
Ke esokan harinya mereka menemukan wanita itu terbaring pingsan dengan luka di tangannya.
"Bu! ibu kenapa? Bu, bangun bu! Teriak Christine sambil menangis di sisi ibunya.
Darah di tangan wanita itu menodai bajunya karena sangat banyak. Wanita itu mencoba keluar dari kamar dengan cara memukul-mukul pintu dengan tangannya.
Melihat yang terjadi pada ibunya, Christine marah pada anak laki-laki itu.
"Ini semua salah kakak! Andai saja kita tidak mengurungnya tadi malam, ibu tidak akan seperti ini."
Anak laki-laki itu tak berani menjawab apapun karena merasa bersalah. Dia merasa semua yang sudah terjadi disebabkan olehnya. Padahal keselamatannya pun terancam di tangan wanita itu.
Lalu mereka berdua segera mengangkat wanita itu dan membaringkannya di tempat tidur lalu membalut lukanya.
"Di saat seperti ini kakak mau mengajakku pergi meninggalkannya? Tidak kak! Itu tidak akan pernah terjadi. Saat ini ibu sangat butuh bantuan." Ujar Christine kesal.
Lalu dia bicara lagi,
"Bu, aku mohon sadarlah! Kenapa ibu jadi seperti ini? Ibu membuatku takut dan khawatir." Ujarnya sambil terus menatap ibunya dengan perasaan sedih.
Christine selalu setia berada di sisi ibunya menunggu dia bangun. Sedangkan kakaknya, dia menunggu di luar kamar karena takut wanita itu akan marah lagi saat melihatnya.
**********
Lalu tak berapa lama mereka berjaga, wanita itu mulai sadar dan membuka matanya. Dia menoleh kepada Christine yang sedang tertunduk menangis dan berkata,
"Kenapa kau menangis nak?"
Seketika mereka berdua kaget melihatnya, tapi juga senang. Lalu wanita itu bicara lagi,
"Jangan menangis lagi. Ibu tidak apa-apa. Nanti juga akan baik-baik saja. Di mana kakakmu? Ibu ingin minta maaf padanya."
Mendengar itu, anak laki-laki itu segera masuk meski masih ragu dan takut. Namun dia tidak berkata apa-apa padanya.
Lalu ketika wanita itu meminta maaf, anak laki-laki itu justru pergi dan berlari menuju taman.
"Apa yang harus kulakukan? Aku sangat bingung?
__ADS_1
Ya Tuhan, aku sangat takut kalau sewaktu-waktu aku tertidur lelap, wanita itu datang menyerangku lagi karena mimpi buruk. Sekarang pun aku masih takut meski dia sudah sadar dan meminta maaf. Aku sangat bingung."
Tak lama kemudian Christine datang menghampirinya dan berkata,
"Apa yang sedang kakak pikirkan? Kenapa kakak terlihat cemas? Percayalah, ibu sudah benar-benar berubah."
"Aku sendiri bingung. Aku hanya takut kalau sewaktu-waktu wanita itu kumat dan melukai ku saat aku tertidur. Sampai kapan wanita itu bisa pulih total? Apa dia akan pulih? Ibumu tidak menyukaiku meski aku sudah bekerja keras untuk kalian. Dia menyamaratakanku seperti laki-laki yang menyakitinya."
"Hah..." Christine menarik nafas panjang seolah bingung harus berkata apa. Tapi kemudian dia berkata lagi,
"Apa yang harus kukatakan kak. Aku sayang sama kalian berdua dan ingin tinggal bersama dengan kalian berdua. Kita sudah seperti keluarga. Aku tidak bisa memilih dengan siapa aku akan tinggal. Aku tahu kakak sangat takut. Tapi aku tidak mau kakak pergi. Percayalah kak, ibu sudah sembuh. Dan dia tidak akan mimpi buruk lagi. Dia tidak akan menyakiti kakak lagi."
"Tapi aku tidak yakin."
Namun rupanya ibu tirinya mendengar pembicaraan mereka. Dia berdiri di depan pintu dapur tak jauh dari taman. Lalu dia berkata dalam hati,
"Anak laki-laki itu tak ada bedanya seperti laki-laki jahat pada umumnya. Dia selalu berusaha mempengaruhi putriku. Lihat saja aku tidak akan mengampunimu."
Kemudian wanita itu memanggil kedua anak itu dan berkata,
"Nak, apa yang kalian lakukan di sana? Sejak tadi ibu mencari-cari kalian."
"Bu, ibu kan masih sakit. Ibu harus istirahat." Ujar Christine.
"Nak, ibu sangat lapar. Bisa kah kau buatkan semangkuk sup hangat untuk ibu?"
"Sup? Baiklah. Tapi aku ke pasar dulu membeli bahannya. Ibu masih bisa sabar kan menunggu?"
"Tidak! Biar aku saja yang pergi. Kalian tunggu saja. Aku tidak akan lama." Ujar anak laki-laki itu.
Maka anak laki-laki itu segera pergi membeli bahan-bahan yang akan mereka masak. Dia belanja cepat-cepat karena tidak ingin membuat keduanya menunggu lama.
**********
Lalu setelah semua bahannya dirasa lengkap, anak itu segera pulang dan menyerahkannya pada adiknya.
"Ini bahannya. Kau bisa masak sendiri kan?"
__ADS_1
"Kak, bantu aku."
Tapi tiba-tiba wanita itu datang dan berkata,
"Ibu ingin melihat kalian berdua memasak. Ibu juga ingin menikmati masakan yang kau buat nak." Ujarnya pada anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu hanya mengangguk dan mulai bekerja. Sedangkan wanita itu, dia duduk dan sibuk memikirkan caranya menyingkirkan anak laki-laki itu dari kehidupannya tanpa sepengetahuan putrinya.
Tak lama kemudian makanan itu pun matang. Mereka segera menyajikannya pada wanita itu.
Tapi tiba-tiba saja wanita itu mengeluh kepalanya pusing. Maka dia menyuruh Christine pergi membeli obat.
Christine yang sangat polos itu menuruti saja apa perintah ibu tirinya.
Sementara Christine pergi, anak laki-laki itu juga duduk di depan wanita itu dengan perasaan cemas dan takut. Dia masih trauma dengan apa yang terjadi padanya. Matanya tak henti-hentinya mengawasi setiap gerakan wanita itu.
Lalu ketika Christine sudah pergi jauh, wanita itu dengan cepat memukul kepala anak laki-laki itu dengan gelas sampai berdarah. Lukanya cukup serius hingga menyebabkan anak laki-laki itu pingsan.
Kemudian dia segera menyeret anak itu masuk ke dalam ruang rahasia dan mengikatnya di sana, di sebuah tiang. Setelah itu dia pergi dan kembali ke meja makan untuk membersihkan semuanya.
Ketika Christine kembali dan memberikan obat itu pada ibunya, dia heran karena tidak melihat kakaknya ada di sana.
"Oh yah bu, kakak di mana? Kenapa dia tidak makan?"
"Kakakmu pergi ke kamarnya. Dia bilang dia ingin istirahat dan tak mau diganggu. Mungkin dia sangat capek. Tapi dia sudah makan duluan." Balas ibu tirinya sambil tersenyum.
"Oh begitu. Tapi aku ingin memberikan susu ini padanya. Aku lihat kakak sepertinya kurang sehat."
"Nanti saja. Mungkin kakakmu sudah tidur." Balas wanita itu sambil menarik tangan Christine berusaha mencegatnya.
"Mmm, baiklah kalau begitu. Aku pergi ke kamar dulu yah bu. Aku belum lapar. Ibu makan duluan saja. Jangan lupa segera minum obatnya supaya cepat sembuh."
"Tunggu nak. Tolong temani ibu makan. Ibu sangat kesepian kalau makan sendiri."
Maka dia duduk, namun perasaannya sedikit tidak tenang. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena ibunya selalu memintanya berada di sisinya.
Dia pun tak berdaya dan terpaksa menurutinya. Menemaninya sampai ibunya tertidur. Kemudian dia diam-diam pergi ke kamar kakaknya. Karena sejak selesai makan, dia tidak melihat kakaknya. Apakah kakaknya benar-benar tidur atau pergi ke tempat lain.
__ADS_1
Tapi ketika sampai di sana, Christine tidak menemukan kakaknya di kamarnya.
"Kakak di mana? Kata ibu dia tidur. Kalau dia pergi, pasti aku melihatnya. Apa ibu berbohong lagi? Kakak ada di mana? Astaga... lama-lama aku bisa tidak waras karena semua ini."