Gara-gara Sebuah Mimpi

Gara-gara Sebuah Mimpi
Part 18. Munculnya Masalah Lain


__ADS_3

Tapi ke esokan paginya, saat mereka hendak turun untuk sarapan, tiba-tiba wanita itu mendapat kabar bahwa perusahaannya sedang digeledah dan diperiksa oleh orang pajak. Mereka datang untuk menginspeksi perusahaannya.


Wanita itu sangat syok dan panik. Karena selama ini dia tidak pernah jujur melaporkan pajak perusahaannya. Meski begitu, dia bisa lolos selama bertahun-tahun sejak dia merintis perusahaannya.


Wanita itu berkata pada karyawannya di telepon dengan penuh emosi agar menyimpan semua buku besar mereka. Namun mereka sudah terlambat melakukannya. Orang pajak itu sudah lebih dulu beramai-ramai memeriksa semua berkas dan pembukuan mereka. Semua karyawan disuruh keluar seraya mereka menyita dan memasukkan semua berkas-berkas itu ke dalam box-box untuk mereka periksa lebih lanjut.


Tiba-tiba wanita itu jatuh karena tak sanggup lagi berdiri dan membayangkan situasinya yang berat. Dia teringat pada kata-kata pesaingnya beberapa waktu yang lalu yang juga seorang pria. Pria itu mengancam, jika dia tidak menyetujui suatu kesepakatan tertentu, maka dia akan membongkar seluruh rahasia perusahaannya. Itulah yang kini wanita itu alami. Dia sangat terguncang seperti mau mati rasanya karena telah menyepelekan ancaman pesaingnya. Dia menyangka itu hanya sebatas gertakan.


Christine tak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan ibunya yang terus berteriak marah. Dia hanya berharap agar suaranya tak sampai terdengar keluar sehingga memancing perhatian orang-orang di hotel itu.


Belakangan wanita itu diam dan cepat-cepat mengemasi semua pakaiannya.


"Ayo cepat bantu ibu. Bereskan semua barang-barangmu dan bersiap. Kita harus segera pulang." Ujar ibunya seraya sibuk mengurus semua barang-barangnya.


"Tapi ada apa bu? Kenapa ibu tiba-tiba panik dan marah? Apa yang sudah terjadi bu?"


"Diam dan turuti saja kata-kata ibu! Ayo cepat!" Bentaknya.


Maka dia pun segera melakukannya dan tak berani lagi bertanya.


Lalu setelah membereskan semuanya, tanpa mengganti baju lebih dulu, mereka segera check out dari hotel. Lalu wanita itu berlari menuju parkiran mobilnya, sementara Christine berdiri di loby sambil memegang koper mereka.


Ketika dia berhenti di depan loby, dia memerintahkan agar Christine cepat-cepat masuk. Setelah itu melaju dengan cepat menuju perusahaannya.

__ADS_1


Tapi sesampainya di sana, tidak ada lagi yang bisa dia perbuat untuk menyelamatkan nasib perusahaannya. Semua karyawan juga tampak kebingungan dan pasrah. Dia hampir saja pingsan melihat kondisi seluruh ruangan itu sudah kacau. 'Semua sudah hancur. Tak ada apa pun lagi yang bisa kuselamatkan.' Keluhnya sambil menangis. Sedangkan para karyawan, mereka hanya bisa diam dan tak berani berbicara pada wanita yang sedang menangis itu. Dan Christine, belakangan juga tak mampu lagi menahan airmatanya dan turut menangis melihat ibunya menderita.


Padahal baru beberapa hari mereka bahagia, tapi kini harus menghadapi bencana.


Karena membayangkan beban itu semakin berat, belakangan wanita itu tak mampu lagi bertahan dan akhirnya pingsan. Semua karyawan pun semakin panik. Lalu salah seorang dari mereka segera memanggil ambulans dan membawanya ke rumah sakit.


Di sana, wanita itu segera mendapat pertolongan. Anak itu senantiasa berada di sisi ibunya sambil berharap ibunya cepat sadar. Matanya tak berhenti menangis selama masa-masa sulit itu.


Lalu setelah menunggu beberapa waktu, wanita itu pun akhirnya menunjukkan tanda-tanda sadar.


"Bu, ibu baik-baik saja kan? Aku sangat takut." Ungkap Christine seraya terus menangis.


"Ibu baik-baik saja. Sudah jangan menangis lagi."


Tapi ketika dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Christine melihat kakaknya sedang menyuci mobil di sebuah bengkel yang jauh dari rumahnya.


Secara spontan dia berteriak memanggil kakaknya seolah tak memikirkan perasaan ibunya yang baru saja ditimpa bencana.


Wanita itu pun sakit hati dan marah melihat tindakan anaknya.


"Siapa yang baru saja kau panggil? Apa kau tidak memikirkan perasaan ibu sedikitpun? Ibu baru saja ditimpa kemalangan. Apa kau tidak kasihan pada ibu? Kau lupa dengan janjimu pada ibu? Setelah semua yang sudah ibu lakukan untukmu?" Tanyanya marah.


"Tolong maafkan aku bu. Aku tidak sengaja melakukannya. Sungguh aku tidak bermaksud begitu." Balasnya sambil memeluk ibunya.

__ADS_1


"Diam dan jangan peluk ibu. Apa matamu tidak bisa melihat kalau ibu sedang menyetir? Gara-gara anak itu kamu jadi bodoh!"


"Maafkan aku bu." Jawabnya tertunduk takut.


"Sebentar lagi kita segera akan sampai. Ibu mohon, nanti begitu kita sampai di rumah, kamu segera bereskan semua barang-barang kita. Dan tolong buatkan ibu secangkir teh! Ibu ingin duduk beristirahat di taman sambil memikirkan nasib perusahaan ibu."


"Baik bu." Jawabnya sambil tertunduk takut.


**********


Setelah mereka sampai, wanita itu langsung pergi ke taman untuk menenangkan diri dan merenung. Sedangkan Christine, dia segera melakukan semua yang ibunya suruh.


Tapi sebelum dia merapikan semua barang-barang mereka, dia terlebih dahulu menyeduh secangkir teh untuk ibunya dan membawanya ke taman.


Tapi dia tidak melihat ibunya di situ. Maka dia meninggalkan teh itu di sana dan pergi mencari ibunya ke berbagai ruangan. Tapi tak menemukannya.


"Ibu pergi kemana? Apa jangan-jangan dia kembali ke kantor? Tapi aku tidak mendengar suara mobilnya pergi." Ujarnya dalam hati.


Lalu dia pergi ke garasi dan untuk memastikannya.


"Mobil ibu ada di sini. Lalu kemana dia pergi? Apa dia pergi naik taksi? Ah, sudahlah. Lebih baik aku bereskan yang lain agar ibu tidak marah. Semoga saja masalah ibu cepat selesai."


Dia sangat bingung dan stress dengan semua yang terjadi tiba-tiba. Banyak pertanyaan menumpuk di kepalanya tapi tak tahu harus mencari jawaban pada siapa. Melihat ibunya yang kini stress sudah membuatnya takut. Apalagi jika harus bertanya tentang mengapa kakaknya pergi diam-diam dan bekerja di bengkel.

__ADS_1


__ADS_2