakan alasannya.
Belakangan ibunya pun tak tahan melihatnya merengek terus-menerus. Dan terpaksa menyingkapkan alasannya.
Kemudian dia membawa Christine duduk di sofa dan mulai menceritakannya dengan tenang meski itu sulit. Karena setiap kali dia mengenang laki-laki itu, emosinya akan meledak dan itu sulit diredakan. Maka dengan berat hati, dia terpaksa menceritakannya karena tak mampu lagi mengelak. Dia berkata,
"Dulu ibu sangat mencintai seorang pria. Dia suami ibu sendiri. Dia sangat ibu kagumi. Di mata ibu, dia laki-laki yang hebat. Dia seperti pelindung di saat lemah. Kami sangat bahagia. Pernikahan kami bahagia. Dan kami dikarunia seorang anak perempuan yang cantik. Memang hubungan kami tidak mendapat restu. Dia orang biasa. Dan ibu pun juga. Tapi kedua orangtua ibu ingin agar ibu mencari jodoh seorang yang mapan agar ibu bahagia. Tapi ibu menentangnya dan memilihnya. Semuanya kami mulai dari nol. Sampai akhirnya kami bisa bangkit dan memiliki rumah besar ini."
"Lalu apa masalahnya bu?"
__ADS_1
"Masalahnya muncul tak lama setelah anak pertama kami lahir. Tiga tahun setelah itu, pria itu mulai menunjukkan sikap tak senang lagi pada ibu. Ibu tidak tahu kenapa. Ada saja alasan yang dia lontarkan setiap kali ibu bertanya tentangnya. Kenapa dia sering pulang terlambat, dan kenapa dia sering marah-marah tak jelas. Ibu terus mencoba sabar kepadanya. Tapi kebohongan tidak bisa ditutupi selamanya. Malam itu, ibu pergi bersama anak ibu ke tempat hiburan dan menemaninya bermain. Lalu tiba-tiba ada seorang anak kecil berlari sambil memegang es krim. Anak itu menabrak ibu dan es krim itu jatuh ke baju ibu. Seorang pria melihatnya dan langsung berlari menghampiri ibu untuk minta maaf. Tapi saat ibu melihatnya, ibu terkejut. Ternyata dia adalah suami ibu. Dan anak itu memanggilnya ayah. Ibu diam dan sangat marah. Dia juga diam. Tapi alasan apa pun yang dia katakan selanjutnya, membuat ibu jijik dan semakin benci. Malam itu kami segera pulang. Tapi tak lama setelah itu, orang itu juga pulang dan langsung menemui ibu di kamar dan berteriak memaki ibu. Teriakannya membuat anak ibu bangun dan menangis. Sepanjang dia berbicara, ibu tetap diam dan menggendong anak ibu yang terus menangis. Lalu entah setan apa yang tiba-tiba merasukinya, dia mendorong ibu dengan kuat. Dan tangan yang tadinya menggendong anak ibu, lepas. Anak itu jatuh dan terlempar jauh. Kepalanya membentur meja dan dia mati. Anak ibu mati nak."
Dia menangis tersedu-sedu seraya mengingat peristiwa itu.
"Aku turut sedih bu mendengarnya. Maafkan aku." Ujar Christine yang turut menangis.
"Karena itulah ibu sangat membenci laki-laki. Laki-laki hanya bisa mencari kesenangannya saja dan mudah mengabaikan komitmen. Meski pemikiran ibu ini salah, tapi ibu sudah terlanjur benci melihat laki-laki. Apalagi jika harus tinggal di rumah ini. Ibu tidak tahan. Lebih baik ibu mati saja."
"Tidak bu. Aku berjanji akan selalu menuruti kata-kata ibu."
Kemudian Christine beranjak dan mengambil segelas air untuk ibunya dan menyuruhnya minum agar dia sedikit tenang.
"Ini bu. Minumlah dulu." Ujarnya sambil menyodorkan air itu.
"Terima kasih nak. Kau memang anak yang baik."
Tapi wanita itu tidak menceritakan seluruh kejadian itu pada Christine. Sebuah kebenaran besar yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun di sebuah ruangan rahasia. Bahwa putri kecilnya itu, dia awetkan dengan balsam-balsam mahal yang dia beli dari Mesir. Karena dia begitu mencintai putrinya.
Sedangkan laki-laki itu, dia menguburnya di belakang rumahnya. Di taman yang ditumbuhi bunga kamboja.
Situasi itu membuat Christine semakin bingung. Di usianya yang masih labil dia harus memilih antara dua orang yang paling dia sayangi dalam hidupnya.
Dia sangat menyayangi kakaknya yang sudah banyak berkorban untuknya.
__ADS_1
Tapi di sisi lain, dia juga tidak ingin menyakiti hati ibu tirinya.