
Sejak hari itu, wanita itu selalu membuat Christine sibuk agar dia tidak pernah menyinggung tentang kakaknya ataupun berniat ingin menemuinya. Apapun itu, ibunya rela lakukan. Tak hanya membeli album sang idola, bahkan pakaian dan juga accessories yang idolanya pakai, dia upayakan beli demi mengalihkan perhatian Christine setiap kali dia berniat bertemu kakaknya.
Dengan begitu, wanita itu pun dapat dengan leluasa melampiaskan kekesalannya pada anak laki-laki yang terikat di ruang rahasia itu.
Ibunya juga menyuruh Christine belajar bahasa asing agar jika mungkin, kelak dia bisa menyapa idolanya saat jumpa fans.
Maka ketika Christine sedang sibuk belajar bersama gurunya, Ibunya diam-diam turun ke ruang rahasia untuk melihat keadaan anak laki-laki itu. Dia menyalakan lilin sebagai penerang. Dia takut jika dia menyalakan lampu, cahayanya akan memancar sampai ke luar.
Kemudian dia mendekatkan lilin itu ke wajah anak laki-laki yang sedang terikat itu hingga lelehannya yang panas mengenai kulit wajahnya. Berharap itu akan membuatnya bangun.
Tapi anak itu tidak sadarkan diri. Meski sudah banyak lelehan panas di wajahnya. Maka wanita itu mencoba cara yang kedua untuk membangunkannya. Dia mengambil sebuah capitan besi yang mirip seperti capitan kepiting lalu mencapit tangan anak itu hingga berdarah. Tapi anak itu juga tidak bangun.
Maka wanita itu pun meninggalkan anak itu lalu membakar dupa dan menaruhnya di depan patung anak perempuannya. Kemudian dia menulis di selembar kertas sebuah permohonan agar kelak kehidupan putri angkatnya ini tidak bernasib sama seperti anak kandungnya. Tapi berumur panjang dan selalu bahagia. Dia juga menuliskan keinginannya untuk hidup normal tanpa bayang-bayang kebencian.
Setelah menuliskan permohonan itu, dia kemudian menggulungnya dan memasukkannya ke dalam sebuah botol kaca lalu menaruhnya di samping dupa yang sedang terbakar.
Kemudian dia berbicara kepada patung anak perempuannya.
"Nak, sekarang ibu sangat bahagia. Meski kau tidak ada bersama dengan ibu. Tapi ibu sudah menemukan penggantimu.
Tugas ibu sekarang hanyalah memisahkan dia dari anak laki-laki ini.
Ibu tidak ingin siapapun terutama pria memisahkan dia dari ibu. Sama seperti ayahmu yang memisahkanmu dari ibu selamanya. Karena itulah ibu membencinya dan membunuhnya. Juga karena dia, ibu sering melihat bayangannya ada di setiap laki-laki yang berurusan dengan ibu.
Laki-laki itu kini sudah menjadi tanah di halaman belakang rumah. Dan menjadi pupuk untuk bunga kamboja yang ibu tanam. Tapi kamu tidak ibu biarkan hancur. Karena ibu sangat menyayangimu."
Setelah itu dia pergi kepada anak laki-laki itu lagi dan berbicara,
"Apa yang harus aku lakukan padamu? Haruskah kubiarkan kau mati membusuk di sini dan membuat ruangan ini menjadi bau? Tidak! Aku tidak bisa membiarkanmu berada di sini selamanya.
Tapi jika aku menyuruhmu menjauh dari kehidupan kami, kau pasti tidak akan mau. Dan aku, aku juga tidak bisa pergi meninggalkan rumah ini hanya demi menjauh dari bocah tidak berguna sepertimu.
__ADS_1
Rumah ini banyak menyimpan kenangan dan kebencian.
Lalu apa yang harus kulakukan?
Katakan!
Cepat katakan!
Atau, haruskah aku membuat matamu buta agar kau tidak bisa melihat kami lagi?
Tidak. Aku bukan orang yang kejam. Aku akan melepaskanmu dan memintamu pergi dengan baik-baik."
Dia sangat geram ketika berbicara dengan anak laki-laki itu. Lalu setelah menyampaikan semua perkataannya, wanita itu segera kembali ke atas dan pergi menemui Christine.
"Nak, bagaimana belajarnya hari ini? Apa kau menikmatinya?" Tanyanya dengan penuh kasih sayang.
"Iya bu. Pelajarannya sangat menyenangkan. Mudah dipahami. Ibu guru menjelaskannya dengan cara yang sederhana."
"Baguslah jika kau menikmatinya.
Nak, tolong buatkan secangkir teh hangat untuk ibu." Ujarnya berpura-pura sakit demi mengambil perhatiannya.
"Mungkin ibu kecapekan kerja. Mudah-mudahan nanti setelah minum teh, ibu jadi lebih baik."
Lalu dia segera pergi dan menyeduh teh itu lalu memberikannya pada ibunya.
"Ini bu tehnya. Christine pergi ke kamar dulu yah bu."
"Yah." Balasnya sambil tersenyum singkat.
Sembari dia minum sedikit demi sedikit teh itu, wanita itu terus berpikir bagaimana caranya menyingkirkan bocah laki-laki itu selamanya tanpa harus membunuhnya. Tapi dengan kerelaannya sendiri. Wanita itu sudah bertekad tidak akan mengotori tangannya lagi dengan melenyapkan siapapun lagi.
__ADS_1
**********
Ke esokan paginya, ketika Christine pergi ke supermarket, dia sengaja singgah ke rumah kakaknya. Saat sampai di sana, seseorang menemuinya dan bilang kalau kakaknya sudah seminggu tidak pulang. Dia pun kaget mendengarnya.
"Ke mana kakakku pergi selama seminggu? Kemarin ibu bilang dia menemui temannya. Siapa? Selama aku tinggal dengan kakakku, aku tidak pernah melihat dia punya teman." Tanyanya dalam hati.
Maka dia segera pulang dan berbicara pada ibunya karena dia pikir, ibunya sudah tidak membencinya lagi.
"Bu, tadi sebelum aku pulang, aku mampir ke rumah kakak. Tapi kata orang-orang di sana, sudah satu minggu dia tidak di rumah. Sejak kita mengundangnya makan, kakak tidak pernah pulang. Ibu bilang dia menemui temannya. Tapi aku rasa tidak mungkin sampai satu minggu. Dan setahu aku, kakak tidak punya teman."
Wanita itu pun kaget mendengarnya. Namun dia berupaya untuk tetap tenang.
"Yah, ibu tidak tahu pasti. Tapi kakakmu kemarin bilang begitu. Yah kita tunggu saja dulu. Siapa tahu besok kakakmu pulang. Jangan cemas. Bisa jadi kakakmu memang punya teman tapi belum sempat cerita samamu. Dan mungkin saat ini dia tinggal bersama temannya."
"Tapi kalau dia pergi, biasanya dia akan kasih tahu aku bu."
"Bisa saja karena buru-buru, dia jadi lupa."
"Tapi tidak biasanya dia begitu. Bahkan para tetangga pun tidak ada yang tahu dia kemana."
"Sudahlah. Nanti juga dia akan pulang.
Tunggu saja dan jangan cemas.
Coba lihat keadaan ibu sekarang. Ibu sedang tidak sehat."
"Maafkan aku bu. Karena terlalu khawatir aku jadi tidak memperhatikan ibu."
"Tidak apa-apa. Itu karena kau begitu menyayangi kakakmu. Tapi kau juga menyayangi ibu kan nak? Ibu sudah melakukan banyak hal untukmu."
"Tentu bu. Aku sangat bersyukur punya ibu yang baik."
__ADS_1
"Yah sudah. Kau boleh pergi ke kamarmu. Ibu mau istirahat sebentar. Nanti malam kita makan di luar saja. Ibu sedang tidak sehat untuk bisa masak malam ini."
Maka Christine pun pergi ke kamarnya dan duduk termenung di tempat tidurnya memikirkan kakaknya. Sedangkan wanita itu juga sibuk mencari cara untuk mengeluarkan anak itu dan menyingkirkannya selamanya.