
Beberapa hari setelahnya, Christine mengungkapkan keinginannya untuk mengambil kursus lain. Agar dia punya kesibukan di luar jika ibunya pergi ke luar kota. Dan juga supaya dia mempunyai alasan lain untuk mencari tahu keberadaan kakaknya yang pergi tanpa kabar.
Maka ke esokan harinya saat Christine pergi ke tempat lesnya, dia sengaja lewat dari depan rumah kakaknya lagi dan singgah ke sana berharap kakaknya sudah pulang.
Tapi saat dia sampai, dia tidak melihat kakaknya di sana. Bahkan rumah itu juga terlihat sangat berantakan. Para pemulung di sana tampaknya memanfaatkan kekosongan itu dan mengambil apa yang ada di sana. Karena sudah berhari-hari lamanya mereka tidak melihat bocah itu. Mereka berpikir, 'Sayang sekali benda-benda ini ada di sini. Lebih baik dijual saja daripada terbuang-buang di sini. Toh yang punya juga tidak tahu ke mana.' Barang-barang bekas yang dikumpulkan anak laki-laki itu diambil satu persatu oleh orang-orang yang ada di sana.
"Kak, kakak pergi kemana? Kenapa kakak tidak memberitahuku kakak pergi ke mana? Ibu bilang kakak pergi menemui seorang teman. Tapi, kok aku sulit mempercayainya?" Tanyanya dalam hati.
Kemudian dia masuk dan melihat seluruh isi rumah itu dengan seksama. Khususnya dia pergi ke tempat dimana dia menyimpan uang yang pernah mereka kumpulkan dulu. Dia sangat senang karena uang itu masih tersimpan rapi di dalam sebuah toples kecil. Satu-satunya milik mereka yang tersisa.
"Kalau kakak pergi jauh, seharusnya kakak membawa uang ini. Tapi dia malah meninggalkannya di sini. Untung saja orang-orang di sini tidak menemukannya dan mengambilnya. Aku akan simpan ini baik-baik. Hanya ini yang tersisa yang kami punya. Kerja keras kakakku."
Kemudian dia memasukkan uang itu ke dalam tasnya lalu pergi. Namun dia bertekad untuk merahasiakan itu dari ibu tirinya. Karena kecurigaan timbul lagi di dalam hatinya tapi dia tidak berani menunjukkannya.
Namun sebenarnya anak laki-laki itu tidak pergi jauh dari kota itu. Dia hanya pindah ke tempat lain yang tidak pernah adiknya ketahui agar dia bisa tetap melihat adiknya meskipun dari jauh. Anak laki-laki itu mengingkari janjinya pada wanita itu untuk pergi jauh selamanya dari kehidupannya.
Selama Christine ada di rumah itu, bocah itu terus memperhatikannya dari jauh. Meski anak laki-laki itu sudah pindah ke tempat lain, namun setiap hari dia masih melihat rumahnya dari jauh karena yakin suatu saat nanti adiknya pasti mencarinya. Dan untuk menyempurnakan kebohongannya, dia merelakan semua barang-barangnya dicuri meskipun dia melihatnya sendiri dari jauh.
Ketika adiknya pergi, rasanya dia ingin sekali memanggilnya dan memeluknya. Tapi dia takut. Maka dia sangat menyesal pernah membawa Christine ke rumah wanita itu. Rencana yang dulu dia buat malah semakin menjauhkannya dari adiknya.
Uang yang anak laki-laki itu terima dari ibu tiri Christine, dia gunakan untuk menyewa rumah kecil di sekitar kota itu dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tapi agar uang itu tidak habis dengan cepat, anak laki-laki itu mencari pekerjaan di sebuah bengkel yang tidak begitu besar sebagai cleaning service.
__ADS_1
**********
Sore itu, wanita itu sedang duduk di halaman belakang rumahnya sambil menikmati secangkir teh seperti kebiasaannya. Dia duduk tepat di atas kuburan suaminya. Sebuah kursi taman ditaruh di sana agar tak tampak seperti kuburan.
Hari itu dia merasa senang karena berpikir telah berhasil menyingkirkan bocah itu selamanya. Dia berbicara sendiri,
"Ini baru namanya hidup.
Hah..... rasanya sangat nyaman. Tidak ada pengganggu. Karena aku sudah mengirimnya jauh-jauh. Entah dia pergi kemana, aku tidak peduli. Akhirnya aku bisa hidup tenang tanpa bayangan laki-laki di sekitar rumahku."
Lalu tak lama kemudian, Christine tiba di rumahnya. Tapi dia hanya berdiri di depan pintu dapur yang dekat dengan taman itu sehingga dia bisa melihat ibunya menikmati waktu sorenya. Tapi dia ragu untuk menghampirinya.
Wanita itu tak menyadari kedatangan anaknya. Tapi ketika dia hendak beranjak untuk menyimpan cangkirnya, wanita itu kaget dan panik melihat Christine berdiri di situ dan wajahnya murung. Dia berpikir, 'Apakah dia mendengar kata-kataku tadi?'
"Ah... tidak apa-apa. Ibu hanya kaget melihatmu tiba-tiba muncul. Sudah berapa lama kau ada di situ?"
"Baru saja bu."
"Oh." Lalu dia menetralkan emosinya dan berkata lagi,
"Ada apa nak? Kenapa wajahmu murung seperti ini?"
__ADS_1
"Aku hanya lelah belajar bu."
"Mmm, begitu yah. Oh yah nak, tadi ibu baca artikel, penyanyi kesukaanmu itu akan menggelar konsernya di negara kita."
"Benarkah?"
"Iya. Apa kau mau pergi menontonnya?"
"Apa ibu serius?"
"Iya nak. Apa pun demi kebahagiaanmu akan ibu lakukan. Ibu akan menemani kamu ke sana."
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan Ibu?"
"Tidak masalah. Ibu bisa handle. Minggu depan kita akan pergi ke luar kota untuk melihatnya. Kita bisa beli tiket VIP agar kamu bisa melihatnya lebih dekat. Bagaimana? Apa kau suka?"
"Wow! Luar biasa bu. Aku suka sekali! Aku sangat suka! Terima kasih yah bu sudah mengerti aku."
"Yah, anak ibu yang cantik. Yah sudah! Sana istirahatlah! Ibu masih ingin bersantai di sini."
"Baiklah. Aku masuk dulu yah bu."
__ADS_1
Lalu begitu Christine pergi, wanita itu bisa merasa kalau anaknya seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Wajah murung itu, wajah itu aku sangat hafal. Itu selalu diperlihatkan ketika dia merindukan bocah sialan itu. Tapi aku akan segera menyelidikinya."