Gara-gara Sebuah Mimpi

Gara-gara Sebuah Mimpi
Part 6. Awal Hidup Yang Baru


__ADS_3

Lalu begitu anak laki-laki itu selesai mengatakan semuanya pada Christine, dia langsung berlutut mengucap syukur. Dia tidak menyangka kata-katanya akan secepat itu didengar. Kini anak laki-laki itu tidak perlu memulung lagi dan bergulat seharian ditumpukan sampah. Dia sangat senang karena nanti kakaknya bisa lebih bersih. Maka mereka merayakan itu dengan makan makanan enak di salah satu warung makan tak jauh dari tempat tinggalnya.


Dan karena dia masih memiliki sisa uang, mereka juga pergi ke toko sepatu dan membeli sepatu untuk adiknya.


Bahkan esoknya, ketika dia hendak pergi bekerja, dia juga menanyakan ingin dibelikan apa kalau nanti dia pulang bekerja. Rasanya dia belum cukup membahagiakan adiknya dengan semua hal yang sudah dia lakukan. Namun Christine, meski sulit untuk menjawabnya, dia tetap menjawabnya dengan mengatakan kalau dia menginginkan sebuah handphone.


Mendengar itu, anak laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum seolah dia yakin dia bisa membelikan benda itu dengan hasil kerja kerasnya. Dia bahkan menyemangati Christine untuk terus bersabar menantikannya.


Namun sesampainya di kebun, dia justru tidak bekerja, tapi malah larut memikirkan keinginan Christine. 'Berapa lama aku akan mengumpulkan uang untuk membelinya? Berapa harganya? Dan apakah dia akan sabar menunggu?' Semua pertanyaan itu menyita waktunya. Hingga hari hampir siang, dia belum mengerjakan apapun.


Tak lama si pemilik kebun datang menghampirinya dan melihatnya bengong. Yang dia lakukan hanyalah mengorek-ngorek tanah dengan jarinya. Taman itu belum dijamah sedikit pun. Namun wanita itu tidak langsung marah padanya tapi bertanya kenapa wajahnya terlihat murung.


Tapi anak itu diam saja. Lalu si pemilik kebun itu menanyainya lagi dan berusaha menimba isi hatinya. Dia sangat ingin tahu kenapa tiba-tiba anak itu tidak bersemangat. Tidak seperti hari pertama dia bekerja.


Akhirnya setelah terus didesak, anak itu pun mau menjawabnya. Namun dia menggambar di tanah. Dia menggambar sebuah handphone dan menjelaskan bahwa dia sangat membutuhkannya.


"Jadi ini yang dari tadi membuat mukamu muram? Untuk apa kau menginginkannya?" Tanya si pemilik kebun.


Kemudian anak laki-laki itu menggambar lagi di atas tanah wajah seorang anak perempuan dan menuliskan bahwa itu untuk adik perempuannya.


"Tenanglah. Jangan khawatir. Kalau kau bekerja keras, kau pasti bisa membelinya. Sekarang lebih baik kau teruskan saja bekerja." Balas wanita itu.


Lalu wanita itu pergi meninggalkannya. Tapi karena hari sudah siang saat dia mulai bekerja, maka taman yang bisa dibersihkannya tidaklah luas. Namun lagi-lagi si pemilik kebun itu tidak marah dan memberikan upah seperti biasa saat hari sudah sore. Upahnya tidak berkurang sepeser pun.

__ADS_1


Lalu saat berjalan pulang, dia melihat seseorang membuang DVD rusak ke tempat sampah. Dengan cepat dia berlari ke tempat sampah itu untuk mengambilnya sebelum didahului oleh pemulung lain yang juga sedang mengais sampah tak jauh dari situ. Dia mengambil DVD itu dan membawanya pulang. Berharap dia bisa memperbaikinya. Dia berkata dalam hati,


"Meski aku belum punya uang untuk membeli handphone, tapi aku mendapatkan yang lain. Aku harap ini bisa berguna nanti,"


Perasaannya sangat bahagia dan dia memeluk DVD bekas itu erat di dadanya. Lalu sesampainya di rumah, dia dengan bangga segera menunjukkan DVD rusak itu pada Christine. Dia berharap adiknya senang. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Christine tertawa keras dan mengejeknya. Dia berkata,


"Kamu pikir aku pengumpul barang bekas juga?


Untuk apa DVD rusak ini? Orang bahkan sudah membuangnya. Itu artinya DVD itu tak bisa diperbaiki lagi.


Sudahlah kak. Tidak perlu berlebihan seperti ini. Aku sudah bahagia. Tidak perlu membuang tenaga untukku seperti itu. Aku kasihan melihatmu kak. Aku tidak tega."


Maka anak laki-laki itu menaruh DVD rusak itu ke tempat barang rongsok dan dia sangat kecil hati. Kemudian dia menghampiri Christine dan menyerahkan sedikit uang padanya dan mengatakan agar Christine menabung setiap uang yang dia berikan setiap hari padanya usai pulang bekerja.


Dia juga memberitahu semua itu kepada anak laki-laki itu. Dan mengatakan bahwa setiap uang yang dia berikan akan dia simpan di sana.


Lalu setelah semua itu, kedua anak remaja itu pun pergi ke warung makan dan menikmati makan malamnya yang sederhana.


**********


Ke esok paginya, ketika bocah itu sudah sampai di taman, dia melihat bahwa pemilik kebun itu tak ada di sana seperti biasa. Rumah itu kosong dan sepi. Maka anak laki-laki itu pun pergi dan bertanya pada tetangga. Tapi tak ada seorang pun yang tahu.


Lalu dia kembali lagi ke rumah itu dan mencari majikannya di sekitar kebun tapi tidak menemukannya. Dia tidak ingin bekerja jika majikannya tidak ada. 'Nanti bagaimana dengan upahku? Siapa yang akan memberikan?" Tanyanya dalam hati.

__ADS_1


Maka karena tak tahu apa yang harus dilakukan, anak laki-laki itu pun berniat pergi dari sana. Tapi saat dia sudah mendekati gerbang, tiba-tiba dia mendengar suatu benda terjatuh dari dalam rumah majikannya.


Maka dia mulai panik dan bingung, karena tak ada seorang pun di sana. Karena begitu penasaran, dia pun masuk dan berjalan mengendap-endap. Lalu dia mulai menelusuri setiap ruangan di rumah itu.


Rumah yang cukup besar itu hanya ditinggali seorang diri oleh seorang wanita paruh baya.


Tapi selama dia berjalan menelusuri, tak ada hal aneh apapun yang dia temukan. Juga ketika dia pergi ke lantai atas, tidak ada apa pun di sana.


Tidak ada barang yang rusak atau pun pecah. Semuanya juga terlihat rapi.


Maka anak laki-laki itu menghela nafas lega lalu berkata dalam hati,


"Ternyata aku salah.


Sudahlah aku pergi saja. Mungkin saat ini majikanku pergi ke suatu tempat dan nanti sore atau besok dia akan kembali.


Sekarang lebih baik aku pulang saja."


Anak laki-laki itu pun pulang tanpa membawa uang karena tidak bekerja. Meski begitu dia tak putus asa. Dia memutuskan untuk pergi ke tempat dia biasa memulung dan mulai mencari barang-barang bekas untuk bisa dia jual.


Tapi karena hari sudah siang saat dia mulai memulung, maka dia hanya mendapatkan uang dua ribu rupiah saja.


Kali ini dia pulang tanpa bisa membawa makanan enak untuk adiknya seperti biasa. Dia hanya bisa membeli setengah bungkus nasi putih untuk dibagi berdua. Mereka sudah berjanji bahwa mereka tidak akan mengambil uang yang sudah mereka simpan hanya untuk membeli makanan.

__ADS_1


__ADS_2