
Hari demi hari Christine selalu menuruti semua yang diucapkan oleh anak laki-laki itu. Dia tidak pernah keluar rumah dan hanya sibuk bekerja dan berdiam diri di rumah menunggu anak laki-laki itu pulang sore harinya. Sesekali dia berkhayal sambil memandangi poster idolanya untuk mengusir kebosanannya.
Namun suatu hari, dia tidak sanggup lagi mengendalikan kebosanannya. Dulu dia sangat aktif dan pekerja keras. Tapi di tempatnya sekarang, dia tidak diperbolehkan bekerja mencari uang. Dan itu lama-lama membuatnya jenuh.
Akhirnya, dia pun pergi diam-diam dan berjalan cukup jauh dari tempat tinggalnya. Itu sangat kotor dan kumuh. Banyak anak-anak kecil bermain-main di dekat tumpukan sampah. Tapi dia tidak berani menyapanya.
Lalu dia pergi lebih jauh lagi dan menyusuri gang-gang kotor dan sempit. Tapi yang dilihatnya tidak jauh berbeda. Banyak lalat berkerumun di sekitar got. Tak ada tempat yang lebih baik sejauh dia memandang.
Maka dia mulai merindukan kampung halamannya dan membayangkan betapa indahnya dulu tempat dia tinggal. Begitu sejuk dan bersih karena banyak pepohonan. Meski itu sangat terpencil, tapi dia senang karena bisa menikmati keindahan perbukitan yang menjadi lahan garapan orang-orang di kampungnya.
Dia mengenang, dulu setiap kali dia mendapat uang, dia akan gunakan itu dengan bebas demi kesenangannya. Namun kini, dia tidak bisa melakukannya karena tidak punya uang.
Dulu dia rela mengurangi uang makannya demi itu semua. Dia bahkan sering kurang tidur demi bisa berselancar di sosial media sampai tengah malam.
Namun kini dia tidak memilikinya karena kepala desa mengambilnya saat dia tertangkap dan diadili di balai desa.
Kini dia sangat bergantung hidup pada kebaikan hati anak laki-laki itu yang kini dianggapnya sebagai kakak.
Tapi sementara itu, di kampung tempat dulu dia tinggal, berita kematian tentang pria jahat itu berangsur-angsur hilang dan terlupakan. Ke lima istri pria itu pun sudah melupakan balas dendamnya. Kini mereka sudah memiliki kehidupan yang baru di tempat yang baru. Ada yang menjadi pembantu rumah tangga di rumah seorang camat, ada yang menjadi buruh tani di ladang orang, dan ada juga yang menjadi istri ke tiga. Mereka tak tinggal bersama lagi seperti dulu.
Sedangkan si bapak hansip itu, dia meninggal karena serangan jantung. Orang-orang belakangan mengetahui siasat liciknya membebaskan Christine dan menghakiminya. Namun saat dia diadili, kematian lebih dulu menjemputnya.
Terkadang, dia sangat ingin kembali ke kampung halamannya. Tapi itu sudah tidak mungkin karena dia harus membayar semua pengorbanan anak laki-laki itu.
__ADS_1
Tidak semudah itu baginya untuk pergi setelah semua hal baik yang dia dapatkan dari anak laki-laki itu.
**********
Lalu saat hari mulai gelap, dia cepat-cepat pulang karena takut kakaknya akan marah. Tapi sayangnya, kakaknya sudah tiba lebih dulu. Maka begitu dia sampai di depan pintu, anak laki-laki itu langsung menarik tangannya dengan kesal dan membawanya masuk. Lalu dengan bahasa isyarat dia berkata,
"Kenapa kau keluar rumah?
Aku kan sudah peringatkan! Kenapa kau tak menghargai perasaan ku?
Aku sudah bekerja keras untukmu.
Apa kau tidak bisa menghargainya?"
Setelah hati bocah itu tenang, dia kemudian menjelaskan kenapa dia pergi. Dia juga memohon agar bocah pemulung itu memperbolehkannya membantunya memulung agar tidak bosan. Namun tetap saja bocah itu bersikeras tak mengizinkannya. Dia juga berjanji akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa membahagiakan Christine. Dia berkata,
"Sudahlah! Lebih baik kita makan. Kakak membawa nasi bungkus untuk kita berdua. Hari ini kakak hanya mendapatkan sedikit uang. Tapi kakak berjanji akan bekerja lebih keras lagi agar adikku ini bisa makan enak."
Kemudian dia segera membuka bungkus makanan itu bahkan memberikan lauknya untuk Christine. Sedangkan dia hanya makan nasi putih. Meski Christine menolaknya, namun anak laki-laki itu tetap berkeras memberikannya.
Lalu setelah makan, anak laki-laki itu mengungkapkan kekhawatirannya bahwa dia tidak ingin kehilangan adiknya lagi. Karena itulah anak laki-laki itu memohon dengan sangat padanya agar tidak mengabaikan kata-katanya lagi.
Christine yang melihatnya begitu sedih, tak berani lagi berbicara membela diri. Dia hanya menerima dan menurutinya selagi itu membuat kakaknya bahagia.
__ADS_1
**********
Ke esokan harinya, dia bangun lebih pagi daripada anak laki-laki itu. Dia mempersiapkan segala keperluan anak laki-laki itu untuk memulung dan menaruhnya di dekat pintu agar mudah diambil. Tak lupa dia juga mengisi air minum ke dalam botol plastik kakaknya. Kemudian dia pergi membangunkan anak laki-laki itu.
Lalu setelah anak laki-laki itu bangun dan selesai membasuh wajahnya dan hendak pergi, Christine memberinya semangat dan meyakinkannya bahwa dia tidak akan pergi kemana pun. Dia berkata,
"Kak, aku berharap suatu hari nanti kehidupan kita berubah menjadi lebih baik. Aku janji tidak akan pergi kemana pun seperti semalam. Kakak tidak perlu cemas. Tapi fokuslah bekerja dan kumpulkan banyak uang."
"Yah adikku. Kakak juga berharap begitu."
Setelah itu dia pamit pergi. Dan benar saja. Ketika dia baru berjalan beberapa meter, dia melihat seorang wanita yang sudah berumur sedang mencari tukang kebun untuk membersihkan taman bunganya hari itu juga. Dan saat dia mendengar upah yang akan dia dapatkan, dia pun langsung lari mengejar wanita itu dan menawarkan diri.
Wanita itu pun tak keberatan menerimanya dan langsung membawanya ke halaman rumahnya. Di sana, dia bisa melihat betapa luasnya taman itu. Yang harus dia bersihkan. Lalu tanpa menunggu lama, dia segera pergi ke gudang dan mengambil peralatannya. Yaitu cangkul, dan sabit, lalu mulai membersihkan taman itu dari rumput-rumput liar.
Dia juga mengambil sapu untuk menyapu sampah dedaunan yang berguguran. Kemudian menggemburkan tanah di sekitarnya dan menyirami bunga-bunga itu.
Pemilik kebun itu pun sangat senang dengan pekerjaan anak laki-laki itu.
Lalu saat hari sudah sore, pemilik kebun itu memanggilnya dan memberinya upah. Pemilik kebun itu bahkan menambah upahnya dari yang dia katakan sebelumnya karena dia senang dengan pekerjaannya. Dia juga meminta agar bocah itu kembali besok untuk melanjutkan sisa pekerjaannya. Dia berkata,
"Nak, aku yang sudah tak punya daya lagi membersihkan seluruh taman bungaku ini. Mulai sekarang kamulah yang harus merawatnya, dan mengurusnya.
Dan mulai sekarang kamu tidak usah memulung lagi. Jadi datanglah besok pagi di jam yang sama. Karena aku melihat pekerjaanmu baik dan aku puas. Itulah kenapa aku menambah upahmu. Kamu adalah anak yang baik dan rajin."
__ADS_1
Mendengar itu, anak laki-laki itu pun senang dan menganggukkan kepalanya berkali-kali tanda setuju. Tak sabar ia ingin secepatnya pulang dan sampai di rumah agar bisa cepat menceritakan kabar baik itu pada Christine.